Jumat, 20 April 2018

Rabu, 18 April 2018


10 Detik Rapikan Kantong Plastik

Beli ayam dikasih kantong plastik
Beli baju dikasih tas plastik
Beli cendol dikasih gelas plastik
Beli donat dikasih kantong plastik
Beli sayur, ikan, tempe, tahu, lauk, gorengan dikasih kantong plastik
Semua serba plastik........plastik........
Praktis.......praktis.......praktis.........
Iya praktis..... tapi......

Ini akan menjadi masalah tidak hanya hari ini tapi juga beberapa tahun ke depan, puluhan tahun kemudian dan bahkan ratusan tahun kemudian. Padahal setiap kegiatan manusia nyaris tidak bisa lepas dari plastik. Karena bahannya yang ringan dan praktis.

Sudah menjadi rahasia umum penggunaan plastik tentu akan menghasilkan sampah plastik. Dan sampah ini sangat susah untuk diuraikan dan akan memberikan dampak yang mengerikan bagi lingkungan maupun manusia.

Tidak usah menggunakan plastik sama sekali? Sangat susah dihindari. Karena susah menghindari maka cara berikutnya adalah menghemat penggunaan plastik. Yang lazim disebut 3R, Reuse, Reduce, Recycle Sampah.

1.                   Reuse (Menggunakan kembali)
Jangan buru-buru membuang plastik bekas bungkus belanjaan, bila kondisinya masih bagus masih bisa disimpan untuk digunakan kembali. Bila bau dan kotor, masih bisa dicuci dan dijemur untuk dipakai lagi (seperti yang dilakukan oleh tukang warung didekat rumah saya) asalkan belum sobek.

2.                   Reduce (Mengurangi penggunaan)
Biasakan berbelanja membawa wadah sendiri, bisa wadah dari tas kain, atau tas rajut. Seperti punya saya walaupun dikatakan jadul atau ah ndeso.... biarlah ini adalah bentuk kepedulian kita pada bumi, untuk apa gengsi. Bila membeli lauk/ makanan bisa membawa wadah tertutup sehingga mengurangi penggunaan plastik.

3.                   Recycle (mendaur ulang)
Sampah plastik memang tidak mudah untuk dimusnahkan tapi masih bisa didaur ulang. Tahap awal tentu saja memilah-milah sampah, mana yang sampah organik dan non-organik. Kemudian di pilah mana sampah yang masih bisa di daur ulang dan mana yang harus dimusnahkan. Contohnya sampah organic bisa dimanfaatkan untuk eco enzyme, botol air mineral bisa di daur ulang menjadi berbagai  ketrampilan seperti bunga, celengan, pot dan lain-lain. Bila tak ingin repot-repot atau tidak hobby daur ulang, kumpulkan saja sampahnya dan jual atau berikan kepada tukang pengepul sampah daur ulang. Tentu lebih bermanfaat.

Nah sobat selanjutnya saya ingin memberikan tips penyimpanan kantong plastik. Kantong plastik ya.... dibuang sayang, mau disimpan tapi berserakan. Hm masalah baru lagi ini, kalau sudah begini maka daripada pusing dibuanglah ke tempat sampah. Padahal kantong plastik tersebut masih bisa digunakan. Ya kan........ Jangan buru-buru dibuang ke tempat sampah ya.....
Kantong plastik sudah dikumpulkan dalam satu wadah



Saat memerlukan, harus bongkar2 mana yang besar dan mana yang kecil karena semua nya hanya ditaruh dalam satu wadah begitu saja. Akhirnya berserakan lagi. Kalau mau dipisahkan wadahnya untuk kantong yang besar dipisahkan dengan yang kecil tentu ini membutuhkan wadah yang makin memperbanyak wadah... Aduh pusing.....

Ini dia tips menyimpan kantong plastik:

1.                  Rapikan plastik



2. Plastik yang sudah dirapikan kemudian dilipat 2x seperti gambar di bawah ini, kemudian digulung


3.   Setelah digulung langkah terakhir yaitu di ikat sekali saja, sehingga bila suatu saat akan dipakai akan mudah dibuka kembali.


4.                  Dari plastik yang sudah digulung dan di ikat tadi akan menghasilkan gulungan yang berbeda-beda panjangnya sesuai dengan besar kecilnya plastik. Ini memudahkan kita untuk memilih plastik mana yang akan kita gunakan, bisa mengetahui besar kecilnya plastik dengan mudah.


5.  Terlihat perbedaannya dari penyimpanan plastik yang berserakan kini menjadi lebih praktis

                                                                                                                
6.     Tips  terakhir, jangan menunggu kantong plastik sudah banyak baru dirapikan, tapi setiap kali ada kantong plastik yang akan disimpan langsung rapikan. Tidak membutuhkan waktu yang lama kok hanya 10 detik.

Selamat mencoba. Sayangi bumi seperti menyayangi diri sendiri.



Senin, 09 April 2018

CerBung


Baju Kematian

Dengan takut-takut aku memandangi wajah itu. Padahal biasanya ketika memandangnya setiap hari saat bertemu kami biasa saja malah tersenyum. Tapi kali ini beda rasanya. Tak sedikitpun senyum tersungging di bibirnya, juga tidak dengan ku. Kami tidak saling marah. Bagaimana aku bisa tersenyum........

Mata itu kini tertutup untuk selamanya. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak tahu harus bagaimana. Diam saja, sesaat tak bisa menangis karena berharap ini hanya mimpi. Ketika sadar ini bukan mimpi barulah isak tangisku pecah tak terasa air mata mengalir tanpa diperintah. Kesedihan tiba-tiba menyelimuti suasana subuh ini. Merambat dengan cepat. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sesungguhnya segalanya milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Tubuh nenek kini terbujur, diam tanpa suara, mulai kaku dan dingin. Tidak ada lagi kehangatan. Tidak bergerak, tidak berdetak dan tidak ada hembusan nafas. Hening. Banyak yang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya sebentar saja dalam hitungan menit, tetangga kanan kiri berdatangan.  Akhirnya satu dua orang tersadar apa yang harus dilakukan selain menangisi kepergian nenek.

“Ahmad, tolong beritahu ustad Thoha kasih tau kalo nenek sudah meninggal sekalian minta tolong ustad untuk mengumumkan lewat pengeras suara yang di masjid,” kata pak RT dengan sigap meminta tolong kepada tetanggaku.
“Bapak-bapak yang lain mari kita mengambil tenda dan kursi ke tempat saya,” lanjut pak RT.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sampai bu Narti memberitahuku untuk menutupkan mulut nenek yang sedikit membuka dengan cara mengikatkan kain dan menutupkan kain ke tubuh nenek. Ibu-ibu yang lain kulihat semuanya mulai membantu mulai dari mengatur posisi tidur jenazah, menyiapkan dan membersihkan rumah kecil yang kami tempati. Aku memang hanya tinggal berdua dengan nenek saja. Kasihan bila nenek tinggal sendiri. Tapi beliau juga tidak mau tinggal bersama anak-anaknya dengan alasan tidak mau merepotkan. Maka akulah cucu yang ditugaskan orang tuaku untuk tinggal dan menemani nenek di hari tuanya sambil mengajar di salah satu sekolah SD yang memang dekat dengan rumah nenek. Orang tuaku tinggal berbeda kota.

Hampir setengah jam aku larut dalam kesedihan sampai tiba-tiba HP ku berbunyi ada sms masuk. Barulah teringat mengabari ayah ibu dan  keluarga yang lain. Berurai air mata, ku kabari saudara-saudara family handai taulan dan juga teman-teman atas kepergian nenek. Dan kupesankan kepada mereka untuk memberi kabar kepada yang lain. Nada ringtone panggilan masuk berbunyi. Ayah langsung menelepon, “Assalamu’alaikum, Kim..... kapan nenek meninggal?”

“Ja.... jam 5 tadi, Ayah.” Sambil sesenggukan air mata semakin deras.
“Ya sudah ini Ayah segera naik bus ke tempat nenek, coba tolong kasih teleponnya ke pak Hasan. Ayah mo ngomong sebentar,” lamat-lamat kudengar suara tangis ibu di seberang telpon. Kuberikan HP ku ke pak Hasan teman waktu SMA yang juga sekaligus menjadi ketua RT, yang sudah kembali dengan mengendarai pick up membawa tenda dan kursi.

“Pak RT ini ada telpon dari Ayah, katanya mau bicara sama pak RT.” Entah pembicaraan apa antara Ayah dan Pak RT, karena memang HP nya tidak di loadspeaker suaranya.
“Nak Kimmy, kata Ayah nanti untuk kain kafannya pakai kain kafan nenek yang ada di lemari. Itu wasiat yang pernah nenek sampaikan semasa hidup. Kurang lebih 2 jam lagi Ayah sama Ibu nak Kimmy akan sampai disini. Sekarang tolong ambil kain kafannya ya “ kata pak RT.

Ayah dan Pak RT memang akrab teman waktu SMA. Sehingga bila ada keperluan apapun, Ayah berpesan untuk minta tolong ke pak RT. Kami sudah seperti keluarga. Makin lama tetangga, saudara dan teman-teman banyak berdatangan. Bu Narti yang juga istri dari pak Hasan, ketua RT kami tak berapa lama sudah membawa Ustadzah Mulia yang nanti membantu menyiapkan kain kafan dan memandikan jenazah nenek.

Dengan tangisan yang mereda, mata sembab, hidung seperti orang yang terkena flu, segera aku mengambil kain kafan seperti yang dikatakan Ayah di telepon.
Lemari tua itu berderit ketika dibuka, pertanda engsel-engsel yang mulai berkarat. Cek satu per satu tumpukan baju-baju yang ada disana. Ada bungkusan plastik bening berisi kain putih di tumpukan pojok kanan atas. Bungkusan itu ......... (Bersambung)