Rabu, 31 Oktober 2018

Tingkatkan kecerdasan anak demi kebahagiaan1



Bismillah......

            Alhamdulillah sudah memasuki materi ke 3 Kelas Bunda Sayang - Institut Ibu profesional yaitu “Pentingnya meningkatkan kecerdasan anak demi kebahagiaan hidup”.

            Mendengar kata “cerdas”, saya mengartikannya “pintar” . Ingatan saya jadi kembali ke masa-masa sebelum saya memiliki anak kedua. Why? Umumnya orang Indonesia menilai bahwa anak yang cerdas itu adalah anak yang selalu juara di kelasnya. Bisa tuntas semua mata pelajaran. Yang sering mendapatkan nilai 100 di setiap ulangan/ ujian. Tidak terbayang ya, di sebuah sekolah dalam satu kelas yang cerdas hanya ada 10 orang karena oleh guru kelasnya hanya dibuat peringkat di raport nya hanya ada peringkat 1-10. Nah kalau peringkat nya Cuma 1-3 berarti hanya ada 3 orang saja yang cerdas?
           
            Apa hanya sebatas itu sebuah kecerdasan. Duh betapa saya harus banyak belajar dalam mengukur sebuah kecerdasan. Kemudian apakah anak yang selalu cerdas itu menjamin bahwa dia akan selalu bahagia atau ketika dewasa bisa sukses karena kecerdasannya?
Nabi Muhammad tidak pernah sekolah. Beliau seorang yang tidak bisa baca dan tulis. Tapi kehidupannya begitu sukses. Thomas Alva Edison seorang penemu yang luar biasa. sewaktu kecil Edison hanya sempat mengikuti sekolah selama 3 bulan. Gurunya memperingatkan Thomas Alva Edison kecil bahwa ia tidak bisa belajar di sekolah sehingga akhirnya Ibunya memutuskan untuk mengajar sendiri Edison di rumah. Kemudian Edison menemukan dan menciptakan penemuan yang sangat berharga apa karena Edison pintar ketika sekolah?

Ternyata saya salah dalam mengartikan kata “cerdas” dengan kata “pintar”.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berikut ini pengertian cerdas dan pintar.

cerdas/cer·das/ a 1 sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya); tajam pikiran 2 sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat, kuat)
 -- cermat pertandingan adu ketajaman berpikir dan ketangkasan menjawab (pertanyaan, soal matematika, dan sebagainya) secara cepat dan tepat;
-- tangkas cerdas cermat;
mencerdaskan
/men·cer·das·kan/ v mengusahakan dan sebagainya supaya sempurna akal budinya; menjadikan cerdas
pencerdasan/pen·cer·das·an/ n proses, cara, perbuatan mencerdaskan;
kecerdasan
/ke·cer·das·an/ n 1 perihal cerdas; 2 perbuatan mencerdaskan; kesempurnaan perkembangan akal budi (seperti kepandaian, ketajaman pikiran)- emosional kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar; ~ intelektual kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain; ~ spiritualkecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa

Sedangkan arti kata pintar adalah sebagai berikut:
pintar/pin·tar/ a 1 pandai; cakap 2 cerdik; banyak akal 3 mahir (melakukan atau mengerjakan sesuatu
terpintar/ter·pin·tar/ a paling pintar (cakap, cerdik, mahir);
kepintaran
/ke·pin·tar·an/ n 1 kepandaian; kecakapan 2 kecerdikan; 3 kemahiran

“Pintar belum tentu cerdas, Cerdas sudah tentu pintar”
“Kesuksesan tidak ditentukan oleh kepintaran, tapi kecerdasan merupakan awal sebuah kesuksesan”


#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam



Kamis, 25 Oktober 2018

Aliran rasa materi kemandirian


Materi Bunda Sayang - Institut Ibu Profesional

                Semenjak bayi tentu sebagai ibu kita tahu betul apa yang menjadi kebutuhan anak. Mulai dari makan, minum, saat BAB ataupun saat BAK. Semakin besar semakin banyak kebutuhannya ditambah rasa keingintahuannya terhadap apa yang ada disekelilingnya. Kelak sebagai orang tua kita akan melihat mereka dewasa dan melakukan segala hal secara mandiri.

                Agar mereka tidak merasa kesulitan saat dewasa nanti maka kita juga harus mempersiapkan mereka dengan berbagai skill yang diperlukan. Tentu sesuai dengan umur anak.

Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.
Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita.

Disaat mulai memberikan ketrampilan skill tentu sebagai mentor kita harus memiliki 3 hal berikut ini yaitu:

Konsistensi | Motivasi |Teladan

Kosistensi diperlukan agar skill itu bisa menjadi sebuah kebiasaan secara terus menerus, sedangkan motivasi agar anak lebih semangat untuk belajar mandiri serta teladan dari mentor/ orang tua.


Selasa, 16 Oktober 2018

Hari kesepuluh si bungsu kemana


Hari sabtu  ada kegiatan pestakom yang diadakan oleh BP Batam di pantai ocarina. Setelah mengantar anak-anak pergi ke sekolah  saya pulang kerumah mempersiapkan apa yang akan saya bawa dan mempersiapkan saat saya tinggal rumah aman.

Setelah meminta ijin kepada abinya saya berangkat ke tempat acara. Nah kebetulan sekali ada 3 komunitas yang saya ikuti. Dan ketiga-tiganya juga membuat stand di pestakom tersebut. Pestakom singkatan dari pesta komunitas. Tidak saya sangka ketiga komunitas yang saya ikuti ternyata tendanya berderet tetanggaan. Yaitu stand Kampus Kansa, Ibu Profesional dan Forum Lingkar Pena.
Jam 12.56 hape berbunyi ternyata abinya yang menelepon. “Ummi adik anis kemana?” begitu kata abinya.

Astaghfirullah saya lupa memberitahukan kepada kakaknya agar menunggu adiknya hari ini. Saya lupa menitipkan pesan kepada ustadzah nya dan saya juga lupa menyampaikan kepada abinya.
Setelah menghubungi beberapa ustadzah nya di RA, alhamdulillah ternyata tadinya abinya menjemput si bungsu. Abinya sempat mencari-cari. Dikira oleh gurunya, si bungsu sudah pergi bersama abinya. Eh tak tahunya masih main di kelasnya. Akhirnya oleh ustadzahnya diantar ke rumah. Pengalaman berharga bagi saya agar tidak terlupa saat melakukan kegiatan diluar rumah.

Setelah dari Ocarina, saya sebenarnya ingin mampir ke Kepri Mall tempat diadakanya acara final lomba pildacil yang diadakan oleh BP Batam. Tapi mengingat saya harus save tenaga untuk besok ahad masih di acara pestakom tersebut akhirnya saya membatalkan niat itu. Apalagi untuk besok saya berencana untuk mengajak anak-anak untuk ikut serta di pantai.
“Ayo.... siapa besok yang mau ikut Ummi ke Ocarina”, kata Ummi.
“Sayaaaaa.......”, serempak mereka menjawabnya.

#Harike10
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Hari kesembilan pinjam baju olahraga


Pagi sebelum sekolah agak santai. Hujan kemaren membuat baju olahraga dan sepatu si sulung menjadi basah. Saya tidak terlampau kawatir. Karena ternyata si sulung sudah menemukan solusi atas masalahnya sendiri.

“Adik, kakak pinjam baju olahraganya ya sehari aja. “ kata si sulung kepada adiknya yang juga sekolah di tempat yang sama. Baju olahraga hanya satu pasang dan sepertinya saya memang harus mengalokasikan dana untuk membeli baju olahrag yang baru yang ukurannya sesuai dengan tinggi badannya. Baju yang lama sudah mulai kekecilan. Tapi sementara ini belum terealisasi.
Tak lama kemudian hape berbunyi.
“Ummi hapenya bunyi”, kata si sulung.
Saya lihat peneleponnya adalah kepala sekolah tempat ananda belajar.
“Wa alaikum salam. Iya Halo, iya ustadz ada apa?” kata saya menjawab telepon.
“Oi, lagi sibuk tak.” Kata Kepala Sekolah. Bahasa kami memang obrolan seperti biasa karena kami sudah mengenal baik.
“Tidak tadz, biasa saja”, kata saya.
“Antarlah khana tu. Bus nya dah nak berangkat ini.” Lanjut kepala sekolah.
“Lah ustadz, kata khana tunggu informasi ini tadi. Makanya kami santai-santai. Ya tadz kami segera meluncur kesitu”, kata saya.
“Nah kakak, udah ditunggu mobil bus nya. Ayok kesana cepetan ke sekolah Ummi anterin”, kata saya kepada si sulung.
Hari ini ternyata tetap berangkat pagi menuju lokasi perlombaan yang ada di sekupang. Yang berangkat hanya team volly putra dan putri. Dan supporternya adalah anak santri kelas 6.

Tidak berselang lama, kurang lebih jam 10 si sulung sudah tiba di rumah lagi. Eh pulang cepat. Kata saya dalam hati. Melalui info di WA grup walisantri saya sudah tahu bahwa team belum bisa lolos masuk ke final. Tapi itu tidak masalah. Justru saya sangat berterima kasih kepada sekolah yang sudah membina anak-anak dan juga kepada anak-anak saya acungi jempol karena mereka sudah semangat berlatih walaupun belum bisa mendapatkan bonus juara. Dengan wajah yang kurang semangat si sulung menceritakan bahwa team nya kalah.

Tidak apa-apa. Iya harus ada yang kalah agar ada yang menang. Bukankah resiko sebuah perlombaan itu kalau tidak menang ya kalah. Itu lah resiko sebuah ikhtiar yang maksimal.

#Harike9
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Hari kedelapan pemain volley cadangan


Hujan deras mengguyur. Batam memang tidak bisa diprediksi cuacanya. Saat sedang panas-panasnya matahari tiba-tiba hujan turun deras. Atau sebaliknya saat hujan deras, eh perumahan sebelah kering-kering saja.

Hari kamis ini sesuai jadwal si sulung mengikuti perlombaan porseni madrasah. Dengan semangatnya bangun pagi. Sedangkan si adik asyik memeluk bantal karena libur. Menjelang siang hujan deras tampaknya rata seluruh batam. Walau hanya sebagai cadangan lomba volly itu bukan masalah yang penting semangatnya. 

“Hore, masuk semi final.” Begitu katanya saat sore hari saya menjemputnya disekolah.
“Alhamdulillah. Menang ya kak”, kata Ummi.
“Iya mi. Grup kami menang.” Kata si sulung.
“ Jadi kakak tadi mencetak berapa poin?”, tanya ummi.
“Enggak mi. Kakak Cuma cadangan. Sama ustadzah dipilih yang besar-besar tinggi-tinggi. Trus lawan mainnya itu gak bisa ngembali in bola. Jadi kami menang lah”, lanjutnya.
“O, jadi kakak gak sempat cetak poin?”
“Enggak mi. Kami besok kesana lagi. Tapi Cuma volly aja sama ustadzah pembimbingnya.” Kata si sulung.
“Ya gak papa cadangan. Cadangan itu suatu saat dibutuhkan. Yang penting kakak mau latihan maksimal dan semangat berlatih. Itu saja sudah.” Kata Ummi memberikan motivasi kepada si sulung. Bahwa apapun amanahnya lakukanlah dengan maksimal. Hasil nya apa biarlah Allah yang menentukan. Kita hanya ikhtiar, berdo’a dan tawakal kepadanya.

#Harike8
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Rabu, 10 Oktober 2018

Hari ketujuh sol sepatu



Hari rabu saya mengajar ngaji sampai adzan isya untuk kelas SMP. Dan setelah itu kami makan bersama-sama.
“Ummi, besok bangunin kakak jam 5 pagi ya?”, kata si sulung.
“Iya kak insya Allah. Tapi beneran nih kakak mau bangun jam 5? Biasanya kan susah kali ummi bangunin kakak”, jawab saya. Dari kemaren yang diceritakan si sulung memang soal lomba volly. Kakak sangat bersemangat untuk ikut latihan untuk perlombaan volly ini.

“Iya mi bangunin jam 5. Soalnya kami besok mau lomba volly di sekupang, jadi jam 6.30 sudah disekolah. Kalo enggak nanti ditinggal. Kakak besok bawa apa aja ya Mi.” Lanjutnya.
“Bawa apa ya. Biasalah paling jangan lupa botol minumnya”, jawab Ummi.
Dan tanpa saya komando, si sulung sudah menyiapkan keperluannya untuk perlombaan besok. Baju sudah disetrikanya sendiri. Baju olahraga, jilbab dan sepatu.

“Ummi, ummi punya sol sepatu nggak?” tanya si sulung.
“Sol sepatu? Ya enggak punya. Ummi punya nya ya semir sepatu”, jawab Ummi.
“A iya itu maksud kakak. Semir untuk sepatu”, katanya.
“Iya ambillah di tangga itu,” kata Ummi.

Saya sebenarnya sudah tahu kebiasaan si sulung ini, pura-pura nanya tapi sebenarnya sudah tahu tempat barang yang di inginkannya. Dan tidak hanya sepatunya saja yang disemir tetapi sepatu saya juga disemirnya sekalian. Alhamdulillah nak, kalau tiap hari kayak gitu mah senang hati makk.


#Harike7
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Hari keenam Uang jajan seminggu sekali



Saya mengira hari ini anak-anak masih ujian mid semester sehingga kalem saja saat sudah jam 11.30 saya tidak menjemput si kecil Anis yang masih RA. Jam sudah menunjukkan angka 12.00 anak-anak belum juga pulang sekolah. Karena khawatir saya pergi ke sekolah. Terlihat anak-anak MI masih serius belajar di kelasnya masing-masing sedangkan anak RA sudah pulang semua tinggal anak saya sendiri yang berada didalam kelas.
Masya Allah ternyata hari ini hari terakhir ujian mid semester anak MI, sehingga anak saya yang sekolah MI jam belajarnya sudah normal seperti biasa pulang setelah sholat dhuhur.
“Maaf ustadzah saya kira anak MI hari ini masih ujian, jadi saya tidak jemput Anis karena biasanya pulang bareng kakaknya.” Begitu yang saya sampaikan ke guru RA.
“Oiya tak apa bu, hari ini ujian MI sudah selesai jadi pulangnya sudah kembali jadwalnya seperti biasa.” Kata guru RA.
“Iya ustadzah itulah tadi saya salah mengira.” Kata saya.
Dan pulanglah saya bersama si kecil. Ya ampun mak. Memang harus inget lagi jadwal anak-anak. Saya tidak menunggu kakak-kakaknya pulang karena dari lama sudah saya biasakan mereka untuk pulang sendiri. Jarak rumah ke sekolah tidak jauh hanya kurang lebih 500 meter. Ketika berangkat sekolah diantar tetapi saat pulang mereka jalan kaki.
Tak berapa lama dirumah si sulung pulang bersama adiknya yang ke2. “Ummi, kakak mau kerumah helwa ya”, kata si sulung saat baru tiba dari sekolah. Belum lagi sempat lepas baju dan ganti. Kebetulan saya sedang ada tamu.
“Kak, mau ngapain ke tempat helwa?”
“Mau beli jilbab mi.” Kata si sulung.
“Jilbab apa? Beli dimana? Pakai uang siapa?”, tanya Ummi.
“Kami mau kerumah helwa ummi, trus nanti jalan kaki ke pasar BBC. Kakak pake uang simpanan kakak. Kan ada simpanan kakak”, jawabnya.
Saya memang memberi uang jajan kepada anak seminggu sekali. Saya berikan seminggu sekali sekaligus. Tidak setiap hari, karena meminta setiap hari itu membuat saya kurang sabar. Itu hanya berlaku bagi anak pertama dan kedua. Kalau si kecil belum bisa diberlakukan seperti itu.  Dari uang jajan yang saya berikan seminggu sekali itu, saya serahkan ke mereka mau jajan berapa terserah. Dan jika lebih bisa mereka simpan. Alhamdulillah itu sudah berjalan lama sekali. Dan seperti hari itu si sulung membeli jilbab warna hitam casual yang akan dipakainya untuk lomba volly mewakili sekolah, saya tidak memberikan uang sepeser pun. Tapi si sulung memakai uang simpanannya dari uang jajan yang disisihkannya setiap hari.

#Harike6
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Hari kelima pulang sekolah bersama adik



Kembali hari senin menyapa dunia. Hari senin sepertinya masih hari yang paling rempong dibandingkan hari yang lain. Apalagi kemarin setelah pergi ke pantai seharian. Begitu pulang dari pantai sampai rumah langsung istirahat sejenak, membersihkan badan, sholat dan tak berapa lama langsung tidur saking capeknya. Saat di pantai sebelum pulang, anak-anak makan disana jadi pulang masih dalam kondisi kenyang.

Untungnya baju seragam sudah ready untuk dipakai. Saat bangun pagi anak-anak juga tidak mengeluh capek-capek badan. Untuk mencegah agar badan tidak terasa capek-capek setelah kegiatan seharian, saya mengoles dan memijat badan terutama kaki dengan minyak but-but produk dari HPA Indonesia. Alhamdulillah tidak ada yang mengeluh kecapekan. Sebelum mandi pagi anak-anak masih sempat belajar dan membaca buku mata pelajaran yang hari ini diujikan. Hari ini hari terakhir ujian mid semester. Saat ujian tentu anak-anak pulang cepat dan saya tidak menjemput si kecil yang masih TK karena bisa pulang bersama kakaknya. Sekolahnya masih di satu tempat satu yayasan.

#Harike5
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Hari keempat menjaga adik saat di pantai



Hari Minggu bangun pagi. “Ayo bangun-bangun kita nak ke pantai hari ini”, itu kata-kata prolog dari saya untuk membangunkan anak-anak pagi ini. Tidak menunggu lama mereka semua sudah semangat untuk bangun. Saking semangatnya untuk baju ganti pun sudah disiapkan semalam. Biasanya sayalah yang menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan saat akan pergi keluar untuk jalan-jalan. Tetapi kali ini saya tidak membantu, saya hanya meminta mereka untuk menyiapkan perlengkapan masing-masing. Dan ternyata mereka bisa mandiri untuk menyiapkan keperluannya. Terutama anak saya yang ke-2 ternyata tidak hanya menyiapkan baju ganti satu, tetapi dia menyiapkan 2 baju ganti.

Hari itu saya sebagai panitia Outbound kampus dan saya memberikan tantangan kepada si sulung untuk bisa menjaga adik-adiknya. Tidak hanya 2 adiknya, tapi juga anak kawan saya yang umurnya dibawahnya. “Kakak tolong jaga adik-adik ya, itu ada 4 orang loh”, begitu kata saya.
“Iya mi, kakak jaga”, jawabnya.

Alhamdulillah ternyata dari pagi sampai sore, mereka main air dengan senangnya diguyur hujan malah senang. Saat dhuhur, sholat, makan siang dan lanjut lagi main di pinggir pantai. Mulai dari main air sampai mencari hewan laut. Dan tidak ada tangisan dari adiknya berarti semua masih baik-baik saja, aman terkendali. Terima kasih nak, ummi bisa mengandalkanmu untuk menjaga adik-adik.

#Harike4
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Sabtu, 06 Oktober 2018

Melatih kemandirian anak at day 3



“Kakak ummi pergi dulu ke sekupang ya. Sama kawan ummi”, kata saya.
“Ngapain ummi kesana?” kata si sulung.

“Ummi mau nyiapin untuk kegiatan besok”, kata saya sambil tidak menerangkan detail bahwa besok outbond. Karna saya ragu mau mengajak kesana atau tidak. Ya anak saya tidak masalah bila saya pergi untuk sesuatu hal. Mereka sudah bisa menjaga diri dirumah. Tetapi saya juga ingin mengajak mereka pergi ke pantai. Apalagi setelah melihat lokasi outbond besok lumayan kondusif. Sehingga saya yakin akan mengajak mereka semua untuk pergi ke pantai, sekalian saya melaksanakan tugas sebagai panitia outbond kampus saya juga bisa menyenangkan hati buah hati saya.

Kamis, 04 Oktober 2018

Melatih kemandirian anak day 2




Saya sempat tergoda untuk melatih kemandirian ke semua anak atau setiap hari bergantian. Tetapi sebuah pembiasaan itu butuh pengulangan. Apalagi bila itu sebuah kebiasaan yang baru maka butuh keistiqomahan agar terbentuk sebuah kebiasaan.
Melanjutkan untuk  tantangan melatih kemandirian. Tidak sengaja kemaren saat saya pulang setelah jemput adiknya si sulung  protes.
“Ummi, kakak tadi udah nunggu adik di sekolah lo”, kata si sulung.
“Mau ngapain kak.” Kata saya.
“Ya mau jemput adik lah. Ummi kan gak ada tadi dirumah. Kunci juga sama kakak.” Kata si sulung.
Nah ya ternyata diam-diam si sulung mulai perhatian kepada adiknya yang sekolah RA. Memang biasanya saya yang jemput. Tapi karena hari ini si sulung ujian mid semester dan bisa pulang cepat,  jadi bisa jemput memakai sepeda. Dan saya memutuskan agar si sulung bisa menggantikan saya menjemput adiknya. Love you anakku.


Melatih Kemandirian Anak Day 1 Level 2


Bismillah
Masuk ke tantangan level 2 kelas Bunda Sayang  perkuliahan Institut Ibu Profesional.
Materi Melatih Kemandirian.
Kali ini partner saya masih tetap si gadis cantik, si sulung. Yah sekaligus memperbaiki pola asuh yang dulu saya terapkan yang masih banyak sekali kekurangannya disana sini. Bisa jadi juga dialami oleh ibu-ibu yang lain. Anak pertama ibarat anak hasil percobaan. Karena itu pertama kalinya kita menjadi orang tua, dengan ilmu yang alakadarnya. Semoga kedepannya lebih baik lagi.
Hari ini hari kamis.
“Ummi, ummi kepasar lah”, kata si sulung.
“Ngapain kak ummi ke pasar?”, tanya ummi. Karena tumben si sulung berkata demikian.  Sebenarnya ummi agak curiga ini. Biasanya ada maunya minta dibelikan apa-apa. Seperti beberapa hari yang lalu karena minta dibelikan kaos dalam.
“ Pasar mana kak?”, lanjut ummi.
“Pasar kagetlah kan hari kamis.” Kata si sulung.
“Oh iya ya..... Hari kamis ada pasar kaget. Jadi ummi mesti beli apa ya?”, kata ummi memancing apa sebenarnya yang diinginkan si sulung.
“Itulah mi, beli udang rebon sama wortel. Stok bawang kan juga habis.” Kata si sulung.
“Beli udang rebon ya. Untuk apa. Kalau bawang memang iya stoknya habis. Lupa pula ya....”, jawab ummi.
“Kakak mau bikin bakwan mi. Nanti tepungnya dicampur sama udang rebon trus wortel juga. Enaakkkk”, kata si sulung.
Hm.....
Subhanallah.....
Ternyata si sulung lagi semangat nak bikin kue-kue bakwan. Memang beberapa hari yang lalu si sulung membeli tepung bakwan yang instan memakai uang jajannya sendiri. Baiklah nak ummi akan kepasar dan membelikan apa yang diperlukan untuk membuat bakwan. Hayyukkkkk.


Aplikasi catatan keuangan di Android                           Aplikasi sed...