Senin, 18 Desember 2017

“Siapa sih Allah itu”

Allah wujud, qidam, baqa......
Mukhalafatu lil hawaditsi......
Qiyamuhuu binafsihi..... wahdaniyah qudrat iradat ilmu hayat
Sama’, bashor, kalam, qadiroon, muridaan, aliman, hayyan, sami’an, bashiron, muttakalliman

         Selesai adzan syair-syair ini sering diperdengarkan di mushola dan masjid dekat rumah. Sampai-sampai tanpa teks kami hafal diluar kepala. Bukan karena gak hafal ya, tapi karena saking hafalnya. Kini ketika sudah intensif belajar tentang agama Islam barulah faham, bahwa isi syair-syair itu ternyata adalah sifat-sifat wajib bagi Allah yang berjumlah 20. Makin belajar, makin banyak yang belum kita ketahui dan fahami.

                Pun demikian ketika terjun dan berkecimpung dalam dunia anak-anak, ada saja pertanyaan anak-anak yang kadang-kadang terlihat biasa aja. Tapi seperti permainan catur, SKAK MAT.  Terdiam beberapa saat, antara berpikir mencari jawaban yang tepat, biarkan saja, mengalihkan ke hal-hal lainnya agar si anak lupa dengan pertanyaannya, menyuruhnya berhenti agar bertanya lagi, atau bahkan mungkin kita malah marah. Huft....tarik nafas. Pertanyaan anak-anak yang biasa, sederhana tapi ternyata kritis yang membuat kita sering berfikir ribuan kali untuk menjawab dengan jawaban yang tepat sesuai umur mereka.
 
Siapa sih Allah?
Ketika anak balita bertanya, “Siapa sih Allah itu?”,
Jika pertanyaan itu ditujukan kepada Anda pembaca, apa jawaban Anda? Silahkan isi dikolom komentar................................
               
                Salah satu jawaban yang kita sampaikan bisa jadi, “Allah yang menciptakan kita nak. Yang menciptakan abi, ummi, kakek, nenek. Yang menciptakan bulan, matahari, pepohonan, binatang-binatang. Semua itu Allahlah yang menciptakan”.

                Pertanyaan lanjutan, “O, jadi yang menciptakan kita Allah ya, kakak, Abi, Ummi yang ciptakan juga Allah.Tapi itu dedek kok keluar dari perut Ummi. Berarti Ummi yang ciptain dedek ya. Trus  Allah siapa yang menciptakan?
Subhanallah....banyak yang belum kita ketahui...... menjawab pertanyaan yang sederhana ini pun kita belum pandai. Jika tak tahu jawaban yang tepat, jangan pura-pura tahu dan jangan gengsi bila kita memang belum tahu, jujurlah pada diri sendiri dan juga pada anak. Dikhawatirkan nanti timbul statement yang menyesatkan. Alternatifnya ajaklah sikecil untuk mencari jawabannya bersama-sama, bisa dengan mencari referensi buku-buku, melalui internet, sosmed, google, bisa juga dengan mengajak si kecil mengaji dan bertanya kepada yang lebih ahli.

“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggung jawabannya.” (QS. Al Isra:36)

Seorang anak balita cara berpikirnya jelas berbeda dengan anak remaja dan orang dewasa. Bila ada pertanyaan yang demikian, “Kenapa ya kita harus menyembah Allah?”

Bila yang menanyakan hal ini adalah anak remaja atau orang dewasa, kita bisa menjawabnya berdasarkan dalil Al Qur’an dan Hadist.
Kita menyembah Allah karena ada dasar Al Qur’an dan Hadisnya antara lain:
 “Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah:5)
“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An Nisa:36)
“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Sudah disini bahwa kita hanya boleh menyembah Allah saja, karena Allah dan Rasulnya pun telah menyampaikan agar kita jangan mempersekutukannya.

Kembali ke pertanyaan, “Kenapa ya kita harus menyembah Allah?”. Jika yang bertanya adalah seorang anak balita, jawaban berupa dalil Al Qur’an dan Hadist kurang tepat karena daya pikir mereka belum bisa menalar hal ini. Jawaban saya ini mungkin bisa jadi alternatif.
“Adik pernah lihat nggak orang sakit yang dirumah sakit itu? Sakitnya macam-macam loh. Ada yang batuk, pilek, kepalanya sakit, perutnya sakit, dan lain lain. Ada yang harus disuntik, dikasih obat, ada juga yang dioperasi. Sekarang lihat kita ni dik. Alhamdulillah kita tidak sakit. Bersyukurlah karena kesehatan ini pemberian dari Allah. Bayangkan kalo kita sakit, kita harus bayar mahal agar sehat. Obatnya beli, nginap dirumah sakit harus bayar, disuntik apalagi dioperasi musti bayar mahal loh. Kita menyembah Allah bukan karena Allah butuh kita. Tapi karena kitalah yang membutuhkan Allah.”

Betapapun banyak teori bagaimana cara mengenalkan Allah kepada putra putri kita, terkadang juga menemui tantangan yang tidak sedikit baik itu berupa perkembangan teknologi yang memaparkan hal-hal yang berlawanan dengan konsep Ketuhanan maupun  lingkungan yang kurang kondusif. Terkadang kita sendiripun secara sadar maupun tak sadar pernah mengalaminya.

Pernahkah mendengarkan kalimat-kalimat seperti di bawah ini:
“E......  Kok suka berantem. Coba akur. Diam ya. Mau kena marah sama Allah.”, salah satu perkataan seorang ibu.
“Ayo..ayo...duduk yang rapi. Siapa yang tidak rapi itu tandanya tidak sholeh. Anak yang tidak sholeh nanti terkena murka sama ...Allah.”, kata seorang guru.
“Dik....dibilangin kok enggak denger ya dik. Adik mau kena marah sama Allah, gara-gara adik nggak denger kata ibu?”, perkataan seorang ibu kepada anaknya.
“Hm, jangan kayak gitu ntar kena azab Alloh lo!”

Astaghfirullah ...... pernahkah kita mendengar kata-kata seperti ini?
Pernah atau sering ? Memang maksudnya mengarahkan anak untuk berbuat kebaikan. Agar anak tidak berkelahi,  bisa duduk rapi, mendengarkan perkataan ibunya. Tapi tahukah Ayah Bunda, secara tak sengaja kita mengenalkan nama-nama Allah hanya pada hal-hal yang negatif. Seolah-olah Allah itu selalu marah, selalu murka, bentar-bentar azab, bentar-bentar surga, neraka. Astaghfirullah.......
Bila hal ini sering kita lakukan  jangan sampai berlarut-larut demikian. Jangan sampai mereka tidak tahu nama-nama Allah yang baik. Bahwa Allah itu Arrahman, Arrahiim, Al Malik..... dan seterusnya. Allah yang Maha Pengasih yang mengasihi seluruh makhluknya.

Jangan mereka hanya mengenal Allah dengan hal-hal negatif, sehingga ketika besar mereka ingin jauh dari Allah.
Jangan sampai mereka menentang Allah
Jangan sampai mereka tidak mengenal kebaikan Rabb nya
Jangan sampai mereka tidak mengenali rahmat dan rahiimnya Allah
Jangan sampai mereka mengenal Allah hanya ketika terjadi keburukan pada dirinya

                Disinilah kita harus mengimbanginya dengan mengenalkan segala kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Mengajak mereka bersyukur dengan cara beribadah dengan penuh kelembutan, mengawali setiap perbuatan baik dengan basmalah, lebih sering memperdengarkan bacaan al Qur’an daripada nyanyian, mengenalkan keindahan penciptaan Allah baik berupa apa yang ada pada anggota badan maupun alam sekitar yang luas terbentang.

Pemaparan ini ibarat sebutir pasir di padang gurun.
Terima kasih  Mbak Ulfa yang sudah  menentukan temanya kali ini.


20 komentar:

  1. MasyaAllah,,,tentang Allah memang harus hati2 ya, Mbak. Jangan sampai salah penjelasan malah menciderai fitrah keimanannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengetahuan kami masih secuil .... mesti banyak-banyak belajar. Semangat....

      Hapus
  2. Disesuaikan dengan usia dan taraf pemahaman ya mb..step by step. MasyaAllah. Nambah ilmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes banget... bukan pertanyaan mereka yang menyesuaikan diri dengan pengetahuan kita. Tapi kitalah yang harus menambah pengetahuan dan wawasan sehingga bisa memberikan edukasi yang tepat

      Hapus
  3. mba lumi ini terlihat banget ya penguasaan ilmu agamanya.
    suka deeeh..
    barakallah mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih tahap terus belajar mbak desy... masing banyak kurangnya...

      Hapus
  4. Masyaallah.. terimakasih sharing ilmunya mba Lumi...

    BalasHapus
  5. Jalan-jalan, jd bnyak dpt ilmu.. terimakasih mba Lumi..

    BalasHapus
  6. jazakillah ilmunya mb lumi,,,,,

    BalasHapus
  7. Sebelum mendidik anak, kita sebagai ibu juga harus banyak belajar dulu dan terus belajar bersama. Jazakillah ilmunya mb lumi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mendidik bukan sesuatu yang mudah. Sepakat deh bahwa kita memang pembelajar ya mbak safri

      Hapus
  8. Kalo aku sering mengganti kata " nanti Allah marah" dg kata " nanti Allah ga sayang" . Ya aky ibu nya, tapi kalo orang lain ,masyaallah ya kadang kita ga bisa nge rem mulut orang lain,

    BalasHapus
    Balasan
    1. good trik. hm mbak putri jualan rem mulut nggak....xixixi

      Hapus
  9. Noted. Jgn mengenalkan Allah melalui hal2 yg negatif.
    Makasih mba lumi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak .... lets be positive

      Hapus
  10. Terima ksh mba lumi... inspiratif

    BalasHapus
  11. Setuju banget mb, berusaha sekuat tenaga memang untuk "jaga mulut" dari imaji2 negatif begitu ya ... stay positif ...semangat!!

    BalasHapus
  12. Dapet ilmu lagi Dr mba lumi,makasih mbaa😘

    BalasHapus