Selasa, 16 Oktober 2018

Hari kesepuluh si bungsu kemana


Hari sabtu  ada kegiatan pestakom yang diadakan oleh BP Batam di pantai ocarina. Setelah mengantar anak-anak pergi ke sekolah  saya pulang kerumah mempersiapkan apa yang akan saya bawa dan mempersiapkan saat saya tinggal rumah aman.

Setelah meminta ijin kepada abinya saya berangkat ke tempat acara. Nah kebetulan sekali ada 3 komunitas yang saya ikuti. Dan ketiga-tiganya juga membuat stand di pestakom tersebut. Pestakom singkatan dari pesta komunitas. Tidak saya sangka ketiga komunitas yang saya ikuti ternyata tendanya berderet tetanggaan. Yaitu stand Kampus Kansa, Ibu Profesional dan Forum Lingkar Pena.
Jam 12.56 hape berbunyi ternyata abinya yang menelepon. “Ummi adik anis kemana?” begitu kata abinya.

Astaghfirullah saya lupa memberitahukan kepada kakaknya agar menunggu adiknya hari ini. Saya lupa menitipkan pesan kepada ustadzah nya dan saya juga lupa menyampaikan kepada abinya.
Setelah menghubungi beberapa ustadzah nya di RA, alhamdulillah ternyata tadinya abinya menjemput si bungsu. Abinya sempat mencari-cari. Dikira oleh gurunya, si bungsu sudah pergi bersama abinya. Eh tak tahunya masih main di kelasnya. Akhirnya oleh ustadzahnya diantar ke rumah. Pengalaman berharga bagi saya agar tidak terlupa saat melakukan kegiatan diluar rumah.

Setelah dari Ocarina, saya sebenarnya ingin mampir ke Kepri Mall tempat diadakanya acara final lomba pildacil yang diadakan oleh BP Batam. Tapi mengingat saya harus save tenaga untuk besok ahad masih di acara pestakom tersebut akhirnya saya membatalkan niat itu. Apalagi untuk besok saya berencana untuk mengajak anak-anak untuk ikut serta di pantai.
“Ayo.... siapa besok yang mau ikut Ummi ke Ocarina”, kata Ummi.
“Sayaaaaa.......”, serempak mereka menjawabnya.

#Harike10
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Hari kesembilan pinjam baju olahraga


Pagi sebelum sekolah agak santai. Hujan kemaren membuat baju olahraga dan sepatu si sulung menjadi basah. Saya tidak terlampau kawatir. Karena ternyata si sulung sudah menemukan solusi atas masalahnya sendiri.

“Adik, kakak pinjam baju olahraganya ya sehari aja. “ kata si sulung kepada adiknya yang juga sekolah di tempat yang sama. Baju olahraga hanya satu pasang dan sepertinya saya memang harus mengalokasikan dana untuk membeli baju olahrag yang baru yang ukurannya sesuai dengan tinggi badannya. Baju yang lama sudah mulai kekecilan. Tapi sementara ini belum terealisasi.
Tak lama kemudian hape berbunyi.
“Ummi hapenya bunyi”, kata si sulung.
Saya lihat peneleponnya adalah kepala sekolah tempat ananda belajar.
“Wa alaikum salam. Iya Halo, iya ustadz ada apa?” kata saya menjawab telepon.
“Oi, lagi sibuk tak.” Kata Kepala Sekolah. Bahasa kami memang obrolan seperti biasa karena kami sudah mengenal baik.
“Tidak tadz, biasa saja”, kata saya.
“Antarlah khana tu. Bus nya dah nak berangkat ini.” Lanjut kepala sekolah.
“Lah ustadz, kata khana tunggu informasi ini tadi. Makanya kami santai-santai. Ya tadz kami segera meluncur kesitu”, kata saya.
“Nah kakak, udah ditunggu mobil bus nya. Ayok kesana cepetan ke sekolah Ummi anterin”, kata saya kepada si sulung.
Hari ini ternyata tetap berangkat pagi menuju lokasi perlombaan yang ada di sekupang. Yang berangkat hanya team volly putra dan putri. Dan supporternya adalah anak santri kelas 6.

Tidak berselang lama, kurang lebih jam 10 si sulung sudah tiba di rumah lagi. Eh pulang cepat. Kata saya dalam hati. Melalui info di WA grup walisantri saya sudah tahu bahwa team belum bisa lolos masuk ke final. Tapi itu tidak masalah. Justru saya sangat berterima kasih kepada sekolah yang sudah membina anak-anak dan juga kepada anak-anak saya acungi jempol karena mereka sudah semangat berlatih walaupun belum bisa mendapatkan bonus juara. Dengan wajah yang kurang semangat si sulung menceritakan bahwa team nya kalah.

Tidak apa-apa. Iya harus ada yang kalah agar ada yang menang. Bukankah resiko sebuah perlombaan itu kalau tidak menang ya kalah. Itu lah resiko sebuah ikhtiar yang maksimal.

#Harike9
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Hari kedelapan pemain volley cadangan


Hujan deras mengguyur. Batam memang tidak bisa diprediksi cuacanya. Saat sedang panas-panasnya matahari tiba-tiba hujan turun deras. Atau sebaliknya saat hujan deras, eh perumahan sebelah kering-kering saja.

Hari kamis ini sesuai jadwal si sulung mengikuti perlombaan porseni madrasah. Dengan semangatnya bangun pagi. Sedangkan si adik asyik memeluk bantal karena libur. Menjelang siang hujan deras tampaknya rata seluruh batam. Walau hanya sebagai cadangan lomba volly itu bukan masalah yang penting semangatnya. 

“Hore, masuk semi final.” Begitu katanya saat sore hari saya menjemputnya disekolah.
“Alhamdulillah. Menang ya kak”, kata Ummi.
“Iya mi. Grup kami menang.” Kata si sulung.
“ Jadi kakak tadi mencetak berapa poin?”, tanya ummi.
“Enggak mi. Kakak Cuma cadangan. Sama ustadzah dipilih yang besar-besar tinggi-tinggi. Trus lawan mainnya itu gak bisa ngembali in bola. Jadi kami menang lah”, lanjutnya.
“O, jadi kakak gak sempat cetak poin?”
“Enggak mi. Kami besok kesana lagi. Tapi Cuma volly aja sama ustadzah pembimbingnya.” Kata si sulung.
“Ya gak papa cadangan. Cadangan itu suatu saat dibutuhkan. Yang penting kakak mau latihan maksimal dan semangat berlatih. Itu saja sudah.” Kata Ummi memberikan motivasi kepada si sulung. Bahwa apapun amanahnya lakukanlah dengan maksimal. Hasil nya apa biarlah Allah yang menentukan. Kita hanya ikhtiar, berdo’a dan tawakal kepadanya.

#Harike8
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional


Semua anak adalah bintang 8

Hari sudah sore menjelang magrib. Kak Khana bertanya kepada saya dimana letak kunci motor Scoopy. Biasanya kalau bertanya seperti itu kare...