Rabu, 21 Februari 2018

Indonesia .....ah Indonesiaku sungguh terlalu

                Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya yang membuat iri negara lain. Indonesia memiliki ribuan pulau yang mengandung emas, logam, gas, minyak serta alam yang indah dilengkapi dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Tentu saja kekayaan lautnya yang melimpah ruah terkadang membuat kapal nelayan negara tetangga senang menyebrang ke negeri ini.

                Logikanya dengan kekayaan sumber daya alam ini, Indonesia harusnya menjadi negara yang maju bisa berdikari, mandiri, tidak perlu bantuan negara lain lagi dan tidak perlu berhutang yang dibebankan kepada anak cucu pada masa yang akan datang. NOL besar ternyata salah. Pola pikir beberapa para petinggi negeri ini yang bisa di manipulasi dan dibeli, membuat negeri ini semakin terpuruk. Kandungan emas di sebuah pulau,  harusnya bisa membuat pulau itu kaya dan maju. Tapi entah dengan birokrasi apa, dengan aturan apa, dan dengan dalih apa. Sebuah perusahaan Asing bisa mengeruk emas yang ada disana untuk di ekspor ke luar negeri, dan produknya dipasarkan dan  Indonesia menjadi salah satu konsumennya. Aku gigit jari.  Siapa yang dibodohi.

                Sebuah pabrik sepatu di Indonesia memproduksi barang  kemudian di ekspor ke luar negeri  tanpa label. Kemudian oleh sang pembeli, sepatu tanpa label tersebut di beri label merk tertentu dan di packing. Terakhir sepatu bermerk tersebut dilempar ke pasaran Indonesia, orang Indonesia ramai-ramai membeli. Tentu dengan harga yang lebih mahal. Aku gigit jari. Siapa yang dibodohi.

                Di negara lain, pengamanan  berlaku sangat ketat di bandara maupun di pelabuhan yang merupakan perbatasan negara dan akses masuk bagi para pendatang  serta ekspor impor barang. Sehingga di negara lain, sedikit barang haram seperti narkoba bisa lolos dengan hitungan beberapa kilo. Tapi di Indonesia, kok bisa barang haram bisa lolos berton-ton jumlahnya. Aku gigit jari. Siapa yang dibodohi.

                Di negara lain, seorang atlet olahraga yang sudah berprestasi mengharumkan  nama bangsa akan dihargai sedemikian rupa dan dijamin perekonomiannya oleh negara. Tapi dinegeriku ini, jangan heran bila mendengar seorang atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa ini ke tingkat dunia, di masa pensiunnya malah menjual penghargaan yang dimilikinya hanya untuk bertahan hidup. Miris. Aku gigit jari. Siapa yang dibodohi.
               
                Di negara lain, sebuah budaya sekecil apapun akan dilestarikan dan diberikan hak paten. Tapi di sini Anda akan jumpai, budaya itu ada sejak dahulu kala, turun temurun tapi kurang diberdayakan dan terkadang diabaikan. Merasa kepanasan bila budaya tersebut diakui sebagai budaya negara lain. Ah kamu, dari dulu kemana aja. Aku gigit jari.....mulai pintar.

                Di negara lain, sebuah museum akan sangat diperhatikan oleh pihak yang berwenang. Dirawat dilestarikan dan diberi perhatian. Di tempatku, jangan heran bila museum itu berdebu, penuh coretan, kemudian barang-barangnya rapuh satu per satu. Di pojok ruangan satu persatu mulai dirajut sarang penangkap serangga. Aku mulai berpikir.......

                Di negara lain, orang berusaha menciptakan lingkungan yang bersih dan rapi. Sehingga mereka pandai memilah dan memilih sampah sampai mengolah kembali. Bahkan difasilitasi oleh negara. Tapi ditempatku. Ah sudahlah.... banyak orang yang ingin lingkungan bersih dan rapi. Tapi tak banyak yang ingin menciptakannya. Membuang sampah entah kemana tak peduli. Sampah  segala rupa dicampur menjadi satu. Yang penting buang-buang sampah itu tanpa peduli akan berakhir kemana sampah ini. Pernah kan lihat ada kebanjiran gara-gara sampah yang menyumbat di selokan. Sampah menumpuk di tempat pembuangan sementara, meluber sampai ke badan jalan penyumbang aroma yang berbeda. Aku tutup hidung.... tak tahan....


                Tapi tenanglah itu hanya sedikit tragedi yang tergambar dari kacamata yang kacanya mulai retak dan buram, sehingga terkadang sudah tak jelas lagi ketika digunakan untuk melihat. Tragedi yang lain masih banyak tapi saat ini hanya itu saja yang ingin kusampaikan. Pada saat yang sama, masih ada minoritas di negeri ini yang tertatih-tatih berteriak pelan, sedang dan lantang untuk membuka mata pihak-pihak yang berwenang dan mengajak siapapun yang bisa di ajak. Meski aku tidak bisa berteriak dan hanya bisa bergumam. Aku ingin menjadi minoritas itu yang tetap memiliki semangat untuk bangkit agar Indonesiaku tidak terlalu.....

6 komentar:

  1. semakin banyak kepala, semakin susah membuat satu suara. penduduk Indonesia amat sangat banyak kak. sebagian memperbaiki, sebagian malah menggerogoti. mungkin perubahan itu bisa dimulai dari saling peduli satu sama lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bhinneka tunggal ika ya mbak......

      Hapus
  2. saya juga gigit jari...tapi saya percaya. setiap pemerintahan akan membuat yg terbaik utk rakyatnya.
    karena semua butuh proses.

    BalasHapus
  3. saya juga gigit jari...tapi saya percaya. setiap pemerintahan akan membuat yg terbaik utk rakyatnya.
    karena semua butuh proses.

    BalasHapus
  4. saya juga gigit jari...tapi saya percaya. setiap pemerintahan akan membuat yg terbaik utk rakyatnya.
    karena semua butuh proses.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah...gigit jari nya berkali-kali ya mas fauzi.....
      semoga kita termasuk orang-orang yang berproses agar Indonesia lebih baik lagi

      Hapus