Minggu, 05 November 2017

Guruku


Guruku Inspirasiku

Teng teng teng.... Bel berbunyi tanda istirahat. Guru piket selalu siap mengecek jadwal jam pelajaran untuk memastikan bel sekolah berbunyi. Bel ini terbuat dari besi seperti kaleng tengkurap tergantung di pojok kantor sekolah, yang dipukul dengan batu/ besi panjang pertanda jam masuk, istirahat atau pulang sekolah.

Riuh ramai suara anak-anak di sekolah SD negeri ini. SDN Sawahan 2 terletak di lereng pegunungan Wilis yang suhunya dingin dan dipenuhi hutan pinus.  Mata pencaharian masyarakat disitu tentu saja bertani karena tanahnya yang subur dan sumber mata air melimpah. Yang tidak punya sawah atau ladang, bisa menyewa lahan orang lain untuk diolah dan hasilnya di bagi dua dengan sang pemilik lahan. Pilihan lainnya yaitu menyadap getah pinus,  menanam dengan cara tumpang sari memakai lahan perhutani. Pekerjaan lainnya yang bisa dilakukan yaitu mengambil hasil dari hutan seperti memetik jamur, memetik nangka, mengumpulkan daun pisang, daun pakis hutan, rebung bambu dan masih banyak lagi. Ada juga diselingi  berburu berbagai  macam binatang, ada ayam hutan, burung, monyet, rusa, babi hutan, harimau, singa dan lain sebagainya.  Setelah hasil hutan di dapatkan selain untuk makan sehari-hari, juga biasa dijual ke pasar untuk membeli keperluan lainnya.

“Yeeeeee, istirahat. Ayo ke tempat mbah mi”,  teriak salah satu murid.
 “Enggak ah, aku mau kesana aja......”, timpal yang lain. Warung mbah mi adalah favorit anak-anak, padahal jualannya tidak banyak, hanya jajan-jajan sederhana, tapi ada yang unik, yang tak dijual oleh pedagang lain. Makanan yang terbuat dari tepung singkong. Bukan hasil olahan pabrik, tapi olahan sederhana dari mbah mi sendiri, mulai dari bahan bakunya sampai pengolahan dan pengemasannya. Singkong/ ketela pohon yang sudah dipetik, di kupas kemudian dimasukkan ke dalam karung untuk direndam di sungai. Jangan membayangkan iih, sungai nya kotor, untuk buang kotoran sampah, bau, dan lain sebagainya. Tidak!!

Sungai di tempat itu sangat bening airnya dan bersih karena memang langsung mengalir dari mata air di hutan. Perendaman singkong dilakukan kurang lebih 1 minggu. Setelah 1 minggu, singkong akan di jemur hingga kering, disebut gaplek (bahasa jawa).  Bila sudah menjadi gaplek, singkong akan  tahan lama untuk diolah menjadi makanan yang lain, seperti gathot (makanan pengganti beras), tiwul (hampir sama dengan gathot, hanya saja di sajikan dengan garam dan kelapa parut). Bahan gaplek inilah yang kemudian oleh mbah mi di tumbuh halus dalam lumpang (alat penumbuk yang terbuat dari kayu besar yang dilubangi) hingga menyerupai tepung. Tepung gaplek ditambah dengan bumbu-bumbu bawang putih, garam, ketumbar, garam, air diaduk secara merata, untuk kemudian di cetak berbentuk lingkaran-lingkaran seperti cincin. Setelah dicetak maka akan digoreng dan dikemas didalam kantong plastik kecil yang ujung plastiknya ditutup dengan tehnik menyulutkan ke lampu ublik (lampu yang terbuat dari sumbu kain dan berbahan bakar minyak tanah) dengan nyala api kecil dan dilengketkan dengan cepat menggunakan jari tangan. Dan, tarraaa....... Jadilah makanan unik ala mbah mi, dikenal dengan nama alen-alen. Prosesnya yang masih tradisional memang berpengaruh terhadap rasa alen-alen yang unik dan gurih, tapi keras!!

Waktu istirahat sekolah bagi anak seusia SD, seperti sebuah kebebasan, layaknya burung yang terlepas dari sangkarnya. Banyak kegiatan yang mereka lakukan, menghabiskan uang jajan, membeli jajan kesukaannya, bermain karet, kelereng, lompat tali, dakon, gobak sodor, dan permainan anak-anak desa pada umumnya. Meski demikian ada juga yang hanya ngobrol, bercanda, berkumpul mengelilingi guru favoritnya atau berkunjung ke perpustakaan sederhana milik sekolah dengan koleksi bukunya yang terbatas.

Aku pilih yang mana ya...... Bila uang jajanku masih ada maka aku lebih memilih untuk membelikan makanan kesukaanku alen-alen. Selain rasanya gurih, enak, juga keras. Sehingga tahan lama mengunyahnya, awet. Dimakan nggak habis-habis. Ini alasan yang polos ya...he he he. Selain itu juga karena ketika membeli alen-alen sering dapat bonusan dari mbah mi. Ssssttttt ini rahasia, karena sebenarnya mbah mi adalah saudara kandung dari nenekku.

Kalau lagi tak punya uang, aku akan mengubek-ubek buku perpustakaan. Segala macam buku ku baca dan yang paling cepat selesai adalah jika buku fiksi/ buku cerita yang kubaca. Ketika koleksi buku cerita sudah habis semuanya terbaca, barulah melirik buku-buku yang lain. Yang penting membaca. Suatu ketika ada kosakata di dalam buku yang tak kumengerti, maka aku akan menanyakan kepada guruku waktu di kelas 6 yaitu pak Rachmat. Ya, kegilaanku pada buku memang meningkat ketika kelas 6, hal ini bukan tanpa alasan. Selalu ada cerita di baliknya.
Pada suatu hari........ (Nadanya ala atuk-atuk malay ciee...)
Ada kosakata di dalam buku yang tak kumengerti, maka aku akan menanyakan kepada guruku waktu itu di kelas 6 yaitu pak Rachmat. Udah kusampaikan khan tadi.......

Satu waktu, itu hanya iseng tapi tanggapan dari pak Rachmat sungguh diluar dugaan. Beliau menjawab dengan senyuman, penuh antusias dan disertai pujian. Ya, ini poin nya. Hal itu menjadi cambukan semangat yang luar  biasa. Sehingga hari itu, besoknya, besok lagi dan seterusnya menjadi hari-hari yang tak terlepas dari buku. Hampir seluruh koleksi buku di perpustakaan, pernah ku baca. Walaupun kadang-kadang niat membaca bukan karena ingin tau isi bukunya, tapi karena ingin menemukan kosakata yang sulit yang bisa kutanyakan kembali kepada guru favoritku pak Rachmat, ingat ya pak Rachmat, pake “ch” ......
Ada satu kosa kata yang paling ku ingat sampai sekarang ini, ketika kenangan itu berlalu sudah lebih dari puluhan tahun yang lalu.
“Pak ngapunten, ndherek pirso, Niki nopo bedane antara Merajalela kalih Maharajalela?”, tanyaku.
(Pak maaf mau nanya, ini apa bedanya antara merajalela dengan maharajalela?)
“O, kalo maharajalela itu lebih dari merajalela.”, jawab pak Rachmat. Dan masih panjang lebar jawaban yang beliau sampaikan.

Berawal dari antusiasme pak Rachmat dalam menjawab pertanyaanku waktu itu, menjadi awal kebiasaan yang baik dan sangat berkesan. Tidak hanya buku-buku cerita saja yang akhirnya kubaca, buku-buku pelajaran pun selalu kubaca walaupun belum tentu saat membaca bisa langsung faham isinya. Dan berkat kebiasaan itu, sampai sekarang merupakan sebuah keasyikan tersendiri ketika membaca.
Efeknya, meski di kelas 1-5 aku bukan termasuk murid berprestasi jangankan masuk rangking 3 besar, masuk 10 besar pun tidak. Secara mengejutkan ketika hasil UN (Ujian Nasional) di umumkan, namaku di sebut sebagai peringkat ke 4 NEM tertinggi. Subhanallah, dari sinilah aku baru sadar ternyata kita bisa alah biasa. Dan akhirnya prestasi itu tetap bisa di pertahankan sampai di bangku perkuliahan. Buku jendela dunia. Buku adalah gerbangnya ilmu pengetahuan. Yang bisa kau lihat dan kau pahami dengan “MEMBACA”. Yukkkk Budayakan membaca.

Dan ketika tulisan ini Anda baca, guru favoritku pak Rachmat sudah tiada. Semoga Allah senantiasa mengampunkan segala dosa-dosa guru kami dan melapangkan kuburnya serta menerima segala amal baiknya. Terima kasih pak atas antusiasmu waktu itu, terima kasih atas pujianmu waktu itu. Terima kasih atas ilmu yang kau berikan, yang belum dapat kami memberikan balasan. Kini kami hanya bisa berbagi pengalaman, agar kami sebagai murid senantiasa mengingat jasa baik guru-guru kami. Dan sebagai guru, kami bisa meneladani hal sederhana yang pernah Bapak lakukan. Walaupun sederhana tapi ternyata efeknya ternyata luar biasa.
Terima kasih Pak Rachmat.....

5 komentar:

  1. serasa baca cerpen mb.
    hihihi.
    Keren mb.
    masih inget aja guru jaman SD.
    hihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih harus banyak belajar sama mbak desy, saye...

      Hapus
  2. Terimakasih sudah berbagi cerita mbak, jadi teringat masa sekolah hehe

    BalasHapus
  3. Nice story. Saat membaca, bisa memebayangkan tempat-tempat yang disebut :)

    BalasHapus

Aplikasi catatan keuangan di Android                           Aplikasi sed...