Selasa, 16 Oktober 2018

Hari kesembilan pinjam baju olahraga


Pagi sebelum sekolah agak santai. Hujan kemaren membuat baju olahraga dan sepatu si sulung menjadi basah. Saya tidak terlampau kawatir. Karena ternyata si sulung sudah menemukan solusi atas masalahnya sendiri.

“Adik, kakak pinjam baju olahraganya ya sehari aja. “ kata si sulung kepada adiknya yang juga sekolah di tempat yang sama. Baju olahraga hanya satu pasang dan sepertinya saya memang harus mengalokasikan dana untuk membeli baju olahrag yang baru yang ukurannya sesuai dengan tinggi badannya. Baju yang lama sudah mulai kekecilan. Tapi sementara ini belum terealisasi.
Tak lama kemudian hape berbunyi.
“Ummi hapenya bunyi”, kata si sulung.
Saya lihat peneleponnya adalah kepala sekolah tempat ananda belajar.
“Wa alaikum salam. Iya Halo, iya ustadz ada apa?” kata saya menjawab telepon.
“Oi, lagi sibuk tak.” Kata Kepala Sekolah. Bahasa kami memang obrolan seperti biasa karena kami sudah mengenal baik.
“Tidak tadz, biasa saja”, kata saya.
“Antarlah khana tu. Bus nya dah nak berangkat ini.” Lanjut kepala sekolah.
“Lah ustadz, kata khana tunggu informasi ini tadi. Makanya kami santai-santai. Ya tadz kami segera meluncur kesitu”, kata saya.
“Nah kakak, udah ditunggu mobil bus nya. Ayok kesana cepetan ke sekolah Ummi anterin”, kata saya kepada si sulung.
Hari ini ternyata tetap berangkat pagi menuju lokasi perlombaan yang ada di sekupang. Yang berangkat hanya team volly putra dan putri. Dan supporternya adalah anak santri kelas 6.

Tidak berselang lama, kurang lebih jam 10 si sulung sudah tiba di rumah lagi. Eh pulang cepat. Kata saya dalam hati. Melalui info di WA grup walisantri saya sudah tahu bahwa team belum bisa lolos masuk ke final. Tapi itu tidak masalah. Justru saya sangat berterima kasih kepada sekolah yang sudah membina anak-anak dan juga kepada anak-anak saya acungi jempol karena mereka sudah semangat berlatih walaupun belum bisa mendapatkan bonus juara. Dengan wajah yang kurang semangat si sulung menceritakan bahwa team nya kalah.

Tidak apa-apa. Iya harus ada yang kalah agar ada yang menang. Bukankah resiko sebuah perlombaan itu kalau tidak menang ya kalah. Itu lah resiko sebuah ikhtiar yang maksimal.

#Harike9
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Resensi buku ”Hanya Cinta-Nya”

 Karya Riawani Elyta & Risa Mutia Buku "Hanya Cinta-Nya"             Akhir-akhir ini daya baca masyarakat memang m...