Minggu, 25 Agustus 2019

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk membangkitkan fitrah seksualitas



Apa yang terjadi saat ini? Apakah krisis gender ? Pergaulan bebas? Pendidikan, keluarga, ibu, ayah, lingkungan?
Percaya ataukah tidak ternyata benang merah dari persoalan yang ada adalah pada peran ayah. Ya, peran ayah. Mari kita buka kitab Tuhfatul Maudud Ibnu Qoyyim yang mengatakan bahwa:
“Jika terjadi kerusakan pada anak, penyebab utamanya adalah ayah”
Kenapa ayah? Sudah lazim bagi sebagian orang, Ayah yang dianggap sebagai pemimpin ternyata tak lebih hanya dianggap sebagai mesin ATM. Kenapa? Karena minimnya peran Ayah didalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Semua pengasuhan dan pendidikan dilimpahkan kepada Ibu.

#Day4
#Bunsaylevel11
#Fitrahseksualitas
#kuliahbundasayangII

Peran Orang Tua Dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas



Orang tua adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, boarding school dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dan lain sebagainya.
Tahapan pendidikannya adalah sebagai berikut:

a. Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui.
b. Usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki"
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.
Hati hati memasukkan anak kita ke PAUD yang gurunya tidak sepasang, karena bisa mengganggu keseimbangan emosional dan rasional. Anak lelaki yang gurunya lebih banyak perempuan berpotensi "melambai", sementara anak perempuan gurunya lebih banyak lelaki cenderung tomboy dsbnya.
c. Usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, bermain dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.
d. Usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki dewasa atau suami yang kasar, egois dsbnya.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.

#Day3
#Bunsaylevel11
#Fitrahseksualitas
#kuliahbundasayangII

Pendidikan Fitrah Seksualitas sejak dini


Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Ustad Harry Santoso berjudul Fitrah Seksualitas, telah dipaparkan secara gamblang bagaimana pentingnya pendidikan fitrah seksualitas sejak dini.

Punya suami yang kasar? Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang "sangat tergantung" pada istrinya? Bingung membuat misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.
Kok sebegitunya?
Ya karena sosok ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna. Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.

#Day2
#Bunsaylevel11
#Fitrahseksualitas
#kuliahbundasayangII

Pemahaman Perbedaan Gender



Kita perlu memahami bahwa gender dan seks itu berbeda. Gender adalah sifat atau perilaku dan peran sebagai laki laki dan perempuan. Sedangkan seks adalah organ vital yang ada pada manusia, laki-laki atau perempuan. Sifatnya pun berbeda, jika seks bersifat mutlak, sedangkan gender bisa ditukar.

Menurut Wikipedia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan gender sebagai "... peran, perilaku, kegiatan, dan sifat yang terkonstruksi secara sosial dan dipandang diperuntukkan berbeda ke dalam kategori maskulin dan feminin. "Food and Drug Administration (FDA) dahulu menggunakan istilah gender untuk menyebut perbedaan fisiologis antara laki-laki dan perempuan. Pada tahun 2011, FDA merevisi sikap tersebut dan mulai menggunakan istilah seks untuk menyebut klasifikasi biologis dan gender untuk "representasi diri seseorang sebagai laki-laki atau perempuan atau bagaimana ia merespon terhadap institusi-institusi sosial yang didasarkan pada presentasi gender seseorang." Gender juga kini masih dipakai untuk menyebut fisiologi hewan nonmanusia tanpa mengartikannya sebagai peran sosial gender.

Cara memahamkan perbedaan gender bisa melalui berbagai cara salah satunya dengan melalui media, games-games dan pola asuh keseharian.

#Day1
#Bunsaylevel11
#Fitrahseksualitas
#kuliahbundasayangII

Sabtu, 29 Juni 2019

Be Kreatif Mom and Kids 10


Senangnya melihat meja belajar terlihat rapi. Ada 2 meja belajar dirumah dan setiap meja disampingnya ada lemari tempat bukunya. Satu meja agak sedikit berantakan dan meja satu lagi sangat rapi, bersih dan kosong. Tak ada bukunya sama sekali.
Meja belajar yang sangat bersih tersebut milik anak kedua saya. Karena penasaran kok bukunya bersih gak ada sama sekali jadi saya bertanya. “Dik, Alhamdulillah bersih ya mejanya…” .
“Iya dong bersih.” Katanya sambil tertawa.
Selidik punya selidik rupanya semua bukunya dipindahkan di lemari saya dan sebagian diletakkan di kantong kresek. Woalah….
Pantesan kalo seperti itu……

#day10
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Be Kreatif Mom and Kids 9



“Kak, tolong jemur bajunya ya?”, pinta Ummi kepada anak sulungnya.
“Hem….”, rengekan si sulung ketika merasa keberatan dengan permintaan Umminya.
“Tolonglah kak, ini kan baju kakak juga.” Kata Ummi sekali lagi.
“Yalah”, jawab si sulung.
Ada saat nya sebagai anak yang beranjak remaja itu banyak maunya dan labil. Sebagai seorang ibu tentu kita ingin memberikan bekal yang cukup kepada anak agar kelak bisa menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Tak sengaja Ummi pergi ketempat jemuran untuk mengambil baju yang sudah kering. Huff, kira-kira apa yang sudah Ummi lihat ya …
Ternyata oh ternyata…. Baju yang tadi dijemur oleh si sulung sudah selesai dijemur. Akan tetapi ternyata oh ternyata…. Baju satu ember hanya di tumpuk menjadi satu di jemuran. Ya memang dijemur sih tapi kalau begitu caranya ya kapan keringnya yaaaa……
Huft… tarik nafas. Ini anak terlampau kreatif yah…

#day9
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Rabu, 26 Juni 2019

Be Creative Mom and Kids 8



 “Nak ini mainanmu atau mainan ibu?”



#day8
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

“Buku Ragam Pidato Anak Islami: Panduan Lengkap untuk Membimbing Anak Menjadi Juara Pidato Islami”

  Review Buku: Ragam Pidato Anak Islami Karya: Alumi Ulum   Dalam dunia pendidikan anak, terutama di lingkungan TPQ dan Madrasah Ibtid...