Kamis, 28 Februari 2019

Aliran Rasa Tantangan Stimulus Matematika Logic


Mata pelajaran matematika terkenal menjadi momok bagi sebagian besar pelajar. Tidak percaya silahkan tanyakan kepada para pelajar. Saya ingat ketika sekolah di tingkat SMA, diantara sekian pelajaran yang di-Ujian Nasional-kan nilai yang sangat susah digapai adalah matematika. Dan hampir rata-rata pelajar mendapatkan nilai matematika di bawah standar. Mau tau berapa nilainya? Nilai 4, 3 bahkan nilai 2 juga banyak. Padahal untuk mata pelajaran yang lainnya masih bisa dicapai dengan nilai 7 atau 8. Maka kalau nilai UN dapat angka 5 atau 6 itu sudah lumayan ya. Hal ini merupakan indikasi bahwa matematika merupakan mapel yang tidak mudah bagi mereka.

Bisa belum tentu senang. Senang bisa membuat bisa!
Terpikirkah kita bagaimana cara membuat anak-anak senang dengan matematika tanpa harus terbebani dengan bermacam-macam rumus? Andaikan mereka sudah merasa senang dengan matematika, saat duduk di bangku sekolah tentu lebih enjoy dalam mempelajarinya. Sehingga tidak merasa terpaksa hanya sekedar bisa tanpa menikmati dan happy.

Keren .....
Tantangan di kelas Bunda Sayang selalu keren. Karena membuat emak-emak jadi lebih membuka mata dan hatinya untuk menambah wawasan lebih luas

Sabtu, 23 Februari 2019

Stimulus Matematika Logis 10


Siang yang panas hari ini. Kipas terus berputar dengan sambil terkantuk-kantuk saya berusaha untuk membuka mata. Karena saya harus bangun dan menghadiri undangan salah satu kawan yang menikah.
“Eh, dik Anis. Jumlah jari kaki kanan Ummi ada berapa?” tanya Ummi mengingat masih ada tantangan yang tersisa dari game level 6 di kelas bunsay. Yes, saya mendapat ide untuk menstimulus matematika logis dengan cara menanyakan jumlah jari kaki kepada si bungsu.
“Ada 10 Mi.” Jawab si Bungsu.
“Loh kok 10, ini lho jari kaki Ummi yang kanan ada berapa?”, tanya Ummi.
“Ada 10 Ummi.” Jawabnya.
“Bener nich ada 10.” Kata Ummi.
“Iya 10 lah jari kaki.” Katanya.
“Tapi Ummi kan Cuma tanya yang kaki kanan. Kaki kirinya enggak.” Kata Ummi.
“Eh ada 5.” Katanya.
“Nah yang jari kaki kanan ada berapa?” tanya Ummi.
“Ada 5”, jawabnya.
“Kalo yang jari kaki kiri ada berapa?” tanya Ummi.
“5 juga”, jawabnya.
“Nah sekarang kalo Ummi tanya jari kanan ditambah jari kaki kiri berapa semuanya?” tanya Ummi.
“Sepuluhhhhhh”, jawabnya sambil tersenyum.
Tumben banget pertanyaan kali ini dijawab salah awalnya. Mungkin karena pertanyaan saya kurang pas. Karena membedakan ini kaki kanan dan satu lagi kaki kiri.


#Harike10
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 9


“Ummi gimana ini. Bantuin lah jawab soal try out.” Pinta anak pertama saya.
“Soal apa kak?” tanya Ummi.
“Soal matematika Mi. Soal pecahan. Cuman satu ini yang kakak belum bisa.” Katanya.
“Duh, Ummi lupa.” Kata Ummi.
“Tapi kan Ummi dulu juara 1 terus. Masak nggak bisa.” Lanjutnya.
“Ya, sudah lupa mau diapain. Kan Ummi juaranya sudah belasan tahun yang lalu...hehehe.” Kata Ummi.
Itu sekilas dialog saya dengan si kakak. Sebagai orang tua saya tetap berusaha dengan cara memfasilitasi agar mereka bisa belajar dengan baik. Meskipun untuk pelajaran tertentu saya tidak bisa mengajarkan sendiri. Dan saya juga tidak memasang target kepada mereka harus mendapat nilai sekian-sekian. Tinggi atau rendahnya nilai yang mereka dapatnya yang penting mereka sudah berusaha dan harus bisa legowo menerima apapun hasilnya.            


#Harike9
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Jumat, 22 Februari 2019

Stimulus Matematika Logis 8


Cerita hari ini berkaitan dengan kakak-kakak si bungsu. Kakak-kakak si Bungsu mereka ikut les sempoa sampai tingkat 5. Keduanya demo ke saya untuk cuti tidak les. Kakak yang pertama ingin cuti les karena pemantapan pelajaran untuk kelas 6, sedangkan yang kedua cuti karena capek.
                                                           
Sudah beberapa kali mereka minta libur tapi saya tidak mengijinkan. Baiklah kali ini saya mengijinkan dan saya akan menganalisa seperti apa perkembangannya. Hm, ternyata masih ada kangen juga dengan suasana les sempoa. Entah kenapa siang itu mereka berdua sangat rajin menyelesaikan soal-soal yang ada di buku latihan sempoa. Saya hanya bisa tersenyum. Toh sebenarnya untuk les sempoa ini tidak mengganggu pelajaran mereka. Hanya 2x seminggu pertemuannya.

#Harike8
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 7


Hari ini saya tidak banyak ngobrol dengan si bungsu karena si bungsu sedang asyik bermain dengan teman barunya. Ide terkadang bisa mampet ya. Tapi saya bersyukur secara pelan-pelan saya bisa menstimulus matematika logis untuk anak. Hal ini menurut saya penting. Intinya belajar dengan cara menyenangkan. Bukannya apa-apa. Kalau sudah tidak senang terhadap sesuatu kadang kita jadi tidak semangat untuk mempelajarinya.

Saya contohkan ketika sekolah di SMEA saya sangat tidak suka pelajaran “pelayanan prima” dan “ekonomi”. Alasannya karena cara mengajar gurunya yang ketika ujian jawaban kami harus sama persis dengan buku. Beda satu kata saja sudah berkurang nilainya. Sedangkan saya lebih suka memahami sebuah pelajaran kemudian menyampaikan dengan bahasa saya sendiri. Well, semoga anak-anak senang belajar segala sesuatu yang baik.

#Harike7
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 6


“Wah Ummi, kuenya banyak. Ummi beli dari mana tadi.” Pertanyaan si bungsu ketika melihat ada beberapa jenis kue di meja dapur.
“Ummi beli di Genta tadi sekalian beli buku.” Jawab Ummi.
“Adik mau kue yang warna-warni ini ya.” Katanya.
“Iya boleh, tapi Ummi juga mau dikit ya.” jawab Ummi.
Si Bungsu kemudian membagi secuil kue rainbow (kue warna-warni) yang dipegangnya. Saya memang hanya membeli 1 pcs. Potongan kue yang diberikan kepada saya yaitu ¼ bagian. Kemudian saya tidak menyangka si bungsu berinisiatif dengan mengatakan bahwa ia akan membagi ¼ kue untuk Rafif (saudara sepupunya), 1/4 lagi untuk Qanita (saudara sepupunya) dan ¼ lagi untuk dirinya sendiri.
“Enak Mi kuenya. Besok-besok beli lagi ya...”

#Harike6
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 5


Sudah larut malam si Bungsu belum mau tidur. Padahal kakak-kakaknya sudah tidur nyenyak. Jam dinding menunjukkan  jam 22.30 WIB.
“Dik, ayolah tidur.” Kata Ummi.
“Adik belum ngantuk Mi,” kata si Bungsu.
Memang hari ini si Bungsu tidur siang selama 2 jam lebih. Sayapun juga sedang asyik membaca. Jadilah dia membongkar mainan, menyusun, memasukkan kedalam tas, dan seterusnya.
“Ummi, ada plastik besar gak?,” tanya nya.
“Ada. Coba ambil di dapur itu dik, tempat plastik plastik.” Jawab Ummi.
Secepat kilat berdiri dan ke dapur mengambil plastik. Kantong plastik yang didapatnya mungkin tidak sesuai harapannya, sehingga dia masih bertanya adakah yang lebih besar dari  kantong plastik yang dipegangnya. Secara tak sengaja ada plastik di sela-sela buku-buku di kotak box.
Srettt.
“Ah plastik ini aja ya Mi. Eh ada isinya Mi. ,” katanya.
Memang itu adalah kantong plastik bekas belanjaan saya di minimarket. Agak besar ukurannya. Dan masih ada isinya bumbu dapur instan dan permen.
“Ada permennya Mi,” kata si bungsu.
“Berapa jumlah permennya?,” kata Ummi.
“Ada 3 Mi.” Jawabnya.
“Permen rasa apa saja?,” kata Ummi.
“Hm rasa... jeruk 2, strowberry 1.” Jawabnya.
“Ummi mau dong rasa jeruknya.” Kata Ummi.
“Ini Mi. Satu lagi untuk kakak ya Mi.” Katanya.
“Kakak, kakak, ini permen untuk kakak.” Teriaknya sambil lari ke kamar kakaknya. Padahal kakaknya sudah tidur nyenyak dari tadi.

#Harike5
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 4


Kegiatan setiap sore saya yaitu mengajar di Taman Pendidikan Al Qur’an. Si bungsu belum mau masuk kelas mengaji bersama kawan-kawan sebayanya. Ketika ditanya alasannya selalu karena mau mengaji sama Ummi. Akhirnya memang selalu mengekor di belakang saya ketika mengaji. Disaat saya duduk maka si bungsu duduk disamping saya. Apa yang dikerjakannya selalu ada saja. Mulai membongkar dan menyusun buku prestasi santri, menggambar, dan masih banyak lagi.
“Dik tolong hitung buku prestasi yang ini,” kata Ummi.
“Hitung ya Mi,” kata si Bungsu.
“Iya tolong hitung ya, berapa jumlahnya,” kata Ummi.
Sebenarnya saya tidak ingin benar-benar menghitung berapa jumlah buku tersebut. Saya hanya ingin memberi tantangan kepada si Bungsu apakah bisa menghitung dengan tepat atau tidak.
“ Satu, dua, tiga, ... tiga belas. Tiga belas Mi jumlahnya. “ teriak si Bungsu.
“Benarkah tiga belas. Coba Ummi cek.” Kata Ummi.
Ternyata benar bahwa jumlah buku yang saya sodorkan tadi berjumlah 13. Sebenarnya masih ada buku yang lain. Hanya saja masih terpakai. Tak apalah untuk hari ini belajar sekian saja.


#Harike4
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 3


“Dik lihat buku yang Ummi pegang. Mana yang lebih besar dan mana yang lebih kecil?”, kata Ummi.
Yap hari itu ketika sedang menulis, saya jadi punya ide untuk menanyakan kepada si bungsu tentang besar kecilnya ukuran buku yang ada didepan saya. Kebetulan ada 1 buku ukuran kuarto berwarna merah dan 1 buku ukuran A5 berwarna  hitam. Selain menanyakan ukuran saya juga menanyakan warnanya.

Belajar matematika bisa kita lakukan dengan benda-benda yang ada disekeliling kita.


#Harike3
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Senin, 18 Februari 2019

Stimulus Matematika Logis 2


Hari itu saya ada tamu seorang ibu yang hendak mengambil buku bank soal untuk ujian anak-anak TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an). Saat sibuk menulis rekap jumlah buku tiba-tiba datang si bungsu memperlihatkan jajan yang dibelinya dari warung.

“Ummi, lihat Ummi. Adik punya topeng.”, kata si bungsu.
Sejenak saya melihat jajan apa yang dibeli si bungsu dari warung. Ternyata permen coklat warna-warni dengan kemasan berbentuk topeng.  Aha, timbul  ide saya untuk menanyakan pengetahuannya perihal bentuk kemasan jajannya.

“O, dik lihat ini topengnya berlubang-lubang. Mana lubang yang lebih besar. Yang ini atau yang ini. “ kata saya sambil menunjuk pada lubang topeng jajan tersebut.
Si bungsu berpikir agak lama, karena sebenarnya lubang mata pada topeng itu sama besar.
“Ini yang kecik Mi. Kalau ini lubang besar.” Jawab si bungsu sambil menunjuk pada lubang tempat karet topeng dan menunjuk pada lubang untuk mata topeng.
Sebenarnya saya hanya menanyakan lubang untuk mata tapi si bungsu ternyata lebih teliti dengan menunjukkan lubang untuk karet topeng.


#Harike2
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 1



“Dik, lihat tangan Ummi”, kata Ummi.
“Memang kenapa Mi?”, jawab si bungsu.
“Mana yang lebih panjang di antara 5 jari Ummi?”, kata Ummi.
Sebelum menjawab kelihatan si bungsu tersenyum, sambil memegang jari-jari saya (Ummi).
“Hm, jari ini Mi”, jawabnya.
“Ini jari apa namanya?”, kata Ummi.
“Jari telunjuk.”, jawabnya.
“Seratussssss.”, kata Ummi.


Itu adalah sepotong percakapan saya dengan si bungsu. Sekolah nya masih tingkat Raudhatul Athfal karena umurnya 5 tahun. Beberapa hari lagi menginjak umur 6 tahun. Hari ini saya mencoba tantangan stimulus matematika logis dengan menggunakan jari –jari tangan.
Alhamdulilah si bungsu paham mana jari yang lebih panjang dan mana jari yang lebih pendek. Serta hafal dengan baik nama-nama jari.


#Harike1
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Be Kreatif Mom and Kids 10

S enangnya melihat meja belajar terlihat rapi. Ada 2 meja belajar dirumah dan setiap meja disampingnya ada lemari tempat bukunya. Satu mej...