Senin, 09 April 2018

CerBung


Baju Kematian

Dengan takut-takut aku memandangi wajah itu. Padahal biasanya ketika memandangnya setiap hari saat bertemu kami biasa saja malah tersenyum. Tapi kali ini beda rasanya. Tak sedikitpun senyum tersungging di bibirnya, juga tidak dengan ku. Kami tidak saling marah. Bagaimana aku bisa tersenyum........

Mata itu kini tertutup untuk selamanya. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak tahu harus bagaimana. Diam saja, sesaat tak bisa menangis karena berharap ini hanya mimpi. Ketika sadar ini bukan mimpi barulah isak tangisku pecah tak terasa air mata mengalir tanpa diperintah. Kesedihan tiba-tiba menyelimuti suasana subuh ini. Merambat dengan cepat. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sesungguhnya segalanya milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Tubuh nenek kini terbujur, diam tanpa suara, mulai kaku dan dingin. Tidak ada lagi kehangatan. Tidak bergerak, tidak berdetak dan tidak ada hembusan nafas. Hening. Banyak yang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya sebentar saja dalam hitungan menit, tetangga kanan kiri berdatangan.  Akhirnya satu dua orang tersadar apa yang harus dilakukan selain menangisi kepergian nenek.

“Ahmad, tolong beritahu ustad Thoha kasih tau kalo nenek sudah meninggal sekalian minta tolong ustad untuk mengumumkan lewat pengeras suara yang di masjid,” kata pak RT dengan sigap meminta tolong kepada tetanggaku.
“Bapak-bapak yang lain mari kita mengambil tenda dan kursi ke tempat saya,” lanjut pak RT.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sampai bu Narti memberitahuku untuk menutupkan mulut nenek yang sedikit membuka dengan cara mengikatkan kain dan menutupkan kain ke tubuh nenek. Ibu-ibu yang lain kulihat semuanya mulai membantu mulai dari mengatur posisi tidur jenazah, menyiapkan dan membersihkan rumah kecil yang kami tempati. Aku memang hanya tinggal berdua dengan nenek saja. Kasihan bila nenek tinggal sendiri. Tapi beliau juga tidak mau tinggal bersama anak-anaknya dengan alasan tidak mau merepotkan. Maka akulah cucu yang ditugaskan orang tuaku untuk tinggal dan menemani nenek di hari tuanya sambil mengajar di salah satu sekolah SD yang memang dekat dengan rumah nenek. Orang tuaku tinggal berbeda kota.

Hampir setengah jam aku larut dalam kesedihan sampai tiba-tiba HP ku berbunyi ada sms masuk. Barulah teringat mengabari ayah ibu dan  keluarga yang lain. Berurai air mata, ku kabari saudara-saudara family handai taulan dan juga teman-teman atas kepergian nenek. Dan kupesankan kepada mereka untuk memberi kabar kepada yang lain. Nada ringtone panggilan masuk berbunyi. Ayah langsung menelepon, “Assalamu’alaikum, Kim..... kapan nenek meninggal?”

“Ja.... jam 5 tadi, Ayah.” Sambil sesenggukan air mata semakin deras.
“Ya sudah ini Ayah segera naik bus ke tempat nenek, coba tolong kasih teleponnya ke pak Hasan. Ayah mo ngomong sebentar,” lamat-lamat kudengar suara tangis ibu di seberang telpon. Kuberikan HP ku ke pak Hasan teman waktu SMA yang juga sekaligus menjadi ketua RT, yang sudah kembali dengan mengendarai pick up membawa tenda dan kursi.

“Pak RT ini ada telpon dari Ayah, katanya mau bicara sama pak RT.” Entah pembicaraan apa antara Ayah dan Pak RT, karena memang HP nya tidak di loadspeaker suaranya.
“Nak Kimmy, kata Ayah nanti untuk kain kafannya pakai kain kafan nenek yang ada di lemari. Itu wasiat yang pernah nenek sampaikan semasa hidup. Kurang lebih 2 jam lagi Ayah sama Ibu nak Kimmy akan sampai disini. Sekarang tolong ambil kain kafannya ya “ kata pak RT.

Ayah dan Pak RT memang akrab teman waktu SMA. Sehingga bila ada keperluan apapun, Ayah berpesan untuk minta tolong ke pak RT. Kami sudah seperti keluarga. Makin lama tetangga, saudara dan teman-teman banyak berdatangan. Bu Narti yang juga istri dari pak Hasan, ketua RT kami tak berapa lama sudah membawa Ustadzah Mulia yang nanti membantu menyiapkan kain kafan dan memandikan jenazah nenek.

Dengan tangisan yang mereda, mata sembab, hidung seperti orang yang terkena flu, segera aku mengambil kain kafan seperti yang dikatakan Ayah di telepon.
Lemari tua itu berderit ketika dibuka, pertanda engsel-engsel yang mulai berkarat. Cek satu per satu tumpukan baju-baju yang ada disana. Ada bungkusan plastik bening berisi kain putih di tumpukan pojok kanan atas. Bungkusan itu ......... (Bersambung)

34 komentar:

  1. Huaaa aku tunggu sambungannya..

    BalasHapus
  2. Penasaran kelanjutannya, ayo semangat buat novel mba lumi

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga penasaran loh...eh...

      Hapus
  3. Mbak Lumi, tolong segera bikin sambungan ceritanya ya mbak... Masih pengen baca banget..

    BalasHapus
  4. wuaaaa cerberrr... kereeeen.. lanjuuuut

    BalasHapus
  5. Wah. Gaya bahasanya enak mba.
    Tgl di poles lg aja biar ceritanya lbh menarik.
    Keren !

    BalasHapus
  6. Selalu suka baca cerbung, ada deg"an penasarannya gituh.
    Ditunggu kelanjutannya kakkkkk!

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh iya mbak amel... yang betul cerbung nih... bukan cerber

      Hapus
  7. ditunggu cerita selanjutnya

    BalasHapus
  8. ditunggu cerita berikutnya mbak

    BalasHapus
  9. Penasaran sama kelanjutan ceritanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap-siap baca yang berikutnya kalo gitu

      Hapus
  10. Keren, ditunggu kelanjutan cerita nya mba.

    BalasHapus
  11. Nungguin kelanjutan ceritanya. Wuaaah pemirsah dibuat penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga menunggu ide segar yang lewat

      Hapus
  12. Mbak, mbak.. Tau nggak? Lagi seru-serunya baca, trus tiba-tiba bersambung itu rasanya ngeselin banget loh.. Hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ups maafken mbak dian..... hehehe

      Hapus
  13. Yaaa Elahhh..Bersambung hiksssss

    padahal udah seru-serunyaaa

    BalasHapus
  14. Wah judulnya so scary ya to seru bacanya

    BalasHapus
  15. Ditunggu cerita lanjutannya kak....

    BalasHapus
  16. pak RT memang orang paling pertama klu ada apa apa ya
    samping rumah saya juga pak RT
    malah anak saya manggil atuk
    hehehe btw ini cerpen ditunggu lanjutannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. pak RT idaman warga yang ini... hehehe

      Hapus