Sabtu, 10 Februari 2018

Film “Cinta Suci Zahrana”
               
Novel karya Kang Abik, selalu menjadi best seller bagi para pembaca. Dan banyak novel-novel karya beliau yang digarap serius menjadi sebuah film termasuk “Cinta Suci Zahrana” .
Al kisah, seorang gadis yang sudah mapan secara karier sebagai dosen berprestasi di sebuah universitas serta mendapatkan penghargaan baik dalam maupun luar negeri. Namun hal itu bukanlah sesuatu yang membanggakan, bukan kebanggaan khas “orang desa” seperti kedua orang tua Zahrana.

                Lingkungan tempat tinggal Zahrana adalah sebuah daerah yang bisa dikatakan tidak semuanya berpikiran sama. Bagi sebagian orang adalah aib bila ada gadis yang sudah berumur 30 tahun lebih tapi belum menikah. Hhhhh.... apalagi bila daerah yang kolot, bila sudah umur 7 tahun atau lulus SMA pilihannya hanya ada 2 yaitu bekerja atau menikah. Umur 20 tahun keatas sudah mulai banyak pertanyaan,  “Kapan nikah..kapan nikah”. Lewat umur 25 tahun seperti lampu kuning lalu lintas... ayo ayo cari jodoh. Lewat umur 30 tahun,  orang tua mulai mengurut dada sambil menjawab pertanyaan para tetangga. Anaknya kok belum nikah, hati-hati lo nanti perawan tua.

                Rana, demikian panggilan untuk gadis semata wayang pak Munadjat yang sukses. Ketika lulus dari dengan predikat terbaik dari UGM dan langsung mendapat tawaran sebagai dosen, Rana ternyata mendapat pilihan  untuk mengajar di dekat lingkungan tempat tinggalnya yaitu di Universitas Mangun Karsa agar ia juga tak jauh dari orang tuanya. Menjadi dosen dengan modal S1, membuatnya bertekad untuk menyelesaikan S2.

                Jodoh. Orang tuanya sudah ingin menjodohkannya dengan laki-laki pilihan mereka, tapi apa daya ada hal lain yang membuat itu belum terlaksana. Bahkan sahabatnya Lina pernah menjodohkannya dengan Mas Andi kenalannya, tapi namanya belum jodoh malah Lina sendiri yang menikah dengan Mas Andi, karena Rana merasa belum sreg dan masih disibukkan dengan kuliahnya serta kariernya.

                Lika-liku perjalanan seorang gadis yang disisi lain gemilang dalam karier, di satu sisi ada tuntutan dari orang tua untuk segera menemukan jodohnya. Mulai dari dilamar dekan nya yang seorang  playboy yang “nakal” yang dibalas dengan penolakan lewat email yang berujung pada pengunduran dirinya dari universitas tersebut, kemudian penolakan terhadap seorang kepala keamanan yang tidak bisa membaca Al Qur’an, belum lagi penolakan terhadap wali mantan murid lesnya.
                Sejatinya gadis mana yang tidak sedih karena belum menemukan tambatan hatinya. Sedih. Apalagi melihat kenyataan bahwa sang ayah menderita penyakit jantung yang serius. Belum lagi bisikan tetangga, ejekan dekan nya yang ditolak dengan lantang menyebutnya “perawan tua”. Duh gusti tidak muluk-muluk, kriteria jodohnya. Yang bisa menjadi imam dalam rumah tangga. Lulusan apa dan pekerjaan apa tidak masalah baginya. Tapi bila jodoh belum datang, hanya ikhtiar, berdo’a dan berusahalah yang bisa dilakukan.

                Mundur dari universitas Mangunkarsa, kemudian membuka les bimbel dan akhirnya diterima di sebuah STM Al Fattah di lingkungan pondok pesantren Al Fattah dengan harapan disana dia bisa menemukan jodohnya. Berkat bantuan sahabatnya Lina, mereka menemui bu Nyai untuk dicarikan jodoh terbaik. Akhirnya jodoh itu datang, seorang pemuda lulusan MAN pilihan bu Nyai, yang berprofesi sebagai penjual krupuk. Tanpa banyak pertanyaan jodoh itu diterimanya dengan lapang dada, berlangsunglah lamaran dan persiapan pernikahan. Kebahagiaan menyelimuti keluarga pak Munadjat karena pernikahan yang akan diselenggarakan keesokan harinya.
               
                Jodoh tak dapat diundang , malang tak dapat ditolak. Tepat malam hari sebelum pernikahan, kabar buruk itu datang. Calon penganten laki-laki meninggal tertabrak kereta api. Jodoh, rezeki, hidup dan mati sudah menjadi suratan Ilahi. Pada hari yang sama, pak Munadjat juga menghembuskan nafas terakhirnya. Sedih. Pilu. Shock. Bercampur aduk menjadi satu, penantiannya selama ini untuk membahagiakan kedua orang tuanya belum terlaksana. Butuh waktu yang lama untuk menetralisir kesedihan yang mendalam bagi Zahrana. Setidaknya ia membuktikan bahwa ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan usahanya sudah tinggal beberapa saat hanya terhalang oleh maut menghampiri sang calon mempelai laki-laki.

                Ketika terkapar tak berdaya dirumah sakit, dengan kesedihan yang mendalam, ibunya terus memberikan support begitu juga sahabatnya dan dokter dokter dirumah sakit yang salah satunya adalah bu Zulaikha yang ternyata adalah ibu Hasan, mahasiswa yang sempat dibawah bimbingannya dalam penyusunan skripsi.

                Lambat laun, senyum itu semakin berkembang dan mulai membangkitkan semangat Zahrana. Walaupun ia terpuruk, hancur lebur tapi ia sadar bahwa semua itu harus di delete sampai bersih. Dan yang tertinggal hanya bekas-bekasnya tapi siap untuk ditulis dengan hal-hal yang lebih baik lagi. Dengan semangatnya yang baru, senyum yang cerah ia bersiap menyongsong masa depan.
Janganlah berputus asa!!
                Alhamdulillah tak disangka-sangka, kedatangan bu dokter bu Zulaikha ke rumahnya adalah melamarnya untuk Hasan. Kaget. Bersyukur. Khawatir. Kejadian yang telah lalu masih membayanginya. Maka untuk menegaskan keseriusan Hasan dan ketakutannya akan pengulangan kejadian masa lalu yang tidak diinginkannya, Zahrana langsung meminta keseriusan lamaran itu berupa akad nikah hari itu juga selepas isya. Dan........

Alhamdulillah....Jodoh, rezeki, hidup dan mati...... Allah yang mengatur. Tugas kita adalah ikhtiar dan berdo’a serta tawakkal atas ketentuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar