Minggu, 03 Desember 2017


Trik Bangun Pagi si Kakak

Menciptakan sebuah rumah layaknya surga.........
Bukan perkara mudah bukan?......

Baiti Jannati. Sering kita dengar kata-kata indah ini harapan bagi semua orang. Memang, itu bagian dari do’a-do’a kita sehari-hari walaupun dalam prosesnya selalu ada kerikil-kerikil yang membuat kita tersandung. Terkadang jatuh sakit karena sandungan. Dibalik ujian ada hikmah yang luar biasa. Ujian membuat kita semakin pintar, semakin cerdas dan semakin bersemangat untuk terus menimba ilmu tiada kenal waktu.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. As-Syarh 94:6)

Alhamdulillah......  Yang sering kita dengar ceramah/ tausiah dari alim ulama, kondisi surga nikmatnya tak terbayangkan oleh kita. Seenak-enaknya di dunia, lebih enak disurga. Sedikit gambaran kehidupan surga, tak ada kata-kata yang kotor, tak ada teriakan, tak ada pertengkaran, tempatnya bersih, suci, sesama penghuni surga saling senyum dan sapa. Apakah itu sudah tercipta di rumah kita.

                Jangan berkecil hati. Kita semua sedang berusaha menciptakannya. Walaupun kondisi rumah tak pernah sepi dari teriakan si kecil rebutan mainan dengan kakaknya, atau kakaknya sengaja menggoda si adik. Rumah rapi hanya bertahan 10 menit kemudian berantakan lagi. Tak bertahan lama karena  mainan dikeluarkan dari kotaknya,  ekspresi ide-ide kreatif si kecil yang tiba-tiba muncul. Belum tumpukan baju yang kadang suka ditaruh sembarangan. Sisa makanan yang berserakan. Huft...... Menambah panjang daftar pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Bila seorang ibu sendirian yang mengerjakan mau sampai kapan itu akan kita lakukan. Maka sudah saatnya kita mengajak seluruh anggota keluarga untuk mengerjakan bersama-sama. Bantuan kecil mereka sangat bermakna dan bagi si kecil itu merupakan langkah awal dari latihan skill kemandirian.

                Bagi saya dengan 3 anak gadis kecil, latihan-latihan kemandirian itu sedikit demi sedikit saya terapkan. Walaupun terkadang dalam beberapa hari bisa berjalan dengan lancar, tapi di hari berikutnya sudah tidak konsisten lagi. Memang perlu keistiqomahan.

               
                Ada salah satu hal unik ketika melatih kemandirian mereka. Ini terjadi pada anak kedua saya  yang berumur 7 tahun. Dina panggilannya. Bila saya membangunkan dengan cara yang biasa, ekspresi mukanya bisa cemungut manyun dan ditambah lagi lama...... baru bangun pagi. Dan alhamdulillah saya menemukan cara untuk membangunkan si kakak dengan cara yang membuatnya tidak manyun lagi dan juga lebih cepat dari biasanya.

                Ketika di kamar saya akan menyentuh pelan-pelan tangannya, sambil memanggil dengan pelan, “Kakak Di...na..... Kak....ayuuk.... yuk bangun. Mau barengan sholat subuh nggak?” Ucapan disertai senyum. Panggilan ini biasanya diulang 2-3 kali. Panggilan pertama membuatnya membuka mata, kemudian uniknya di panggilan ke-2 barulah si kakak mau bangun tapi selalu minta tangan di tarik sampai  posisi badannya duduk atau berdiri.  Biasanya selalu saya katakan duduk dulu baca do’a setelah beberapa menit baru berdiri.

                Bila saya terlupa menarik tangannya seperti posisi menolong orang untuk duduk atau berdiri, pagi-pagi si kakak jadi bad mood. Yang mengakibatkan rengekan/ tangisannya. Subhanallah ternyata hal sederhana menurut saya, tapi penting untuk si kakak.

                 Apakah cara ini bisa diterapkan untuk kedua anak saya yang lain. Ternyata tidak karena setiap anak punya keunikan sendiri untuk mengungkapkan keinginannya untuk diperlakukan seperti apa. Cara unik membangunkan si kakak ini bisa saya katakan sebagai salah bahasa kasih di antara kami. Dan masih banyak sekali bahasa-bahasa kasih yang bisa kita ciptakan dan terapkan. Jujur kami pun masih harus banyak belajar dan bertanya kepada ibu-ibu yang sudah lebih banyak pengalamannya daripada kami yang masih harus banyak-banyak instrospeksi diri ini. Semoga kita sebagai ibu bisa mendorong terciptanya “Rumahku Surgaku”.


Note :
Terima kasih untuk kepala suku Institut Ibu Profesional Batam Mbak Erli, yang sering berbagi ilmu-ilmu dan mantra-mantra kasihnya dalam keluarga. Untuk ilmu dan mantra yang lain, Click here https://mamakrucilsblog.wordpress.com

18 komentar:

  1. Setiap anak unik ya mba. Tp kadangkala umi nya aja yg pengen nyobain dulu ke adek bahasa kasih yg sama dan banyakkan gatot nya hehehe

    BalasHapus
  2. SETUJU mbak eka. setiap anak memang unik

    BalasHapus
  3. Kadang saya ga sadar sadar kalau setiap anak itu unik.hadueeeee

    BalasHapus
  4. kadang-kadang juga lupa kalo anak jaman now berbeda dengan anak jaman old

    BalasHapus
  5. Penyakit mamaks, nganggap anak sama, dg mudahnya dibedakan, padahal tiap anak unik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak juli, tiap anak memang berbeda sehingga membuat kita terpacu untuk belajar dan belajar

      Hapus
  6. cerita unik kaya gini insyaAllah pasti akan menjadi kenangan indah di hati anak-anak kelak

    BalasHapus
    Balasan
    1. smoga lebih banyak lagi kenangan indah yang bisa kita ukir bersama buah hati

      Hapus
  7. bisa membayangkan keseruan bersama 3 gadis cilik.
    jadi pengen punya gadis juga nih.
    hihihi.

    selamat ya mba.
    akhirnya launching domainya.
    hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus banyak belajar dari para mastah.... yang udah banyak asam garamnya ni...

      Hapus
  8. Unik banget ���� menambah khasanah pengalaman saya setelah baca ini.... walo anak saya mash baby tapi hal2 unik spt ini tidak Akan d dapatkan tanpa mba mau berbagi.... terima kah mba lumi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga mbak ovi... pengalaman mbak ovi juga bakalan unik sebanyak 1001 keunikan

      Hapus
  9. Setuju mbak, keunikan2 mereka yg membuat kita ga habis belajar ya kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. BTW setelah dibaca ulang, emang bener banget ya ... kita seringnya terburu-buru membangunkan mereka. ngaca lagi, mulai lagi membenahi diri ...thanks for sharing mb Lumi

      Hapus
  10. Nah anak saya juga sama nih teknik bangunkan dari tidurnya kayak Kakak Dina. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita juga sama-sama mbak lina, seorang ibu ...

      Hapus
  11. makasih sudah berbagi ya mbaa, salam untuk gadis2nya

    BalasHapus