Minggu, 07 April 2019

Semua anak adalah bintang 6


“Kak, tolong cuci piringnya.” Pinta Ummi kepada anak sulung.
“Ya adik lah Mi. Kemaren kakak khan sudah nyuci piring.” Jawab Kak Khana.
“Ah mana ada ya. Aku sudah pernah kok nyuci piring”. Timpal adiknya.
“Aku juga sudah kemaren.” Kata Kak Khana.
“Ya sudah, aku juga sudah nyuci piring”, kata Dik Dina.

Lagi-lagi, …….
Perihal mencuci piring ini memang butuh ekstra sabar dan rayuan maut agar ananda mau mencuci piring. Akhirnya mereka terlihat saling membagi jumlah cucian piringnya. Setiap 1 orang mencuci piring dan alat masak lainnya sebanyak 10 item.  Saya terdiam melihat bagaimana mereka saling membagi cucian piring. Setelah 10 item yang dicuci barulah bergantian.


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 5


“Kak, tolong bantu jemur baju?”, pinta Ummi.
Belum lagi menjawab apa yang saya pinta, dari mukanya sudah kelihatan sekali bila ananda tidak menyukai urusan laundry baju. Terkadang karena hal ini saya mesti berdebat terlebih dahulu dengan mereka. Belum lagi kalau mesin cuci sedang rusak atau air ATB sedang mati.

Ehm….wusssss harus banyak-banyak menghirup udara segar agar tidak stress. Yap, dari reaksi yang ananda berikan mereka belum merasa happy dengan urusan laundry. Mereka belum faham tentang perlunya mencuci, menjemur dan melipat baju. Harus diberi tahu dan disuruh terlebih dahulu, barulah baju kotor itu mulai dicuci. Sudah dicuci terkadang tidak langsung dijemur. Sudah dijemur pun, dikasih tahu terlebih dahulu barulah mau angkat baju. Baju yang sudah kering sudah diangkat, belum tentu langsung dilipat. Yang ada dibolak balik seperti orang yang sedang membakar ikan. Akhirnya baju tadi makin lama makin bergulung dan makin lecek kusut.

Walau tak suka tapi setidaknya mereka punya ketrampilan di bidang laundry. Why not?

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 4


Kebiasaan anak pertama yang suka menggoreng telur sendiri akhirnya menular juga kepada adiknya. Efeknya telur satu papan yang saya beli biasanya lama habisnya, karena hobby mereka  jadi cepat habis stock telur yang ada. Telur digoreng dengan bermacam-macam variasi. Mulai telur mata sapi, telur dadar, telur kecap, telur campur nasi dan suka-suka mereka masaknya.

Terkadang sambil mengajak kawan bermainnya di ajak masak bareng-bareng. Dari sekedar goreng telur akhirnya ke menu yang lain. Seperti mi goreng, mi kuah, nasi goreng. Mereka masak sendiri dengan porsi untuk dirinya sendiri. Saya hanya bisa mengawasi sambil tetap mengingatkan untuk berhati-hati karena urusan api kompor ini.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 3


Anakku berbinar kala masak sendiri. Untuk anak yang pertama bisa masak apa? Masak yang instan lah ya. Masak nasi goreng memakai bumbu instan nasi goreng. Kemudian masak ceplok telur atau dadar telur. Membuat sambal yang diblender. Dan masakan sederhana lainnya.

Awalnya saya tidak tahu kalau anak-anak saya suka menggoreng telur sendiri. Bahkan pernah pada suatu hari saat saya pergi kuliah dan suami juga kerja di luar, anak-anak sedang memasak yang mengakibatkan rumah hampir saja terbakar. Ketika saya pulang, anak-anak sudah ketakutan karena kawatir saya marah. Saya hanya menarik nafas. Alhamdulillah hanya gorden penutup jendela yang terbakar.

 Ternyata setelah saya bertanya kepada Kak Khana menceritakan bahwa wajan yang sudah diberi minyak goreng diletakkan diatas kompor yang menyala apinya. Makin lama tentu makin panas wajan dan minyaknya. Kemudian ada kawannya mengetok pintu dan hendak meminjam jilbab. Karena ngobrol dan hendak mencarikan jilbab yang mau dipinjam akhirnya ananda lupa dengan wajan nya di dapur.

Otomatis karena wajan yang berisi minyak tadi saking panasnya akhirnya wajan terbakar. Wajan yang terbakar disiram air maka apinya semakin membumbung tinggi dan menyambar kain gorden di jendela dekat kompor. Anak-anak panik dan berteriak-teriak hingga ke jalan. “Kebakaran, kebakaran, kebakaran”. Saya bisa pastikan pasti anak-anak panik, takut, menangis tapi Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa terhadap mereka.

Mendengar teriakan anak-anak, tetangga yang kebetulan lewat segera masuk ke rumah dan berusaha memadamkan api. Yang terbakar hanya kain gorden dan sendok penggoreng yang terbuat dari kayu.

Setelah saya pulang kuliah, pastilah saya kaget dan terdiam. Sambil bersyukur dalam hati karena tidak terjadi apa-apa pada mereka. Selama 3 hari saya tidak mengijinkan mereka untuk menyalakan kompor sendiri. Dan setelah kejadian itu saya tekankan kepada ananda untuk lebih berhati-hati dalam menyalakan kompor. Dan di hari keempat saya mengajak mereka untuk masak bersama. Saya yang menyalakan kompornya kemudian mereka masak seperti biasa. Hari berikutnya ananda saya berikan kesempatan untuk menyalakan dan mematikan kompor sendiri dengan saya ada disampingnya untuk mengawasi. Karena jangan sampai mereka berterusan trauma terhadap kompor dan api. Kalau trauma apa yang terjadi kelak dewasa nanti. Mau tak mau pasti akan membutuhkan kompor dan api.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 2


Tantangan dari level 7 Kuliah Bunda Sayang yaitu mengamati aktivitas anak yang membuat matanya berbinar-binar dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang membuat semua anak-anak saya berbinar adalah kegiatan memasak. Mereka memasak sendiri dan bereksperimen. Bila saya membeli sepapan telor, hamper tiap hari ada saja jenis masakan yang mereka buat. Bahkan kadang-kadang sambil membawa temannya.

Alhamdulillah karena mendapat rejeki 2 kantong mangga dari tetangga, saat jam 21.00 malam iseng-iseng saya berkata kepada Kakak Khana.
“Kak, Ummi pengen bikin manisan mangga lho. Tapi besok sajalah ya.” Kata Ummi. Sengaja meskipun hari sudah malam saya tetap menyampaikan hal itu untuk mengetahui seberapa tertariknya mereka.
“Ah ayo Mi, sekarang saja bikinnya”, jawab Kakak Khana.
“Mau mau Mi, sekarang ajalah”, kata adiknya menimpali.
“Tak usahlah kak. Khan sekarang sudah malam. Besok kakak juga sekolah”. kata Ummi.
“Gak papa kok Mi, belum ngantuk. Kakak yang bikin kalo gitu”, tegas Kakak Khana.

Walhasil, mereka tahan menahan kantuknya dan sangat bersemangat membuat manisan. Mulai dari mencuci, mengupas, mengiris dan mengulek cabe di cobek. Mereka tanpa merasa terbebani melakukan hal itu. Berbeda jauh ketika saya meminta tolong untuk menjemur pakaian, wajahnya langsung ditekuk. Yap, besok masak apa lagi ya?


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga



Semua anak adalah bintang 1



Saya adalah seorang ibu hasil didikan masa lampau yang menyamakan anak harus rata-rata kepandaian dan kepintarannya. Saya contohkan ketika di sekolah yang terpenting semua anak mendapatkan nilai di atas nilai 6. Ketika dirumah saya memang tidak ditekan untuk menjadi juara, tapi ayah saya pernah berkata “Nilai pelajaran itu yang penting tidak ada nilai merahnya ya sudah cukup”. Bahasa yang kalem seperti itu meski tidak menekan tapi tentu saja membuat saya kala itu belajar agar tidak mendapat nilai merah.

Akhirnya ketika memiliki anak pertama yang waktu itu sekolah tingkat SD kelas 1 & 2, saya juga masih mengharapkan anak saya tidak mendapatkan nilai merah. Ketika melihat nilai merah saya terpancing emosi sehingga membuat saya bekerja keras bagaimana caranya anak mau belajar lebih keras lagi.

Akhirnya alih-alih mencari buku cara meningkatkan kecerdasan anak, saya malah menemukan sebuah artikel yang menohok sekali.

“Semua anak cerdas!! Mereka lahir dengan kecerdasan masing-masing. Cerdas itu bukan hanya sebatas akademik saja. Kecerdasan itu ada banyak jenisnya.”

Yes. Baiklah tenang……
Anggapan saya selama ini salah. Target saya agar anak pintar dalam hal akademik saja itu salah besar. Anggapan saya bahwa anak cerdas adalah anak yang mendapatkan juara dikelas itu juga salah. Alhamdulillah seiring pemahaman saya mengenai kecerdasan anak, sekarang ini bila anak mendapatkan nilai kecil dari ujian di sekolahnya saya hanya tersenyum dan bertanya “Kakak, kakak bahagia nggak dapat nilai segini?”. Kalau jawabannya  bahagia, maka saya juga akan berkata “Ya, sudah yang penting kakak bahagia”. Bila jawabannya tidak, biasanya saya akan menasehati “Ya, lain kali belajar lagi trus lebih teliti dalam menjawab soal ujian ya”.
Mereka adalah bintang dimanapun mereka berada. Mereka adalah bintang bagi orang tuanya. Mereka adalah bintang bagi orang-orang disekitarnya. Pada materi kuliah bunda sayang kali ini mendapatkan penguatan bahwa “Semua Anak adalah Bintang”. Lagi-lagi cetar selalu untuk materi yang disajikan oleh Institut Ibu Profesional yang sudah berhasil membuka mata semua orang.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


SEMUA ANAK ADALAH BINTANG 1


Saya adalah seorang ibu hasil didikan masa lampau yang menyamakan anak harus rata-rata kepandaian dan kepintarannya. Saya contohkan ketika di sekolah yang terpenting semua anak mendapatkan nilai di atas nilai 6. Ketika dirumah saya memang tidak ditekan untuk menjadi juara, tapi ayah saya pernah berkata “Nilai pelajaran itu yang penting tidak ada nilai merahnya ya sudah cukup”. Bahasa yang kalem seperti itu meski tidak menekan tapi tentu saja membuat saya kala itu belajar agar tidak mendapat nilai merah.

Akhirnya ketika memiliki anak pertama yang waktu itu sekolah tingkat SD kelas 1 & 2, saya juga masih mengharapkan anak saya tidak mendapatkan nilai merah. Ketika melihat nilai merah saya terpancing emosi sehingga membuat saya bekerja keras bagaimana caranya anak mau belajar lebih keras lagi.

Akhirnya alih-alih mencari buku cara meningkatkan kecerdasan anak, saya malah menemukan sebuah artikel yang menohok sekali.

“Semua anak cerdas!! Mereka lahir dengan kecerdasan masing-masing. Cerdas itu bukan hanya sebatas akademik saja. Kecerdasan itu ada banyak jenisnya.”

Yes. Baiklah tenang……
Anggapan saya selama ini salah. Target saya agar anak pintar dalam hal akademik saja itu salah besar. Anggapan saya bahwa anak cerdas adalah anak yang mendapatkan juara dikelas itu juga salah. Alhamdulillah seiring pemahaman saya mengenai kecerdasan anak, sekarang ini bila anak mendapatkan nilai kecil dari ujian di sekolahnya saya hanya tersenyum dan bertanya “Kakak, kakak bahagia nggak dapat nilai segini?”. Kalau jawabannya  bahagia, maka saya juga akan berkata “Ya, sudah yang penting kakak bahagia”. Bila jawabannya tidak, biasanya saya akan menasehati “Ya, lain kali belajar lagi trus lebih teliti dalam menjawab soal ujian ya”.
Mereka adalah bintang dimanapun mereka berada. Mereka adalah bintang bagi orang tuanya. Mereka adalah bintang bagi orang-orang disekitarnya. Pada materi kuliah bunda sayang kali ini mendapatkan penguatan bahwa “Semua Anak adalah Bintang”. Lagi-lagi cetar selalu untuk materi yang disajikan oleh Institut Ibu Profesional yang sudah berhasil membuka mata semua orang.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


  SYAIR “SIFATUL HURUF”   JAHR lawan HAMS SYIDDAH lawan RIKHWAH BAINIYYAH di antaranya ISTI'LA, ISTIFAL ITHBAQ dan INFITAH Sif...