Rabu, 21 Februari 2018

Indonesia .....ah Indonesiaku sungguh terlalu

                Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya yang membuat iri negara lain. Indonesia memiliki ribuan pulau yang mengandung emas, logam, gas, minyak serta alam yang indah dilengkapi dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Tentu saja kekayaan lautnya yang melimpah ruah terkadang membuat kapal nelayan negara tetangga senang menyebrang ke negeri ini.

                Logikanya dengan kekayaan sumber daya alam ini, Indonesia harusnya menjadi negara yang maju bisa berdikari, mandiri, tidak perlu bantuan negara lain lagi dan tidak perlu berhutang yang dibebankan kepada anak cucu pada masa yang akan datang. NOL besar ternyata salah. Pola pikir beberapa para petinggi negeri ini yang bisa di manipulasi dan dibeli, membuat negeri ini semakin terpuruk. Kandungan emas di sebuah pulau,  harusnya bisa membuat pulau itu kaya dan maju. Tapi entah dengan birokrasi apa, dengan aturan apa, dan dengan dalih apa. Sebuah perusahaan Asing bisa mengeruk emas yang ada disana untuk di ekspor ke luar negeri, dan produknya dipasarkan dan  Indonesia menjadi salah satu konsumennya. Aku gigit jari.  Siapa yang dibodohi.

                Sebuah pabrik sepatu di Indonesia memproduksi barang  kemudian di ekspor ke luar negeri  tanpa label. Kemudian oleh sang pembeli, sepatu tanpa label tersebut di beri label merk tertentu dan di packing. Terakhir sepatu bermerk tersebut dilempar ke pasaran Indonesia, orang Indonesia ramai-ramai membeli. Tentu dengan harga yang lebih mahal. Aku gigit jari. Siapa yang dibodohi.

                Di negara lain, pengamanan  berlaku sangat ketat di bandara maupun di pelabuhan yang merupakan perbatasan negara dan akses masuk bagi para pendatang  serta ekspor impor barang. Sehingga di negara lain, sedikit barang haram seperti narkoba bisa lolos dengan hitungan beberapa kilo. Tapi di Indonesia, kok bisa barang haram bisa lolos berton-ton jumlahnya. Aku gigit jari. Siapa yang dibodohi.

                Di negara lain, seorang atlet olahraga yang sudah berprestasi mengharumkan  nama bangsa akan dihargai sedemikian rupa dan dijamin perekonomiannya oleh negara. Tapi dinegeriku ini, jangan heran bila mendengar seorang atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa ini ke tingkat dunia, di masa pensiunnya malah menjual penghargaan yang dimilikinya hanya untuk bertahan hidup. Miris. Aku gigit jari. Siapa yang dibodohi.
               
                Di negara lain, sebuah budaya sekecil apapun akan dilestarikan dan diberikan hak paten. Tapi di sini Anda akan jumpai, budaya itu ada sejak dahulu kala, turun temurun tapi kurang diberdayakan dan terkadang diabaikan. Merasa kepanasan bila budaya tersebut diakui sebagai budaya negara lain. Ah kamu, dari dulu kemana aja. Aku gigit jari.....mulai pintar.

                Di negara lain, sebuah museum akan sangat diperhatikan oleh pihak yang berwenang. Dirawat dilestarikan dan diberi perhatian. Di tempatku, jangan heran bila museum itu berdebu, penuh coretan, kemudian barang-barangnya rapuh satu per satu. Di pojok ruangan satu persatu mulai dirajut sarang penangkap serangga. Aku mulai berpikir.......

                Di negara lain, orang berusaha menciptakan lingkungan yang bersih dan rapi. Sehingga mereka pandai memilah dan memilih sampah sampai mengolah kembali. Bahkan difasilitasi oleh negara. Tapi ditempatku. Ah sudahlah.... banyak orang yang ingin lingkungan bersih dan rapi. Tapi tak banyak yang ingin menciptakannya. Membuang sampah entah kemana tak peduli. Sampah  segala rupa dicampur menjadi satu. Yang penting buang-buang sampah itu tanpa peduli akan berakhir kemana sampah ini. Pernah kan lihat ada kebanjiran gara-gara sampah yang menyumbat di selokan. Sampah menumpuk di tempat pembuangan sementara, meluber sampai ke badan jalan penyumbang aroma yang berbeda. Aku tutup hidung.... tak tahan....


                Tapi tenanglah itu hanya sedikit tragedi yang tergambar dari kacamata yang kacanya mulai retak dan buram, sehingga terkadang sudah tak jelas lagi ketika digunakan untuk melihat. Tragedi yang lain masih banyak tapi saat ini hanya itu saja yang ingin kusampaikan. Pada saat yang sama, masih ada minoritas di negeri ini yang tertatih-tatih berteriak pelan, sedang dan lantang untuk membuka mata pihak-pihak yang berwenang dan mengajak siapapun yang bisa di ajak. Meski aku tidak bisa berteriak dan hanya bisa bergumam. Aku ingin menjadi minoritas itu yang tetap memiliki semangat untuk bangkit agar Indonesiaku tidak terlalu.....

Selasa, 13 Februari 2018

Objek Wisata Paling Terkenal di Kota Nganjuk Jawa Timur

Anjuk Ladang sebutan untuk kota Nganjuk daerah sejuk nyaman, bersih indah aman dan tentram.  kota kecil di Jawa Timur ini. Belum sah rasanya bila di kota Nganjuk tapi belum mampir ke tempat wisata yang satu ini. Karena bila membahas perihal objek wisata yang ada di Nganjuk, posisinya selalu ditempatkan di nomer urut yang pertama. “Air Terjun Sedudo”





Kondisi beberapa tahun yang lalu sumber: https://3.bp.blogspot.com

Kurang lebih berjarak 32km dari pusat kota Nganjuk dengan jalan yang berliku-liku menuju Desa Ngliman, kec. Sawahan. Air terjun sedudo ini berada dilereng gunung Pegunungan Wilis. Yang berbatasan dengan Kota Kediri, Trenggalek dan Madiun.

Bila ingin pergi ke objek Wisata Air Terjun Sedudo, ada beberapa pilihan transportasi yang bisa digunakan. Bisa naik angkutan umum jurusan Sawahan kemudian naik ojek hingga ke tempat wisata. Bisa juga naik travel. Lebih murah bila naik kendaraan sendiri asalkan tetap hati-hati karena jalanan yang berkelok-kelok dan tegak dengan kemiringan mencapai 45%.

Dari Terminal Baru –Nganjuk bisa menempuh perjalanan melalui pusat kota Nganjuk yaitu Jl. A. Yani lurus ke arah Loceret. Dari simpang tiga Loceret belok ke kanan, ke arah Desa Berbek (Pasar Berbek). Setelah pasar Berbek ke arah puskesmas Berbek, di lampu lalu lintas berikutnya belok kiri lurus. Menyusuri setiap meter jalanan aspal berikutnya Anda akan menjumpai persimpangan Jembatan Kuncir, silahkan belok kanan.  Dari sini perjalanan akan semakin mengasyikkan karena pemandangan di sepanjang jalan, sungai yang memanjang dengan bebatuan khas sungai yang berwarna hitam, sawah-sawah yang luas, jalanan aspal yang berliku-liku terkadang terdapat tikungan yang tajam, saya sarankan kurangi kecepatan kendaraan. Lumayan jauh berkilo-kilo meter.

Setelah sampai di terminal Sawahan, persiapkan diri dengan :

1. Mengecek kendaraan
Kendaraan baik roda 2 ataupun roda 4 pastikan kondisinya serta bahan bakarnya serta sopir yang mumpuni. Perjalanan selanjutnya tidak hanya disuguhi pemandangan yang lebih indah tapi juga andrenalin yang semakin meningkat. Jalanan berliku plus tanjakan yang tajam. Perhatikan notice dari petugas tiket yang akan Anda jumpai di desa Ngliman, apakah tempat wisata sedang dibuka atau tidak, saat itu kondisinya berbahaya atau tidak. Waktu yang tepat untuk main ke sana adalah musim kemarau. Disaat musim hujan, masih sering terjadi longsor batu. Tapi bila sekaligus ingin melihat “Prosesi Siraman Air Terjun Sedudo” datanglah pada tanggal 01 Suro (01 Muharram) pada penanggalan Jawa. Di bulan Suro, pengunjung Wisata ini biasanya membludak. Dengan pengunjung yang berbondong-bondong datang kesana, beramai-ramai naik bus.

2. Membekali diri dengan makanan dan minuman serta baju hangat/ jaket serta baju ganti bila Anda berniat mandi di air terjun nanti.
Suhu di area wisata sangat dingin, penting bagi pengunjung  yang tidak tahan dengan suhu yang dingin agar mempersiapkan baju hangat atau jaket. Makanan dan minuman memang tersedia banyak dijual oleh para pedagang di sekitar area wisata. Tapi karena jaraknya jauh dengan pemukiman penduduk otomatis harganya lebih mahal daripada biasanya.

3.  Bekal uang
Tidak banyak-banyak tapi cukuplah untuk membeli sesuatu yang “enak” di area wisata ini. Makanan enak yang dimakan dalam kondisi suhu yang super dingin.

Mengecek kendaraan, bekal makanan, minuman serta baju hangat berjalan perlahan ke arah desa Ngliman langsung Anda temui perjalanan yang menanjak naik. Kemudian menurun lagi sampai di Jembatan, menanjak lagi dengan tikungan yang tajam. Disini bagi orang-orang yang tidak biasa melewatinya silahkan super hati-hati. Dan untuk perjalanan berikutnya kondisi jalanan nya relatif sama. 

Pemandangan di kanan kiri perjalanan Anda akan melihat banyaknya sawah dan ladang penduduk, yang ditumbuhi berbagai macam tanaman baik itu padi maupun tanaman tumpangsari. Ada juga tanaman bunga mawar, yang ketika bulan Ramadhan harganya lumayan mahal. Banyak terdapat pohon cengkeh yang merupakan komoditas penduduk di Kecamatan Sawahan. Pohon cengkeh banyak diambil manfaatnya dari batang, daun maupun bunganya bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Di kecamatan Sawahan sendiri terdapat beberapa pabrik penyulingan minyak cengkeh yang dihasilkan dari daun cengkeh yang rontok (baik daun hijau maupun daun yang sudah kering).
Selain pemandangan berupa sawah ladang para penduduk, terdapat pemandangan yang mendominasi yaitu pegunungan Wilis yang tinggi menjulang dihiasi oleh pohon pinus. Ya.... dimana-mana ada pohon minus. Khususnya di area hutan. Pohon-pohon ini adalah milik Perhutani yang bisa diberdayakan oleh para penduduk dengan cara, para penduduk bisa merawat pohon dan areal sekitar hutan dengan ditanami tanaman lain seperti jagung, jahe, dilem, dan lainnya serta menyadap pohon pinus yang hasil sadapan getahnya dijual ke Perhutani. 

Mendekati  areal tempat wisata Air Terjun Sedudo, sudah mulai terdengar gemuruh suara air terjun. Di kejauhan kita juga sudah bisa merasakan rintik-rintik gerimis dari air terjun. Hawa dingin mulai menggigit tulang. Dari areal parkir kita sudah bisa mengintip pemandangan air terjun ini. Semakin melangkah mendekati, di pinggiran pagar areal parkir motor kita bisa melihat pemandangan air terjun ini secara utuh. Untuk mencapai air terjunnya silahkan pelan-pelan sambil menyiapkan kamera, menuruni anak tangga yang dikanan kirinya terdapat para penjual makanan dan minuman. Dingin-dingin minum kopi, makan jagung bakar plus gorengan....... wahhh nikmatnya. Tidak itu saja, teruskan perjalanan Anda sampai di dekat kolam air terjun ini. BRRRRRR dingin yang semakin menusuk tulang. Kalau tadi dinginnya menggigit tulang sekarang serasa ditusuk oleh dinginnya suhu air terjun.

Dingin. Dingin. Sensasi yang lebih lagi bila Anda turun ke kolam atau mandi langsung di bawah terpaan air terjun Sedudo. Silahkan acungkan jari bila tahan selama 30 menit berdiam dibawahnya. Saya jamin bibir berwarna biru-biru, jari-jari tangan menjadi “kisut” mengkerut, saking dinginnya. Tapi tenanglah bila tidak membawa baju ganti, disana banyak orang berjualan baju bertuliskan “Air Terjun Sedudo” yang bisa jadi oleh-oleh sekaligus kenang-kenangan.
Nasi jagung khas Sedudo

Lapar-lapar. Jangan lupa yang satu ini. Makanan mie rebus atau mie goreng instan yang biasa dibuat ketika tanggal tua, kenikmatannya tiada tara dan terasa berbeda ketika dimakan setelah mandi di wisata ini. Tapi bukan itu referensi saya, karena mie instan bisa dimakan dirumah. 

Rasakan, cobalah, cicipi dan nikmati makanan yang  satu ini. Disebuah pondokkan didekat kolam air terjun beberapa pedagang makanan ini berjejer dengan bungkus daun pisang atau daun jati. Makanan yang mengandung karbohidrat “Nasi Jagung”. Nasi jagung yang terbuat dari jagung yang ditumbuk halus menjadi tepung kemudian di masak sedemikian rupa hingga menjadi nasi jagung. Rasa nasi jagung cenderung tawar, tidak pulen seperti nasi dari beras. Lauk nasi jagung ini yang khas adalah urap daun kemiri dan lamtoro/ petai cina, ikan asin goreng, rempeyek. Tapi banyak juga pilihan lauk nya yang lain, jangan lupa air minum. Jangan sampai makanan nyangkut di tenggorokan atau di dada. Makan saja pelan-pelan, nikmati, sambil merasakan dinginnya hawa areal wisata Air Terjun Sedudo.

Come here.

Sabtu, 10 Februari 2018

Film “Cinta Suci Zahrana”
               
Novel karya Kang Abik, selalu menjadi best seller bagi para pembaca. Dan banyak novel-novel karya beliau yang digarap serius menjadi sebuah film termasuk “Cinta Suci Zahrana” .
Al kisah, seorang gadis yang sudah mapan secara karier sebagai dosen berprestasi di sebuah universitas serta mendapatkan penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Namun hal itu bukanlah sesuatu yang membanggakan, bukan kebanggaan khas “orang desa” seperti kedua orang tua Zahrana.

                Lingkungan tempat tinggal Zahrana adalah sebuah daerah yang bisa dikatakan tidak semuanya berpikiran sama. Bagi sebagian orang adalah aib bila ada gadis yang sudah berumur 30 tahun lebih tapi belum menikah. Hhhhh.... apalagi bila daerah yang kolot, bila sudah umur 7 tahun atau lulus SMA pilihannya hanya ada 2 yaitu bekerja atau menikah. Umur 20 tahun keatas sudah mulai banyak pertanyaan,  “Kapan nikah..kapan nikah”. Lewat umur 25 tahun seperti lampu kuning lalu lintas... ayo ayo cari jodoh. Lewat umur 30 tahun,  orang tua mulai mengurut dada sambil menjawab pertanyaan para tetangga. Anaknya kok belum nikah, hati-hati lo nanti perawan tua.

                Rana, demikian panggilan untuk gadis semata wayang pak Munadjat yang sukses. Ketika lulus dari dengan predikat terbaik dari UGM dan langsung mendapat tawaran sebagai dosen, Rana ternyata mendapat pilihan  untuk mengajar di dekat lingkungan tempat tinggalnya yaitu di Universitas Mangun Karsa agar ia juga tak jauh dari orang tuanya. Menjadi dosen dengan modal S1, membuatnya bertekad untuk menyelesaikan S2.

                Jodoh. Orang tuanya sudah ingin menjodohkannya dengan laki-laki pilihan mereka, tapi apa daya ada hal lain yang membuat itu belum terlaksana. Bahkan sahabatnya Lina pernah menjodohkannya dengan Mas Andi kenalannya, tapi namanya belum jodoh malah Lina sendiri yang menikah dengan Mas Andi, karena Rana merasa belum sreg dan masih disibukkan dengan kuliahnya serta kariernya.

                Lika-liku perjalanan seorang gadis yang disisi lain gemilang dalam karier, di satu sisi ada tuntutan dari orang tua untuk segera menemukan jodohnya. Mulai dari dilamar dekan nya yang seorang  playboy yang “nakal” yang dibalas dengan penolakan lewat email yang berujung pada pengunduran dirinya dari universitas tersebut, kemudian penolakan terhadap seorang kepala keamanan yang tidak bisa membaca Al Qur’an, belum lagi penolakan terhadap wali mantan murid lesnya.
                Sejatinya gadis mana yang tidak sedih karena belum menemukan tambatan hatinya. Sedih. Apalagi melihat kenyataan bahwa sang ayah menderita penyakit jantung yang serius. Belum lagi bisikan tetangga, ejekan dekan nya yang ditolak dengan lantang menyebutnya “perawan tua”. Duh gusti tidak muluk-muluk, kriteria jodohnya. Yang bisa menjadi imam dalam rumah tangga. Lulusan apa dan pekerjaan apa tidak masalah baginya. Tapi bila jodoh belum datang, hanya ikhtiar, berdo’a dan berusahalah yang bisa dilakukan.

                Mundur dari universitas Mangunkarsa, kemudian membuka les bimbel dan akhirnya diterima di sebuah STM Al Fattah di lingkungan pondok pesantren Al Fattah dengan harapan disana dia bisa menemukan jodohnya. Berkat bantuan sahabatnya Lina, mereka menemui bu Nyai untuk dicarikan jodoh terbaik. Akhirnya jodoh itu datang, seorang pemuda lulusan MAN pilihan bu Nyai, yang berprofesi sebagai penjual krupuk. Tanpa banyak pertanyaan jodoh itu diterimanya dengan lapang dada, berlangsunglah lamaran dan persiapan pernikahan. Kebahagiaan menyelimuti keluarga pak Munadjat karena pernikahan yang akan diselenggarakan keesokan harinya.
               
                Jodoh tak dapat diundang , malang tak dapat ditolak. Tepat malam hari sebelum pernikahan, kabar buruk itu datang. Calon penganten laki-laki meninggal tertabrak kereta api. Jodoh, rezeki, hidup dan mati sudah menjadi suratan Ilahi. Pada hari yang sama, pak Munadjat juga menghembuskan nafas terakhirnya. Sedih. Pilu. Shock. Bercampur aduk menjadi satu, penantiannya selama ini untuk membahagiakan kedua orang tuanya belum terlaksana. Butuh waktu yang lama untuk menetralisir kesedihan yang mendalam bagi Zahrana. Setidaknya ia membuktikan bahwa ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan usahanya sudah tinggal beberapa saat hanya terhalang oleh maut menghampiri sang calon mempelai laki-laki.

                Ketika terkapar tak berdaya dirumah sakit, dengan kesedihan yang mendalam, ibunya terus memberikan support begitu juga sahabatnya dan dokter dokter dirumah sakit yang salah satunya adalah bu Zulaikha yang ternyata adalah ibu Hasan, mahasiswa yang sempat dibawah bimbingannya dalam penyusunan skripsi.

                Lambat laun, senyum itu semakin berkembang dan mulai membangkitkan semangat Zahrana. Walaupun ia terpuruk, hancur lebur tapi ia sadar bahwa semua itu harus di delete sampai bersih. Dan yang tertinggal hanya bekas-bekasnya tapi siap untuk ditulis dengan hal-hal yang lebih baik lagi. Dengan semangatnya yang baru, senyum yang cerah ia bersiap menyongsong masa depan.
Janganlah berputus asa!!
                Alhamdulillah tak disangka-sangka, kedatangan bu dokter bu Zulaikha ke rumahnya adalah melamarnya untuk Hasan. Kaget. Bersyukur. Khawatir. Kejadian yang telah lalu masih membayanginya. Maka untuk menegaskan keseriusan Hasan dan ketakutannya akan pengulangan kejadian masa lalu yang tidak diinginkannya, Zahrana langsung meminta keseriusan lamaran itu berupa akad nikah hari itu juga selepas isya. Dan........

Alhamdulillah....Jodoh, rezeki, hidup dan mati...... Allah yang mengatur. Tugas kita adalah ikhtiar dan berdo’a serta tawakkal atas ketentuanya.

Selasa, 06 Februari 2018

5 Penyebab Pikiran “Blank”

            Keringat dingin, tangan basah, kepala yang tidak gatal tapi tetap digaruk, meremas-remas tangan, membetulkan posisi kacamata, jantung berdetak kencang tak beraturan, waktu serasa berjalan sangat pelan. Pernah merasakan hal ini? Ya pasti pernah, entah ketika menghadapi sebuah ujian kuliah, wawancara pekerjaan, memberi sambutan didepan ratusan atau ribuan audience, saat menghadapi detik-detik pernikahan,  dan lain-lain.

            “Blank” tidak tahu mau berbicara apa. Seolah semua perbendaharaan kata menghilang tanpa jejak. Apalagi bila disuruh berbicara di depan umum, berada didepan audience sebuah forum, tak ada satupun yang keluar,  tercekat. Pernah nggak sich seperti itu, saya ingin berbicara tapi kok blank?

            Anehnya sebelum tampil sudah berlatih dirumah baik-baik saja, tapi ketika sudah berdiri didepan forum, kenapa tiba-tiba blank. Blank atau gelap pikiran ketika berbicara adalah tanda masih adanya pola pikir yang salah atau pola pikir yang kacau.
Penyebab pikiran “blank” antara lain:

1.      Sombong
Bila seseorang membohongi dirinya sendiri,  berani tampil didepan umum sebagaimana bukan layaknya dirinya.

2.      Malpikir ingin sukses
Kesalahan dalam berpikir, dia ingin sukses berbicara didepan umum. Sekedar sukseskah? Apa ukuran sukses? Tepuk tangan yang  meriah atau suasana yang semarak ? Sebelum berbicara tapi sudah berpikir yang demikian justru akan membebani pikiran anda sendiri yang pada akhirnya membuat blank. Mulailah ketika sebelum berbicara, posisikanlah, “saya berbicara untuk menyampaikan sesuatu/ sharing”, “saya berbicara di depan umum untuk menghibur audience”, dan lain-lain. Berpikirlah anda berdiri didepan bukan karena anda hebat, tapi karena anda ingin sharing.

3.      Takut diuji audience
Ketakutan ini pertanda bahwa anda tidak banyak memiliki alternatif jawaban. Sebagai contoh ketika anda menyampaikan perihal  “workshop photoshop”. Tentu secara garis besar anda tahu mengenai photoshop. Ketika ditanya perihal photoshop bisa menjawab. Tapi ketika pertanyaan audience sudah melenceng dari materi, dan anda tidak tahu jawabannya anda bisa sampaikan untuk jawaban dari pertanyaan tersebut akan kita bahas dilain waktu dan sekarang kita fokus ke pembahasan materi photoshop. Cukup elegan.

4.      Malu
Ketika maju didepan sebuah forum tentu banyak mata memandang Anda. Malulah dilihat banyak orang. Loh kok malu.  Jadi maunya apa? Apakah Anda mau berbicara di depan tapi tidak ada satupun yang memandang dan memperhatikan? Kalo gitu ngomong saja didepan cermin, jangan didepan banyak orang. Namanya mirror speaking bukan public speaking. Ingatlah ketika banyak audience yang melihat  berarti mereka mau tahu, penasaran, anda disukai dan diperhatikan.

5.      Pola pikir yang salah mengenai posisi
Wah audience  ada pak kepala sekolah, keringetan, wah ada pak wali kota, gemeteran, wah ada pak presiden, pingsan. Ketika diantara audience itu ada orang-orang yang pintar atau lebih hebat dari kita, sesungguhnya itu adalah titik aman bagi kita. Sehingga ketika menyampaikan kok ada kesalahan, ya wajar sampaikanlah permintaan maaf karena yang berbicara didepan ini tidak lebih hebat daripada audience. Tapi bayangkan bila anda bisa berbicara “se-level” dengan mereka orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya. Bukankah itu menakjubkan?
Tapi dari pada memikirkan pangkat, kedudukan, pendidikan, kasta dan lain sebagainya lebih baik anda mulai berpikir dengan tenang, “saya disini hanya sekedar sharing, saya disini hanya menjalankan amanah, dan seterusnya”

Dari kelima penyebab “blank”, tentu anda perlu banyak latihan dan pembiasaan. Seiring dengan bertambahnya jam terbang/ seringnya tampil didepan public membuat anda lebih cepat menyembuhkan penyakit “blank”.

Referensi:
“The secret of PUBLIC SPEAKING Era Konseptual” Tubagus Wahyudi, ST., Msi., MCHt., CHI


Be Kreatif Mom and Kids 10

S enangnya melihat meja belajar terlihat rapi. Ada 2 meja belajar dirumah dan setiap meja disampingnya ada lemari tempat bukunya. Satu mej...