Rabu, 02 Mei 2018

Ingin ke Australia Gara-gara Neng Koala


“Mbak, saya minta maaf ya mbak. Udah daftar nak ikutan launching tapi lututku lagi sakit. (icon menangis),” itulah isi pesan lewat WhatApp kepada salah satu sahabat yang akan mengadakan kegiatan bedah buku dan launching bukunya yang terbaru.
“Lho, mbak enggak sekarang tapi jum’at depan,” balasnya.
“Huaaaaaaa...... duh saking semangatnya pengen ikutan kirain hari ini lho.” Alhamdulillah senangnya karena masih ada kesempatan untuk belajar dari bedah buku Neng Koala.
Ups, Neng Koala. Apa itu? Saya sendiri pun tak tau awalnya kok judulnya Neng Koala ya. Setelah mendengar dan mengikuti bedah bukunya barulah saya tau.


            Yap, hari itu Jum’at, 27 April 2018 ada 2 agenda kegiatan yang membuat saya sangat bersemangat. Yang pertama kegiatan simulisi Coding Mum dari Bekraf di Universitas Universal dan yang kedua Bedah Buku Neng Koala yang diadakan di Politeknik Batam. Jam 14.30 meluncur ke kampus Politeknik Batam di Lantai 4. We are the first audience, kami  yaitu saya dan salah satu sahabat di Ibu Profesional Batam ternyata kami datang terlalu awal. Tidak apa-apalah dari pada terlambat. Agar mendapat ilmu yang lebih banyak dan bermanfaat.

            Kegiatan di awali pembukaan dan langsung sharing dari Sri Murni, S.IP, M.I.A yang dikenal dengan panggilan mbak Menix. Orang jawa ya kok dipanggil mbak? Asli beliau kelahiran Tebing Tinggi (Sumut) yang selain ibu rumah tangga juga aktif sebagai editor salah satu media massa Tribun Batam dan pengajar di berbagai perguruan Tinggi di Batam. Lebih jauh mengenai mbak Menix bisa ceki-ceki di www.menixnews.com

            Dari sharing mbak Menix, beliau menuliskan 3 artikel buku Neng Koala ini. Why Neng Koala? Neng seperti sebutan seorang wanita dalam bahasa Sunda, yang bahasa ini sudah meng-Indonesia banget. Sementara Koala adalah nama salah satu binatang yang menjadi icon bagi negara Australia. Nah, ternyata buku Neng Koala ini berisi kisah-kisah nyata dari para wanita Indonesia yang berjuang mendapatkan pendidikan dan pengalaman yang luar biasa di luar negeri yaitu di  negara  Australia. Bukan berarti mengecilkan atau menganggap rendah pendidikan yang ada di Indonesia. Tidak!!! Tapi semua ini dilakukan demi keluarga dan negara Indonesia. Adanya buku ini adalah untuk menginspirasi kaum muda Indonesia, para wanita khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Buku ini seolah-olah mengatakan, “Kami saja bisa, tentu kamu lebih bisa lagi. Ayoo kamu bisa!!!”.

            Perjuangan untuk bisa ke Aussie memang tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Tidak seringan perkataan. Ada yang kesana melalui jalur beasiswa, pertukaran pelajar, magang, short course dan volunteering. Selain menceritakan tips-tips agar berhasil dalam mendapatkan beasiswa seperti yang dialami oleh mbak Menix  sampai-sampai ada permintaan maaf dari sang suami karena telah menghamilinya (loh kok bisa, kepoin lah bukunya) ternyata masih banyak tips dan trik yang bermanfaat agar bisa bertahan di negeri orang.

            Kemudian sharing yang kedua dari mbak Lusia Efriani Kiroyan seorang social entrepreneur sekaligus Founder dan CEO dari Cinderella from Indonesia Center. Bagaimana awal kehidupannya semenjak sekolah dan kuliah kemudian menikah. Kegagalan yang membuatnya semakin bangkit dari keterpurukan dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Dari perjalanannya ke luar negeri ternyata menjadi ide brilliant untuk membuat branding “Batik Girl” yang  sekaligus memberdayakan para wanita napi di lapas-lapas yang ada di Batam dan Bali. Masih banyak kegiatan beliau di bidang sosial dan sangat besar perhatiannya kepada anak-anak penderita kanker dan penyandang disabilitas. Look at Instagram @cinderella_from_indonesia.

            Di akhir sesi ada penyerahan bantuan buku untuk perpustakaan Poltek dan perpustakaan keliling serta bagi-bagi doorprise berupa buku dan boneka “Batik Girl”.
            Itu sekilas info yang saya sampaikan dari Bedah buku Neng Koala yang materinya langsung dari 2 narasumber  yang sekaligus pelaku dari kisah yang ada di buku ini. Kisah yang lainnya makin menarik untuk dibaca, dicermati dan diambil manfaatnya.
            Jujur saya sangat suka membaca buku cerita baik fiksi maupun non fiksi. Berapa banyak halaman yang ada didalamnya biasanya sekali lahab langsung habis, sekali duduk bisa selesai dalam waktu singkat. Kali ini berbeda.........

       Rasanya bermacam-macam, adakalanya saya tertawa membaca kisah-kisah yang ada didalamnya. Namun yang paling banyak adalah air mata haru mengikuti cerita perjuangan para kartini masa kini wanita-wanita hebat yang terus memperjuangkan hal terbaik dalam hidupnya dan bagi keluarganya serta negara.

            Ya, sebagian cerita dalam buku ini adalah ibu rumah tangga, ada juga single parent. Terasa betul bagaimana perjuangan mensinkronkan antara urusan dengan suami, anak, mertua, orang tua dan tempat dimana dia bekerja. Ada yang meninggalkan keluarganya di tanah air, ada yang membawa serta anak dan suaminya bahkan ada yang membawa ke-2 anaknya yang autis. Imposible!!! Are you sure? Jawabnya tidak ada yang tidak mungkin.

            Apakah urusan kuliah di luar negeri berjalan mulus seperti yang diinginkan? Pada saat yang sama harus mengejar kuliah sesuai target tapi di sisi lain juga harus mencari tambahan uang untuk biaya keluarga. Bagaimana saat kegagalan itu terjadi? Ada juga seorang penyandang disabilitas yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sana. Amazing. Bisakah?

Cerita lainnya yang sangat mengispirasi lihat di www.nengkoala.id

Subhanallah......

            Sungguh luar biasa Allah ciptakan seorang wanita. Setelah membaca tuntas buku Neng Koala saya jadi bermimpi ingin kesana. Ingin merasakan sendiri bagaimana kehidupan di Australia. Australia menjadi negara ke-3 yang ingin saya kunjungi setelah Mekkah dan Madinah. Aamiin semoga Allah memudahkan.

            Ingin ke Australia Gara-gara Neng Koala sebutlah  begitu. Buku ini benar-benar menginspirasi saya. Kalau tujuannya hanya main-main atau liburan itu bukan alasan saya. Ada beberapa point yang sangat ingin saya pelajari dari negeri Kanguru ini. Salah satu di antaranya adalah tentang bagaimana detail sistem pendidikan anak, yang dimulai dari nursery room kemudian child care dan jenjang pendidikan di atasnya. Saya yakin ada hal-hal yang menarik dan bagus yang bisa kita adopsi dan diterapkan di Indonesia sehingga kedepannya Indonesia lebih  mantap dan lebih maju sistem pendidikannya sehingga bisa menghasilkan generasi terbaik.

by Alumi Ulum

Minggu, 29 April 2018

cara menyembuhkan phobia


Sembuhkan phobia

            Phobia pada ketinggian, phobia pada kecoa, phobia pada hewan? Pernahkah Anda menemui hal semacam itu. Ya bisa jadi itu dialami oleh orang-orang disekitar Anda atau bahkan justru Anda sendiri yang phobia.

Apa sih phobia?
           
            Phobia merupakan sebuah ketakutan yang tidak wajar dan terkadang menimbulkan reaksi yang berlebihan. Seperti contohnya seorang artis Ruben Onsu yang takut pada ayam. Ayam!!! Aneh kan? Kalau orang takut pada binatang buas sebuah kewajaran, seperti takut pada harimau, singa, gajah liar, ular berbisa, dan lainnya.

            Tapi takut pada ayam? Apa yang aneh dengan ayam? Apakah ayam itu menggigit? Justru ayam kita konsumsi sehari-hari untuk lauk pauk. Rasa takut yang tidak wajar seperti ini merupakan kelainan/ penyakit gangguan mental (Axietas Phobic) disebut phobia.

            Phobia itu sendiri tidak hanya terpaku pada makhluk hidup, ada juga phobia terhadap suatu benda atau sebuah kondisi tanpa sebab. Penyebabnya kemungkinan adalah hal-hal traumatis yang pernah di alami oleh penderita. Contohnya orang phobia dengan laut. Ternyata dia pernah merasakan trauma sebelumnya karena saudaranya meninggal karena tenggelam di laut. Ada orang tidak bisa tidur ketika lampu mati di malam hari, ternyata ketika kecil sering ditakut-takuti bahwa didalam gelap itu ada hantu.
           
            Kalau Anda sendiri pernah merasakan phobia apa? Sampai sekarang masih phobia atau sudah sembuh? Bagaimana proses penyembuhannya? Bagi sebagian orang, phobia terkadang tidak dianggap sebagai penyakit malah dibuat lucu-lucuan. Mind set ini harus kita ubah demi kesembuhan si penderita.

            Saya sendiri pernah phobia terhadap genangan air di jalan. Dulu ketika jalan menuju rumah masih berupa jalan tanah ketika hujan maka akan membentuk genangan air. Suatu ketika melewati jalan tersebut dengan mengendarai motor, saking licinnya akhirnya terpeleset dan jatuh. Walaupun tidak menimbulkan luka yang serius ternyata meninggalkan traumatik.  Setiap kali melihat genangan air di jalan, ada perasaan deg-deg an dan takut. Tangan menjadi tegang. Karena takut terpeleset lagi. Solusinya saya turun dari sepeda motor.

            Sampai-sampai ada satu kejadian pagi itu saya harus mengantar suami berangkat kerja. Karena saat itu motor hanya ada 1 kami bergantian maka saya mengantar dan saat pulang suami berboncengan dengan kawannya. Pergilah kami ke tempat kerja suami dengan berboncengan,  otomatis suami yang di depan dan saya duduk di belakang. Ups, ada jalan yang rusak parah sehingga motor harus melewati tepi jalan yang licin, becek dan tergenang airnya. Saat berangkat dan melewati jalanan tersebut saya tutup mata.

            Masalahnya saat suami sudah sampai di PT maka saya harus pulang naik motor sendirian dan melewati jalan yang kami lalui tadi. Jarak PT dengan jalanan yang bermasalah tadi lumayan jauh. Tarrraaa.........
Saat mendekati jalanan dengan genangan air motor berhenti dan saya tak berani lewat. Dag dig dug haduh bagaimana ini? Cukup lama berhenti. Mau mendorong motor tidak kuat mau jalan juga tidak berani. Sampai akhirnya ada seorang bapak-bapak yang juga hendak lewat jalan tersebut. Kalau saya tidak lewat maka motor bapak itu juga tidak bisa lewat. Akhirnya dengan jujur saya katakan, “Maaf pak saya nggak bisa lewat sini karena takut”. Bapak itu menolong saya dengan menyebrangkan motor melewati genangan dan saya jalan kaki. Alhamdulillah..........

Sembuhkah phobia saya? Belum saat itu. Ada lagi sebuah kejadian yang saya ingat. Seperti biasa hujan merupakan berkah dari Allah. Ketika pulang kerja di malam hari, ada genangan air di jalan. Tidak ada angin tidak ada petir tak ada juga motor atau kendaraan yang lewat selain saya sendiri. E....... tetiba tumbang gubrakkkk. Yassalam...... Motor hanya lecet sedikit dan baju belepotan lumpur. Lagi-lagi kejadian itu hanya berasal dari perasaan saya yang masih phobia.

Sembuhkah phobia saya? Sekarang? Alhamdulillah.... Walaupun belum sembuh 100% tapi saya sudah mulai meminimalisir ketakutan saya. Saya katakan pada diri saya bahwa saya harus berani dengan tetap berhati-hati. Bila dirasa jalan terlalu licin bisa di atasi dengan naik motor dengan mengimbangi kaki yang diturunkan agar tidak oleng. Dan semakin sering saya menemui jalanan seperti itu lama kelamaan makin hilanglah phobia yang pernah saya alami.

Cara ini sering disebut juga self treatment. Sebuah metode yang bisa kita lakukan sendiri secara mandiri dengan menenangkan pikiran, tarik nafas pelan-pelan, tanamkan sugesti positif dan beranikan diri untuk menghadapi hal-hal yang membuat kita phobia. Semakin sering dan semakin terbiasa menghadapi phobia pada akhirnya kita bisa mengontrol reaksi yang tidak perlu.





Rabu, 18 April 2018

10 Detik Rapikan Kantong Plastik



Beli ayam dikasih kantong plastik
Beli baju dikasih tas plastik
Beli cendol dikasih gelas plastik
Beli donat dikasih kantong plastik
Beli sayur, ikan, tempe, tahu, lauk, gorengan dikasih kantong plastik
Semua serba plastik........plastik........
Praktis.......praktis.......praktis.........
Iya praktis..... tapi......

Ini akan menjadi masalah tidak hanya hari ini tapi juga beberapa tahun ke depan, puluhan tahun kemudian dan bahkan ratusan tahun kemudian. Padahal setiap kegiatan manusia nyaris tidak bisa lepas dari plastik. Karena bahannya yang ringan dan praktis.

Sudah menjadi rahasia umum penggunaan plastik tentu akan menghasilkan sampah plastik. Dan sampah ini sangat susah untuk diuraikan dan akan memberikan dampak yang mengerikan bagi lingkungan maupun manusia.

Tidak usah menggunakan plastik sama sekali? Sangat susah dihindari. Karena susah menghindari maka cara berikutnya adalah menghemat penggunaan plastik. Yang lazim disebut 3R, Reuse, Reduce, Recycle Sampah.

1.                   Reuse (Menggunakan kembali)
Jangan buru-buru membuang plastik bekas bungkus belanjaan, bila kondisinya masih bagus masih bisa disimpan untuk digunakan kembali. Bila bau dan kotor, masih bisa dicuci dan dijemur untuk dipakai lagi (seperti yang dilakukan oleh tukang warung didekat rumah saya) asalkan belum sobek.

2.                   Reduce (Mengurangi penggunaan)
Biasakan berbelanja membawa wadah sendiri, bisa wadah dari tas kain, atau tas rajut. Seperti punya saya walaupun dikatakan jadul atau ah ndeso.... biarlah ini adalah bentuk kepedulian kita pada bumi, untuk apa gengsi. Bila membeli lauk/ makanan bisa membawa wadah tertutup sehingga mengurangi penggunaan plastik.

3.                   Recycle (mendaur ulang)
Sampah plastik memang tidak mudah untuk dimusnahkan tapi masih bisa didaur ulang. Tahap awal tentu saja memilah-milah sampah, mana yang sampah organik dan non-organik. Kemudian di pilah mana sampah yang masih bisa di daur ulang dan mana yang harus dimusnahkan. Contohnya sampah organic bisa dimanfaatkan untuk eco enzyme, botol air mineral bisa di daur ulang menjadi berbagai  ketrampilan seperti bunga, celengan, pot dan lain-lain. Bila tak ingin repot-repot atau tidak hobby daur ulang, kumpulkan saja sampahnya dan jual atau berikan kepada tukang pengepul sampah daur ulang. Tentu lebih bermanfaat.

Nah sobat selanjutnya saya ingin memberikan tips penyimpanan kantong plastik. Kantong plastik ya.... dibuang sayang, mau disimpan tapi berserakan. Hm masalah baru lagi ini, kalau sudah begini maka daripada pusing dibuanglah ke tempat sampah. Padahal kantong plastik tersebut masih bisa digunakan. Ya kan........ Jangan buru-buru dibuang ke tempat sampah ya.....
Kantong plastik sudah dikumpulkan dalam satu wadah



Saat memerlukan, harus bongkar2 mana yang besar dan mana yang kecil karena semua nya hanya ditaruh dalam satu wadah begitu saja. Akhirnya berserakan lagi. Kalau mau dipisahkan wadahnya untuk kantong yang besar dipisahkan dengan yang kecil tentu ini membutuhkan wadah yang makin memperbanyak wadah... Aduh pusing.....

Ini dia tips menyimpan kantong plastik:

1.                  Rapikan plastik



2. Plastik yang sudah dirapikan kemudian dilipat 2x seperti gambar di bawah ini, kemudian digulung


3.   Setelah digulung langkah terakhir yaitu di ikat sekali saja, sehingga bila suatu saat akan dipakai akan mudah dibuka kembali.


4.                  Dari plastik yang sudah digulung dan di ikat tadi akan menghasilkan gulungan yang berbeda-beda panjangnya sesuai dengan besar kecilnya plastik. Ini memudahkan kita untuk memilih plastik mana yang akan kita gunakan, bisa mengetahui besar kecilnya plastik dengan mudah.


5.  Terlihat perbedaannya dari penyimpanan plastik yang berserakan kini menjadi lebih praktis

                                                                                                                
6.     Tips  terakhir, jangan menunggu kantong plastik sudah banyak baru dirapikan, tapi setiap kali ada kantong plastik yang akan disimpan langsung rapikan. Tidak membutuhkan waktu yang lama kok hanya 10 detik.

Selamat mencoba. Sayangi bumi seperti menyayangi diri sendiri.



Senin, 09 April 2018

CerBung


Baju Kematian

Dengan takut-takut aku memandangi wajah itu. Padahal biasanya ketika memandangnya setiap hari saat bertemu kami biasa saja malah tersenyum. Tapi kali ini beda rasanya. Tak sedikitpun senyum tersungging di bibirnya, juga tidak dengan ku. Kami tidak saling marah. Bagaimana aku bisa tersenyum........

Mata itu kini tertutup untuk selamanya. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak tahu harus bagaimana. Diam saja, sesaat tak bisa menangis karena berharap ini hanya mimpi. Ketika sadar ini bukan mimpi barulah isak tangisku pecah tak terasa air mata mengalir tanpa diperintah. Kesedihan tiba-tiba menyelimuti suasana subuh ini. Merambat dengan cepat. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sesungguhnya segalanya milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Tubuh nenek kini terbujur, diam tanpa suara, mulai kaku dan dingin. Tidak ada lagi kehangatan. Tidak bergerak, tidak berdetak dan tidak ada hembusan nafas. Hening. Banyak yang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya sebentar saja dalam hitungan menit, tetangga kanan kiri berdatangan.  Akhirnya satu dua orang tersadar apa yang harus dilakukan selain menangisi kepergian nenek.

“Ahmad, tolong beritahu ustad Thoha kasih tau kalo nenek sudah meninggal sekalian minta tolong ustad untuk mengumumkan lewat pengeras suara yang di masjid,” kata pak RT dengan sigap meminta tolong kepada tetanggaku.
“Bapak-bapak yang lain mari kita mengambil tenda dan kursi ke tempat saya,” lanjut pak RT.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sampai bu Narti memberitahuku untuk menutupkan mulut nenek yang sedikit membuka dengan cara mengikatkan kain dan menutupkan kain ke tubuh nenek. Ibu-ibu yang lain kulihat semuanya mulai membantu mulai dari mengatur posisi tidur jenazah, menyiapkan dan membersihkan rumah kecil yang kami tempati. Aku memang hanya tinggal berdua dengan nenek saja. Kasihan bila nenek tinggal sendiri. Tapi beliau juga tidak mau tinggal bersama anak-anaknya dengan alasan tidak mau merepotkan. Maka akulah cucu yang ditugaskan orang tuaku untuk tinggal dan menemani nenek di hari tuanya sambil mengajar di salah satu sekolah SD yang memang dekat dengan rumah nenek. Orang tuaku tinggal berbeda kota.

Hampir setengah jam aku larut dalam kesedihan sampai tiba-tiba HP ku berbunyi ada sms masuk. Barulah teringat mengabari ayah ibu dan  keluarga yang lain. Berurai air mata, ku kabari saudara-saudara family handai taulan dan juga teman-teman atas kepergian nenek. Dan kupesankan kepada mereka untuk memberi kabar kepada yang lain. Nada ringtone panggilan masuk berbunyi. Ayah langsung menelepon, “Assalamu’alaikum, Kim..... kapan nenek meninggal?”

“Ja.... jam 5 tadi, Ayah.” Sambil sesenggukan air mata semakin deras.
“Ya sudah ini Ayah segera naik bus ke tempat nenek, coba tolong kasih teleponnya ke pak Hasan. Ayah mo ngomong sebentar,” lamat-lamat kudengar suara tangis ibu di seberang telpon. Kuberikan HP ku ke pak Hasan teman waktu SMA yang juga sekaligus menjadi ketua RT, yang sudah kembali dengan mengendarai pick up membawa tenda dan kursi.

“Pak RT ini ada telpon dari Ayah, katanya mau bicara sama pak RT.” Entah pembicaraan apa antara Ayah dan Pak RT, karena memang HP nya tidak di loadspeaker suaranya.
“Nak Kimmy, kata Ayah nanti untuk kain kafannya pakai kain kafan nenek yang ada di lemari. Itu wasiat yang pernah nenek sampaikan semasa hidup. Kurang lebih 2 jam lagi Ayah sama Ibu nak Kimmy akan sampai disini. Sekarang tolong ambil kain kafannya ya “ kata pak RT.

Ayah dan Pak RT memang akrab teman waktu SMA. Sehingga bila ada keperluan apapun, Ayah berpesan untuk minta tolong ke pak RT. Kami sudah seperti keluarga. Makin lama tetangga, saudara dan teman-teman banyak berdatangan. Bu Narti yang juga istri dari pak Hasan, ketua RT kami tak berapa lama sudah membawa Ustadzah Mulia yang nanti membantu menyiapkan kain kafan dan memandikan jenazah nenek.

Dengan tangisan yang mereda, mata sembab, hidung seperti orang yang terkena flu, segera aku mengambil kain kafan seperti yang dikatakan Ayah di telepon.
Lemari tua itu berderit ketika dibuka, pertanda engsel-engsel yang mulai berkarat. Cek satu per satu tumpukan baju-baju yang ada disana. Ada bungkusan plastik bening berisi kain putih di tumpukan pojok kanan atas. Bungkusan itu ......... (Bersambung)

Rabu, 07 Maret 2018

Workshop “Sehari Jadi Buku”

Belajar bersama Kopi Write Indonesia


                Mustahil...ah masak iya. Begitu awalnya ketika hendak mengikuti kegiatan ini. Daripada penasaran makanya ikutan. Dengan motor kesayangan melaju ke tempat acara workshop ini. Disana bertemu dengan teman-teman rumbel Menulis IIP Batam (Ibu Profesional Batam). Alhamdulillah dari wajah teman yang cerah-cerah memancarkan rasa kepo nya yang tinggi untuk belajar menulis dan menerbitkan buku antologi.

                Rempong. So pasti, namanya juga ibu-ibu walaupun belajar yang harusnya serius so pasti bawa anak nggak ketinggalan ya. Tapi alhamdulillah karena pematerinya juga wanita-wanita hebat, faham betul dengan kerempongan ini.
Foto Putri Pamelia.
Add caption

                Dalam kegiatan ini menjadi 3  sesi antara lain sesi:

11. Sesi Pertama  with mbak Heni Lestari (nama pena Heenee Soedarno) dengan ulasan mengenai “Penulis itu Hobi, bakat atau profesi”
22.  Sesi Kedua with mbak Dwi Arum yang membahas tentang “Menemukan dan mengembangkan ide”
33. Sesi Ketiga with mbak Dian Ikha P. Belajar bagaimana “Teknik Menulis Efektif dan Self Editing

    Disela-sela penyampaian materi ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab audience dan yang terakhir adalah tantangan menulis apapun tentang menulis. Dan dalam waktu kurang lebih 15 menit inilah yang saya tulis.

Menulis rasa nano-nano

                Menulis bagi sebagian orang terasa seperti sebuah beban. Pernah melihat  sebuah film jadul dengan adegan seorang pemuda yang menulis surat pernyataan cinta untuk gadis pujaannya? Terkadang seperti itulah susahnya menulis. Sudah ditulis, di baca, ah kayaknya belum pas akhirnya dibuang kertasnya ke tempat sampah. Menyusun sebuah karangan saat pelajaran Bahasa Indonesia, menjadi sangat membosankan. Ya, saya tidak pandai menulis. Saya hanya suka membaca. Baca dan baca terutama cerita fiksi. Ket  ika membaca majalah kesukaan Annida, hanya bisa bermimpi bisa membuat karangan seperti cerpen-cerpen yang ada disana.

                Karena tuntutan tugas sebagai guru, saya harus membuat teks pidato. Karena saya anti plagiator, maka saya membuat pidato yang original sendiri dengan cara membaca buku, beberapa artikel pendukung dan juga rekaman video di hiasi dengan fenomena-fenomena terkini.  Otomatis saya banyak membaca. Akhirnya jadilah teks pidato yang bisa diekspresikan dengan durasi 5-10 menit.

                 Saat teks pidato hasil karangan saya menjadi juara, disitulah rasanya sesuatu banget. Bisa mengantarkan anak didik menjadi juara Pidato tingkat kelurahan, kecamatan, kota dan bahkan tingkat provinsi.
                Sekarang alhamdulillah, bertemu dengan komunitas Ibu Profesional (IIP Batam) melalui rumbel menulisnya saya banyak belajar tentang menulis seperti kulwapp, kegiatan offline. Kemudian mengenal blog dan mempublikasikan tulisan di www.alumistory.com. Bergabung juga di FLP (forum lingkar pena) yang tulisannya sering saya baca ketika masih sekolah.

Senin, 05 Maret 2018

“Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal”




          Posisi seorang ibu didalam rumah tangga layaknya seorang ratu dalam kerajaan kecil, namun tak jarang seorang ibu layaknya seperti babu (pembantu rumah tangga).
         
          Pernahkah kita merasakan hal ini? Pernah. Dalam satu hal, semuanya  ibulah yang menentukan yes atau no. Kemudian ibu jugalah yang menentukan apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anggota keluarga yang lain. Disaat yang lain pernah merasakan layaknya pembantu. Semuanya ibu yang mengerjakan, baik dalam hal besar maupun kecil remeh temeh. Itu sangat terasa ketika anak masih balita semua. Rasanya tidak ada waktu untuk istirahat. Lagi asyik mengerjakan pekerjaan dapur yang kakaknya bertengkar, yang paling kecil menangis minta susu. Masakan yang belum selesai, cucian menumpuk, rumah berantakan........

          Kali ini di NHW 6, IIP mengajarkan perihal belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

          Tahapan yang harus di ikuti adalah sebagai berikut:
Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting:
1.    Memperbaiki ibadah sholat 5 waktu, agar semakin tepat waktu dan khusu’ ditambah dengan membaca dan menghafal Al Qur’an
2.    Meningkatkan perhatian ke anak-anak, me time dengan mereka satu per satu dan sekali waktu family time
3.    Otak-atik laptop, menulis artikel, membuat design poster, mengerjakan laporan, dll

Selanjutkan menuliskan 3 aktivitas yang paling tidak penting:
1.    Membuka chat grup WA, fb dan sosmed kecuali untuk posting info dan koordinasi kegiatan
2.    Menonton TV, karena hanya akan menghabiskan waktu
3.    Mengumpulkan barang-barang bekas untuk di buat kerajinan, karena pada akhirnya saya juga tidak memiliki longgar waktu untuk membuat kerajinan tersebut

          Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.

Jadwal Harian
03.00-04.00   Sholat Tahajud, Hafalan Al Qur’an
04.00-05.00 Membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan, mencuci piring, menyapu lantai, mandi, mencuci dan menjemur baju
05.00-05.30 Sholat subuh berjama’ah, Tadarus
05.30-06.00 Memastikan anak-anak mandi dan sudah ganti baju sekolah
06.00-06.40 Rapat Keluarga plus sarapan pagi
06.40-06.55 Mengantar anak-anak ke sekolah
06.55-08.00 Sholat Dhuha dan Homeschooling dengan si kecil
08.00-10.00 Memasak untuk makan siang dan malam, membuat minuman untuk orang bengkel
10.00-11.30 Jadwal Menulis di laptop/ Belajar Al Qur’an
11.30-12.00 Tidur siang
12.00-13.00 Sholat dhuhur, Tadarus dan makan siang
13.00-14.00 Beres-beres rumah
14.00-15.00 Mengurus lembaga
15.00-19.30 Mengajar anak-anak lembaga (Diselingi mandi dan makan malam)
19.30-20.00 Sholat isya
20.00-21.00 Belajar bersama anak-anak
21.00-22.00 Mengecek persiapan sekolah anak-anak
22.00-03.00 Istirahat tidur malam

Jadwal tersebut diatas buat untuk belajar konsistensi. Akan tetapi tidak kaku karena pada hari tertentu ada kegiatan di luar rumah yang harus dikerjakan.
Dari jadwal yang buat,
-       Jadwal rutinnya : dari jam 03.00 - 06.55
-      Jadwal dinamis : dari jam 06.55 – 21.00

# IIP Batam Batch 5
# NICE HOMEWORK #6


“Buku Ragam Pidato Anak Islami: Panduan Lengkap untuk Membimbing Anak Menjadi Juara Pidato Islami”

  Review Buku: Ragam Pidato Anak Islami Karya: Alumi Ulum   Dalam dunia pendidikan anak, terutama di lingkungan TPQ dan Madrasah Ibtid...