Sabtu, 29 Juni 2019

Be Kreatif Mom and Kids 10


Senangnya melihat meja belajar terlihat rapi. Ada 2 meja belajar dirumah dan setiap meja disampingnya ada lemari tempat bukunya. Satu meja agak sedikit berantakan dan meja satu lagi sangat rapi, bersih dan kosong. Tak ada bukunya sama sekali.
Meja belajar yang sangat bersih tersebut milik anak kedua saya. Karena penasaran kok bukunya bersih gak ada sama sekali jadi saya bertanya. “Dik, Alhamdulillah bersih ya mejanya…” .
“Iya dong bersih.” Katanya sambil tertawa.
Selidik punya selidik rupanya semua bukunya dipindahkan di lemari saya dan sebagian diletakkan di kantong kresek. Woalah….
Pantesan kalo seperti itu……

#day10
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Be Kreatif Mom and Kids 9



“Kak, tolong jemur bajunya ya?”, pinta Ummi kepada anak sulungnya.
“Hem….”, rengekan si sulung ketika merasa keberatan dengan permintaan Umminya.
“Tolonglah kak, ini kan baju kakak juga.” Kata Ummi sekali lagi.
“Yalah”, jawab si sulung.
Ada saat nya sebagai anak yang beranjak remaja itu banyak maunya dan labil. Sebagai seorang ibu tentu kita ingin memberikan bekal yang cukup kepada anak agar kelak bisa menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Tak sengaja Ummi pergi ketempat jemuran untuk mengambil baju yang sudah kering. Huff, kira-kira apa yang sudah Ummi lihat ya …
Ternyata oh ternyata…. Baju yang tadi dijemur oleh si sulung sudah selesai dijemur. Akan tetapi ternyata oh ternyata…. Baju satu ember hanya di tumpuk menjadi satu di jemuran. Ya memang dijemur sih tapi kalau begitu caranya ya kapan keringnya yaaaa……
Huft… tarik nafas. Ini anak terlampau kreatif yah…

#day9
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Rabu, 26 Juni 2019

Be Creative Mom and Kids 8



 “Nak ini mainanmu atau mainan ibu?”



#day8
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Be Creative Mom and Kids 7



Apa yang Anda pikirkan bila melihat foto dibawah ini? Sebuah LCD computer yang penuh dengan tempelan notes. Sebenarnya LCD computer ini masih bisa digunakan tapi saya sangat jarang menggunakannya. Karena saya lebih sering menggunakan notebook. Kebetulan juga CPU komputernya sedang error.

LCD Komputer


Akhirnya beginilah fungsi layar LCD computer yang tidak terpakai bisa digunakan untuk papan tempelan notes.

#day7
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Be Creative Mom and Kids 6



Sebelum membuang barang yang tidak kami gunakan, saya termasuk orang yang tidak mudah membuang barang. Yahhh, efeknya bisa dibayangkan ya. Pada akhirnya terjadi penumpukan barang dimana-mana.

Kertas bekas bisa dimanfaatkan 


Kenapa saya tidak mudah membuang “sampah” pada tempatnya (pembuangan akhir)? Karena saya berpikir, eh barang ini masih bisa kok dipake untuk ini, untuk itu. Contohnya kertas salah print. Bila di satu sisi kertas tersebut masih kosong maka saya menempatkan kertas pada satu kardus, sehingga kertas tersebut masih bisa digunakan untuk coret-coret atau hal lainnya.

#day6
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Be Creative Mom and Kids 4



Sering Handphone (HP) yang sedang di charge terjatuh karena di senggol. Kadang tidak apa-apa dan pernah juga layar Hp jadi retak. Posisi colokan listrik tidak diatas meja persis, sehingga potensi Hp terjatuh karena kabelnya kecantol lebih sering terjadi.

Tempat hape dari botol bekas air mineral 


Akhirnya botol bekas air kemasan ukuran 1,5 liter saya potong menyerong, kemudian ditempel di tembok dengan paku. Alhamdulillah Hp yang di charge lebih aman dari potensi terjatuh karena kabel tersenggol.

#day4
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Be Creative Mom and Kids 5



“Ummi, mau?”, Tanya si sulung sambil menyodorkan telur dadar yang berbentuk bulat-bulat kecil dioles dengan kecap. Hhhh…. Saya kurang suka rasa kecap. Saya tertarik mencoba.

“Kakak beli atau bikin sendiri”, Tanya Ummi.

“Bikin sendiri.” Jawab si sulung.

“Kok bisa bentuknya bulat-bulat kecil begini? Wah ini keasinan rasanya”, Tanya Ummi sambil memakan telur yang disodorkan tadi.

“Iya Mi. Kakak kebanyakan ngasih garamnya.” Sahut adiknya.

“Kakak bisa kan Mi. Ini tadi kami masak pake kaleng. Kaleng bekas soya.” Jawab si sulung.

Wow…. Rupanya eh rupanya. Rame-rame bising di teras mainan api. Inilah hasilnya. Telur dadar berbentuk bulat.

#day5
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Be Creaative Mom and Kids 3



“Kak, dimana telur yang Ummi beli?”, Tanya Ummi.
“Habis Mi.” jawab si sulung.
“Loh kok habis?”, Huft……..
Terkadang saya sampai heran bila sudah demikian. Sebagai seorang ibu yang tidak setiap hari belanja ke pasar, pada saat-saat terdesak jam makan terkadang ceplok telur atau dadar telur menjadi senjata paling cepat untuk mempersiapkan lauk saat itu.

Tapi ya begitulah kenyataannya. 1 pack telur berisi 10 butir ataupun 1 wadah telur yang berisi 40 butir tetap saja tidak bisa untuk 1 minggu. Bila saya sediakan telur di lemari stok makanan tetap saja akan cepat habisnya. Kenapa? Bukan karena saya masak tetapi karena dimasak oleh anak-anak saya.
Anak saya ada 3 perempuan semuanya. Dan tiga-tiganya bisa menyalakan kompor sendiri dan bisa memasak telur sendiri tanpa saya bantu. Terkadang mereka juga membawa pasukan teman-teman mainnya untuk memasak telur bersama dan makan bersama dirumah. Ya sudah…. Lanjutkan kreatifitasmu nak.

#day3
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Be Creative Mom and Kids 2



“Ummi, mau apa?”, Tanya si sulung.
“Maksudnya mau apa kak?”, jawab Ummi sambil bertanya balik.
“Maksudnya Ummi mau kakak masakin apa?”, Tanya si sulung kembali.
“Oh gitu. Hm…… Ummi mau nasi goreng.” Jawab Ummi.

Yap. Si sulung berlalu dari kamar, tempat Ummi yang sedang mengetik laporan. Saya pikir hanya iseng saja. Ternyata jawaban saya ditanggapi dengan serius. Terdengar bunyi bising-bising di dapur, si sulung bersama adik-adiknya mempersiapkan dan membuat nasi goreng.

“Tarra…… Nih udah jadi Mi.” kata si sulung sambil menyodorkan sepiring nasi goreng yang dicampur dengan telur dan cabe merah yang dipotong-potong. Saya tersenyum, karena secara artistic sih harusnya cabe merahnya dipotong lebih tipis atau memanjang, pilihan lainnya kalau Cuma untuk garnis bisa dibuat mirip bunga. Tapi ya sudahlah, bukankah dengan begitu mereka sudah mulai kreatif untuk membantu menyiapkan makanan? Alhamdulillah.

#day2
#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Be Creative Mom and Kids 1



Saya  suka sekali dengan kata kreatif.  Kreatif menurut saya sebuah kegiatan yang baru atau original sebagai bentuk kreatifitas dan bisa juga diaplikasikan dengan cara memodifikasi sesuatu yang sudah ada. Dan akan lebih keren bila kita bisa berpikir out of box, berpikir tidak seperti kebanyakan orang dan bahkan tidak terlintas dalam pikiran orang lain. Jarang-jarang kan ya……

I feel  I am creative. Really? Yess.
Ratusan bungkus kopi sachet 

Tapi saya masih terkendala dalam mengaplikasikan pikiran-pikiran kreatif saya. Salah satu contohnya sudah lama saya suka mengkonsumsi Kopi Herbal merk HPA Indonesia. Mulai dari Radix sampai sekarang berganti dengan merk Kopi 7 Elemen. Minumnya tidak terlalu rutin sebenarnya. Hanya bila merasa perlu tambahan energy atau bila terasa kurang enak saya konsumsi kopi  tersebut. Eh apa hubungannya?

Bungkus kopi yang saya konsumsi saya kumpulkan dalam satu kantong plastic. Saya pikir bila sudah banyak nanti saya akan buat kotak tisu atau tas atau kerajinan lainnya dari bungkus kopi tersebut. Hari ini sudah terkumpul banyak.

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative
#BeCreative

Minggu, 07 April 2019

Semua anak adalah bintang 8


Hari sudah sore menjelang magrib. Kak Khana bertanya kepada saya dimana letak kunci motor Scoopy. Biasanya kalau bertanya seperti itu karena Abinya yang hendak memakai motor. Rupanya tidak demikian. Ternyata Kak Khana bermaksud untuk memasukkan motor ke garasi karena sudah mau magrib tapi motor masih terparkir di pinggir jalan.

Saya tidak pernah mengajari ananda untuk bisa naik motor dan saya tidak berniat untuk mengajarinya. Umur baru 11 tahun dan belum waktunya untuk itu. Sengaja agar ananda tidak bertindak seenaknya memakai motor meski terlihat sangat antusias. Diam-diam ananda belajar naik motor bersama kawannya.

Akhirnya setiap sore ananda dengan semangat 45 selalu meminta ijin untuk memarkirkan motor. Baiklah untuk urusan parkir saya mengijinkan tapi tidak untuk keluar rumah. Akan ada saat yang tepat Nak.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 10


Mendekati waktu ashar, si bungsu sibuk mandi. Perihal mandi kalau tidak di ingatkan sudah beberapa kali saya memergoki si bungsu bermain sabun cair yang ada di kamar mandi. Se ember air berbusa-busa karena sabun cair yang dituangkannya. Sudah 10 menit di kamar mandi ternyata yang basah baru tangannya saja sambil memainkan busa sabun.

Nah kali ini mandinya malah ekspress cepat selesainya. Bisa saya pastikan sepertinya tidak sikat gigi Karena tidak terdengar orang yang sedang sikat gigi. Sambil mengamati sambil memikirkan tingkah lakunya. Selesai mandi, memakai baju, menyisir rambut dan memakai bedak. Terakhir mendekat kepada saya dan tersenyum, “Ummi, jatah?”, katanya.
“Ehm, kok jatah, untuk apa?”, kata Ummi. Saya memang mengganti kata uang jajan kepada anak dengan kata “jatah”.
“Jajan lah. Khan sudah mandi”, katanya.
“O…. gitu. Ya baiklah”, kata Ummi.
Sambil tersenyum saya mengapresiasi hasil usaha si bungsu untuk mendapatkan “jatah” untuk membeli jajanan di warung.


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 9


“Ummi, siapa yang ngambil uang kakak di toples”, Tanya Kak Dina.
“Ummi tak tahu Kak. Emang naruhnya dimana. Disimpan baik-baik nggak toplesnya?”, kata Ummi.
Begitulah pengaduan ananda karena uang nya hilang. Kemungkinannya lupa menyimpan atau diambil oleh adiknya yang belum faham betul bahwa kita tidak boleh mengambil yang bukan hak milik sendiri. Karena dipikir ini berada didalam rumah maka apa yang ada dirumah adalah milik bersama.

Walhasil setelah mengadu mengenai uangnya, ananda pergi bersama teman mainnya ke warung dengan sisa uang saku sekolahnya. Pulang dari warung terlihat memegang bubur ayam instan.
“Ummi, kakak mau bikin bubur tapi adik Anis jangan boleh minta ya”, kata Kak Dina.
“Lho, kok gitu”, kata Ummi.
“Habis uangku diambil. Trus yang kemaren juga”, lanjutnya.

Memang anak-anak masih egosentris, tidak mau saling mengalah. Semua itu memang proses. Setelah menyampaikan isi hatinya, ananda pergi ke dapur dan memasak air untuk membuat bubur ayam instan yang sudah dibelinya. Lagi-lagi perihal memasak ini rupanya mereka sangat bersemangat dan berbinar untuk melakukannya.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 7


“Kak, tolong cuci piringnya.” Pinta Ummi kepada anak sulung.
“Ya adik lah Mi. Kemaren kakak khan sudah nyuci piring.” Jawab Kak Khana.
“Ah mana ada ya. Aku sudah pernah kok nyuci piring”. Timpal adiknya.
“Aku juga sudah kemaren.” Kata Kak Khana.
“Ya sudah, aku juga sudah nyuci piring”, kata Dik Dina.

Lagi-lagi, …….
Perihal mencuci piring ini memang butuh ekstra sabar dan rayuan maut agar ananda mau mencuci piring. Akhirnya mereka terlihat saling membagi jumlah cucian piringnya. Setiap 1 orang mencuci piring dan alat masak lainnya sebanyak 10 item.  Saya terdiam melihat bagaimana mereka saling membagi cucian piring. Setelah 10 item yang dicuci barulah bergantian.


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 6


“Kak, tolong cuci piringnya.” Pinta Ummi kepada anak sulung.
“Ya adik lah Mi. Kemaren kakak khan sudah nyuci piring.” Jawab Kak Khana.
“Ah mana ada ya. Aku sudah pernah kok nyuci piring”. Timpal adiknya.
“Aku juga sudah kemaren.” Kata Kak Khana.
“Ya sudah, aku juga sudah nyuci piring”, kata Dik Dina.

Lagi-lagi, …….
Perihal mencuci piring ini memang butuh ekstra sabar dan rayuan maut agar ananda mau mencuci piring. Akhirnya mereka terlihat saling membagi jumlah cucian piringnya. Setiap 1 orang mencuci piring dan alat masak lainnya sebanyak 10 item.  Saya terdiam melihat bagaimana mereka saling membagi cucian piring. Setelah 10 item yang dicuci barulah bergantian.


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 5


“Kak, tolong bantu jemur baju?”, pinta Ummi.
Belum lagi menjawab apa yang saya pinta, dari mukanya sudah kelihatan sekali bila ananda tidak menyukai urusan laundry baju. Terkadang karena hal ini saya mesti berdebat terlebih dahulu dengan mereka. Belum lagi kalau mesin cuci sedang rusak atau air ATB sedang mati.

Ehm….wusssss harus banyak-banyak menghirup udara segar agar tidak stress. Yap, dari reaksi yang ananda berikan mereka belum merasa happy dengan urusan laundry. Mereka belum faham tentang perlunya mencuci, menjemur dan melipat baju. Harus diberi tahu dan disuruh terlebih dahulu, barulah baju kotor itu mulai dicuci. Sudah dicuci terkadang tidak langsung dijemur. Sudah dijemur pun, dikasih tahu terlebih dahulu barulah mau angkat baju. Baju yang sudah kering sudah diangkat, belum tentu langsung dilipat. Yang ada dibolak balik seperti orang yang sedang membakar ikan. Akhirnya baju tadi makin lama makin bergulung dan makin lecek kusut.

Walau tak suka tapi setidaknya mereka punya ketrampilan di bidang laundry. Why not?

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 4


Kebiasaan anak pertama yang suka menggoreng telur sendiri akhirnya menular juga kepada adiknya. Efeknya telur satu papan yang saya beli biasanya lama habisnya, karena hobby mereka  jadi cepat habis stock telur yang ada. Telur digoreng dengan bermacam-macam variasi. Mulai telur mata sapi, telur dadar, telur kecap, telur campur nasi dan suka-suka mereka masaknya.

Terkadang sambil mengajak kawan bermainnya di ajak masak bareng-bareng. Dari sekedar goreng telur akhirnya ke menu yang lain. Seperti mi goreng, mi kuah, nasi goreng. Mereka masak sendiri dengan porsi untuk dirinya sendiri. Saya hanya bisa mengawasi sambil tetap mengingatkan untuk berhati-hati karena urusan api kompor ini.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 3


Anakku berbinar kala masak sendiri. Untuk anak yang pertama bisa masak apa? Masak yang instan lah ya. Masak nasi goreng memakai bumbu instan nasi goreng. Kemudian masak ceplok telur atau dadar telur. Membuat sambal yang diblender. Dan masakan sederhana lainnya.

Awalnya saya tidak tahu kalau anak-anak saya suka menggoreng telur sendiri. Bahkan pernah pada suatu hari saat saya pergi kuliah dan suami juga kerja di luar, anak-anak sedang memasak yang mengakibatkan rumah hampir saja terbakar. Ketika saya pulang, anak-anak sudah ketakutan karena kawatir saya marah. Saya hanya menarik nafas. Alhamdulillah hanya gorden penutup jendela yang terbakar.

 Ternyata setelah saya bertanya kepada Kak Khana menceritakan bahwa wajan yang sudah diberi minyak goreng diletakkan diatas kompor yang menyala apinya. Makin lama tentu makin panas wajan dan minyaknya. Kemudian ada kawannya mengetok pintu dan hendak meminjam jilbab. Karena ngobrol dan hendak mencarikan jilbab yang mau dipinjam akhirnya ananda lupa dengan wajan nya di dapur.

Otomatis karena wajan yang berisi minyak tadi saking panasnya akhirnya wajan terbakar. Wajan yang terbakar disiram air maka apinya semakin membumbung tinggi dan menyambar kain gorden di jendela dekat kompor. Anak-anak panik dan berteriak-teriak hingga ke jalan. “Kebakaran, kebakaran, kebakaran”. Saya bisa pastikan pasti anak-anak panik, takut, menangis tapi Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa terhadap mereka.

Mendengar teriakan anak-anak, tetangga yang kebetulan lewat segera masuk ke rumah dan berusaha memadamkan api. Yang terbakar hanya kain gorden dan sendok penggoreng yang terbuat dari kayu.

Setelah saya pulang kuliah, pastilah saya kaget dan terdiam. Sambil bersyukur dalam hati karena tidak terjadi apa-apa pada mereka. Selama 3 hari saya tidak mengijinkan mereka untuk menyalakan kompor sendiri. Dan setelah kejadian itu saya tekankan kepada ananda untuk lebih berhati-hati dalam menyalakan kompor. Dan di hari keempat saya mengajak mereka untuk masak bersama. Saya yang menyalakan kompornya kemudian mereka masak seperti biasa. Hari berikutnya ananda saya berikan kesempatan untuk menyalakan dan mematikan kompor sendiri dengan saya ada disampingnya untuk mengawasi. Karena jangan sampai mereka berterusan trauma terhadap kompor dan api. Kalau trauma apa yang terjadi kelak dewasa nanti. Mau tak mau pasti akan membutuhkan kompor dan api.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Semua anak adalah bintang 2


Tantangan dari level 7 Kuliah Bunda Sayang yaitu mengamati aktivitas anak yang membuat matanya berbinar-binar dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang membuat semua anak-anak saya berbinar adalah kegiatan memasak. Mereka memasak sendiri dan bereksperimen. Bila saya membeli sepapan telor, hamper tiap hari ada saja jenis masakan yang mereka buat. Bahkan kadang-kadang sambil membawa temannya.

Alhamdulillah karena mendapat rejeki 2 kantong mangga dari tetangga, saat jam 21.00 malam iseng-iseng saya berkata kepada Kakak Khana.
“Kak, Ummi pengen bikin manisan mangga lho. Tapi besok sajalah ya.” Kata Ummi. Sengaja meskipun hari sudah malam saya tetap menyampaikan hal itu untuk mengetahui seberapa tertariknya mereka.
“Ah ayo Mi, sekarang saja bikinnya”, jawab Kakak Khana.
“Mau mau Mi, sekarang ajalah”, kata adiknya menimpali.
“Tak usahlah kak. Khan sekarang sudah malam. Besok kakak juga sekolah”. kata Ummi.
“Gak papa kok Mi, belum ngantuk. Kakak yang bikin kalo gitu”, tegas Kakak Khana.

Walhasil, mereka tahan menahan kantuknya dan sangat bersemangat membuat manisan. Mulai dari mencuci, mengupas, mengiris dan mengulek cabe di cobek. Mereka tanpa merasa terbebani melakukan hal itu. Berbeda jauh ketika saya meminta tolong untuk menjemur pakaian, wajahnya langsung ditekuk. Yap, besok masak apa lagi ya?


#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga



Semua anak adalah bintang 1



Saya adalah seorang ibu hasil didikan masa lampau yang menyamakan anak harus rata-rata kepandaian dan kepintarannya. Saya contohkan ketika di sekolah yang terpenting semua anak mendapatkan nilai di atas nilai 6. Ketika dirumah saya memang tidak ditekan untuk menjadi juara, tapi ayah saya pernah berkata “Nilai pelajaran itu yang penting tidak ada nilai merahnya ya sudah cukup”. Bahasa yang kalem seperti itu meski tidak menekan tapi tentu saja membuat saya kala itu belajar agar tidak mendapat nilai merah.

Akhirnya ketika memiliki anak pertama yang waktu itu sekolah tingkat SD kelas 1 & 2, saya juga masih mengharapkan anak saya tidak mendapatkan nilai merah. Ketika melihat nilai merah saya terpancing emosi sehingga membuat saya bekerja keras bagaimana caranya anak mau belajar lebih keras lagi.

Akhirnya alih-alih mencari buku cara meningkatkan kecerdasan anak, saya malah menemukan sebuah artikel yang menohok sekali.

“Semua anak cerdas!! Mereka lahir dengan kecerdasan masing-masing. Cerdas itu bukan hanya sebatas akademik saja. Kecerdasan itu ada banyak jenisnya.”

Yes. Baiklah tenang……
Anggapan saya selama ini salah. Target saya agar anak pintar dalam hal akademik saja itu salah besar. Anggapan saya bahwa anak cerdas adalah anak yang mendapatkan juara dikelas itu juga salah. Alhamdulillah seiring pemahaman saya mengenai kecerdasan anak, sekarang ini bila anak mendapatkan nilai kecil dari ujian di sekolahnya saya hanya tersenyum dan bertanya “Kakak, kakak bahagia nggak dapat nilai segini?”. Kalau jawabannya  bahagia, maka saya juga akan berkata “Ya, sudah yang penting kakak bahagia”. Bila jawabannya tidak, biasanya saya akan menasehati “Ya, lain kali belajar lagi trus lebih teliti dalam menjawab soal ujian ya”.
Mereka adalah bintang dimanapun mereka berada. Mereka adalah bintang bagi orang tuanya. Mereka adalah bintang bagi orang-orang disekitarnya. Pada materi kuliah bunda sayang kali ini mendapatkan penguatan bahwa “Semua Anak adalah Bintang”. Lagi-lagi cetar selalu untuk materi yang disajikan oleh Institut Ibu Profesional yang sudah berhasil membuka mata semua orang.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


SEMUA ANAK ADALAH BINTANG 1


Saya adalah seorang ibu hasil didikan masa lampau yang menyamakan anak harus rata-rata kepandaian dan kepintarannya. Saya contohkan ketika di sekolah yang terpenting semua anak mendapatkan nilai di atas nilai 6. Ketika dirumah saya memang tidak ditekan untuk menjadi juara, tapi ayah saya pernah berkata “Nilai pelajaran itu yang penting tidak ada nilai merahnya ya sudah cukup”. Bahasa yang kalem seperti itu meski tidak menekan tapi tentu saja membuat saya kala itu belajar agar tidak mendapat nilai merah.

Akhirnya ketika memiliki anak pertama yang waktu itu sekolah tingkat SD kelas 1 & 2, saya juga masih mengharapkan anak saya tidak mendapatkan nilai merah. Ketika melihat nilai merah saya terpancing emosi sehingga membuat saya bekerja keras bagaimana caranya anak mau belajar lebih keras lagi.

Akhirnya alih-alih mencari buku cara meningkatkan kecerdasan anak, saya malah menemukan sebuah artikel yang menohok sekali.

“Semua anak cerdas!! Mereka lahir dengan kecerdasan masing-masing. Cerdas itu bukan hanya sebatas akademik saja. Kecerdasan itu ada banyak jenisnya.”

Yes. Baiklah tenang……
Anggapan saya selama ini salah. Target saya agar anak pintar dalam hal akademik saja itu salah besar. Anggapan saya bahwa anak cerdas adalah anak yang mendapatkan juara dikelas itu juga salah. Alhamdulillah seiring pemahaman saya mengenai kecerdasan anak, sekarang ini bila anak mendapatkan nilai kecil dari ujian di sekolahnya saya hanya tersenyum dan bertanya “Kakak, kakak bahagia nggak dapat nilai segini?”. Kalau jawabannya  bahagia, maka saya juga akan berkata “Ya, sudah yang penting kakak bahagia”. Bila jawabannya tidak, biasanya saya akan menasehati “Ya, lain kali belajar lagi trus lebih teliti dalam menjawab soal ujian ya”.
Mereka adalah bintang dimanapun mereka berada. Mereka adalah bintang bagi orang tuanya. Mereka adalah bintang bagi orang-orang disekitarnya. Pada materi kuliah bunda sayang kali ini mendapatkan penguatan bahwa “Semua Anak adalah Bintang”. Lagi-lagi cetar selalu untuk materi yang disajikan oleh Institut Ibu Profesional yang sudah berhasil membuka mata semua orang.

#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Senin, 18 Maret 2019

gunakan hak pilih dengan bijak


Aroma politik yang semakin panas di Indonesia semakin terasa di setiap lini kehidupan masyarakat. Kolaborasi pasangan capres dan cawapres tentu memiliki strategi tersendiri agar bisa memikat rakyat. Di satu sisi semakin berkobar semangat rakyat untuk mempertahankan yang sudah ada dan di sisi lain rakyat juga semangat menginginkan perubahan.

Pemilu sudah menjadi sebuah pesta yang penuh trik dan intrik yang tak dapat dihindari. Tapi apa pun itu semoga semuanya bisa sportif dalam bersaing secara sehat. Dengan niat yang baik memajukan bangsa Indonesia di mata dunia dan meningkatkan taraf kehidupan rakyat yang lebih baik.

Ayo semuanya jangan ragu-ragu untuk menggunakan hak pilihmu. Ingat bahwa satu suara saja akan sangat berarti. Pilihan rakyat akan berdampak 5 tahun ke depan. Ingat 17 April 2019 gunakan hak pilihmu. Mari tentukan pilihan!!!!! Jangan golput. Jadilah warga Negara yang baik. Yang selalu bisa memilih yang terbaik.

#Tantangan 5 kata : Kolaborasi, semangat, pemilu, maju, Indonesia
#Challenge ketiga


Gunakan hak pilihmu


Aroma politik yang semakin panas di Indonesia semakin terasa di setiap lini kehidupan masyarakat. Kolaborasi pasangan capres dan cawapres tentu memiliki strategi tersendiri agar bisa memikat rakyat. Di satu sisi semakin berkobar semangat rakyat untuk mempertahankan yang sudah ada dan di sisi lain rakyat juga semangat menginginkan perubahan.

Pemilu sudah menjadi sebuah pesta yang penuh trik dan intrik yang tak dapat dihindari. Tapi apa pun itu semoga semuanya bisa sportif dalam bersaing secara sehat. Dengan niat yang baik memajukan bangsa Indonesia di mata dunia dan meningkatkan taraf kehidupan rakyat yang lebih baik.

Ayo semuanya jangan ragu-ragu untuk menggunakan hak pilihmu. Ingat bahwa satu suara saja akan sangat berarti. Pilihan rakyat akan berdampak 5 tahun ke depan. Ingat 17 April 2019 gunakan hak pilihmu. Mari tentukan pilihan!!!!! Jangan golput. Jadilah warga Negara yang baik. Yang selalu bisa memilih yang terbaik.

#Tantangan 5 kata : Kolaborasi, semangat, pemilu, maju, Indonesia
#Challenge ketiga


Gunakan hak pilihmu


Aroma politik yang semakin panas di Indonesia semakin terasa di setiap lini kehidupan masyarakat. Kolaborasi pasangan capres dan cawapres tentu memiliki strategi tersendiri agar bisa memikat rakyat. Di satu sisi semakin berkobar semangat rakyat untuk mempertahankan yang sudah ada dan di sisi lain rakyat juga semangat menginginkan perubahan.

Pemilu sudah menjadi sebuah pesta yang penuh trik dan intrik yang tak dapat dihindari. Tapi apa pun itu semoga semuanya bisa sportif dalam bersaing secara sehat. Dengan niat yang baik memajukan bangsa Indonesia di mata dunia dan meningkatkan taraf kehidupan rakyat yang lebih baik.

Ayo semuanya jangan ragu-ragu untuk menggunakan hak pilihmu. Ingat bahwa satu suara saja akan sangat berarti. Pilihan rakyat akan berdampak 5 tahun ke depan. Ingat 17 April 2019 gunakan hak pilihmu. Mari tentukan pilihan!!!!! Jangan golput. Jadilah warga Negara yang baik. Yang selalu bisa memilih yang terbaik.

#Tantangan 5 kata : Kolaborasi, semangat, pemilu, maju, Indonesia
#Challenge ketiga


Kamis, 28 Februari 2019

Aliran Rasa Tantangan Stimulus Matematika Logic


Mata pelajaran matematika terkenal menjadi momok bagi sebagian besar pelajar. Tidak percaya silahkan tanyakan kepada para pelajar. Saya ingat ketika sekolah di tingkat SMA, diantara sekian pelajaran yang di-Ujian Nasional-kan nilai yang sangat susah digapai adalah matematika. Dan hampir rata-rata pelajar mendapatkan nilai matematika di bawah standar. Mau tau berapa nilainya? Nilai 4, 3 bahkan nilai 2 juga banyak. Padahal untuk mata pelajaran yang lainnya masih bisa dicapai dengan nilai 7 atau 8. Maka kalau nilai UN dapat angka 5 atau 6 itu sudah lumayan ya. Hal ini merupakan indikasi bahwa matematika merupakan mapel yang tidak mudah bagi mereka.

Bisa belum tentu senang. Senang bisa membuat bisa!
Terpikirkah kita bagaimana cara membuat anak-anak senang dengan matematika tanpa harus terbebani dengan bermacam-macam rumus? Andaikan mereka sudah merasa senang dengan matematika, saat duduk di bangku sekolah tentu lebih enjoy dalam mempelajarinya. Sehingga tidak merasa terpaksa hanya sekedar bisa tanpa menikmati dan happy.

Keren .....
Tantangan di kelas Bunda Sayang selalu keren. Karena membuat emak-emak jadi lebih membuka mata dan hatinya untuk menambah wawasan lebih luas

Sabtu, 23 Februari 2019

Stimulus Matematika Logis 10


Siang yang panas hari ini. Kipas terus berputar dengan sambil terkantuk-kantuk saya berusaha untuk membuka mata. Karena saya harus bangun dan menghadiri undangan salah satu kawan yang menikah.
“Eh, dik Anis. Jumlah jari kaki kanan Ummi ada berapa?” tanya Ummi mengingat masih ada tantangan yang tersisa dari game level 6 di kelas bunsay. Yes, saya mendapat ide untuk menstimulus matematika logis dengan cara menanyakan jumlah jari kaki kepada si bungsu.
“Ada 10 Mi.” Jawab si Bungsu.
“Loh kok 10, ini lho jari kaki Ummi yang kanan ada berapa?”, tanya Ummi.
“Ada 10 Ummi.” Jawabnya.
“Bener nich ada 10.” Kata Ummi.
“Iya 10 lah jari kaki.” Katanya.
“Tapi Ummi kan Cuma tanya yang kaki kanan. Kaki kirinya enggak.” Kata Ummi.
“Eh ada 5.” Katanya.
“Nah yang jari kaki kanan ada berapa?” tanya Ummi.
“Ada 5”, jawabnya.
“Kalo yang jari kaki kiri ada berapa?” tanya Ummi.
“5 juga”, jawabnya.
“Nah sekarang kalo Ummi tanya jari kanan ditambah jari kaki kiri berapa semuanya?” tanya Ummi.
“Sepuluhhhhhh”, jawabnya sambil tersenyum.
Tumben banget pertanyaan kali ini dijawab salah awalnya. Mungkin karena pertanyaan saya kurang pas. Karena membedakan ini kaki kanan dan satu lagi kaki kiri.


#Harike10
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 9


“Ummi gimana ini. Bantuin lah jawab soal try out.” Pinta anak pertama saya.
“Soal apa kak?” tanya Ummi.
“Soal matematika Mi. Soal pecahan. Cuman satu ini yang kakak belum bisa.” Katanya.
“Duh, Ummi lupa.” Kata Ummi.
“Tapi kan Ummi dulu juara 1 terus. Masak nggak bisa.” Lanjutnya.
“Ya, sudah lupa mau diapain. Kan Ummi juaranya sudah belasan tahun yang lalu...hehehe.” Kata Ummi.
Itu sekilas dialog saya dengan si kakak. Sebagai orang tua saya tetap berusaha dengan cara memfasilitasi agar mereka bisa belajar dengan baik. Meskipun untuk pelajaran tertentu saya tidak bisa mengajarkan sendiri. Dan saya juga tidak memasang target kepada mereka harus mendapat nilai sekian-sekian. Tinggi atau rendahnya nilai yang mereka dapatnya yang penting mereka sudah berusaha dan harus bisa legowo menerima apapun hasilnya.            


#Harike9
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Jumat, 22 Februari 2019

Stimulus Matematika Logis 8


Cerita hari ini berkaitan dengan kakak-kakak si bungsu. Kakak-kakak si Bungsu mereka ikut les sempoa sampai tingkat 5. Keduanya demo ke saya untuk cuti tidak les. Kakak yang pertama ingin cuti les karena pemantapan pelajaran untuk kelas 6, sedangkan yang kedua cuti karena capek.
                                                           
Sudah beberapa kali mereka minta libur tapi saya tidak mengijinkan. Baiklah kali ini saya mengijinkan dan saya akan menganalisa seperti apa perkembangannya. Hm, ternyata masih ada kangen juga dengan suasana les sempoa. Entah kenapa siang itu mereka berdua sangat rajin menyelesaikan soal-soal yang ada di buku latihan sempoa. Saya hanya bisa tersenyum. Toh sebenarnya untuk les sempoa ini tidak mengganggu pelajaran mereka. Hanya 2x seminggu pertemuannya.

#Harike8
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 7


Hari ini saya tidak banyak ngobrol dengan si bungsu karena si bungsu sedang asyik bermain dengan teman barunya. Ide terkadang bisa mampet ya. Tapi saya bersyukur secara pelan-pelan saya bisa menstimulus matematika logis untuk anak. Hal ini menurut saya penting. Intinya belajar dengan cara menyenangkan. Bukannya apa-apa. Kalau sudah tidak senang terhadap sesuatu kadang kita jadi tidak semangat untuk mempelajarinya.

Saya contohkan ketika sekolah di SMEA saya sangat tidak suka pelajaran “pelayanan prima” dan “ekonomi”. Alasannya karena cara mengajar gurunya yang ketika ujian jawaban kami harus sama persis dengan buku. Beda satu kata saja sudah berkurang nilainya. Sedangkan saya lebih suka memahami sebuah pelajaran kemudian menyampaikan dengan bahasa saya sendiri. Well, semoga anak-anak senang belajar segala sesuatu yang baik.

#Harike7
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 6


“Wah Ummi, kuenya banyak. Ummi beli dari mana tadi.” Pertanyaan si bungsu ketika melihat ada beberapa jenis kue di meja dapur.
“Ummi beli di Genta tadi sekalian beli buku.” Jawab Ummi.
“Adik mau kue yang warna-warni ini ya.” Katanya.
“Iya boleh, tapi Ummi juga mau dikit ya.” jawab Ummi.
Si Bungsu kemudian membagi secuil kue rainbow (kue warna-warni) yang dipegangnya. Saya memang hanya membeli 1 pcs. Potongan kue yang diberikan kepada saya yaitu ¼ bagian. Kemudian saya tidak menyangka si bungsu berinisiatif dengan mengatakan bahwa ia akan membagi ¼ kue untuk Rafif (saudara sepupunya), 1/4 lagi untuk Qanita (saudara sepupunya) dan ¼ lagi untuk dirinya sendiri.
“Enak Mi kuenya. Besok-besok beli lagi ya...”

#Harike6
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 5


Sudah larut malam si Bungsu belum mau tidur. Padahal kakak-kakaknya sudah tidur nyenyak. Jam dinding menunjukkan  jam 22.30 WIB.
“Dik, ayolah tidur.” Kata Ummi.
“Adik belum ngantuk Mi,” kata si Bungsu.
Memang hari ini si Bungsu tidur siang selama 2 jam lebih. Sayapun juga sedang asyik membaca. Jadilah dia membongkar mainan, menyusun, memasukkan kedalam tas, dan seterusnya.
“Ummi, ada plastik besar gak?,” tanya nya.
“Ada. Coba ambil di dapur itu dik, tempat plastik plastik.” Jawab Ummi.
Secepat kilat berdiri dan ke dapur mengambil plastik. Kantong plastik yang didapatnya mungkin tidak sesuai harapannya, sehingga dia masih bertanya adakah yang lebih besar dari  kantong plastik yang dipegangnya. Secara tak sengaja ada plastik di sela-sela buku-buku di kotak box.
Srettt.
“Ah plastik ini aja ya Mi. Eh ada isinya Mi. ,” katanya.
Memang itu adalah kantong plastik bekas belanjaan saya di minimarket. Agak besar ukurannya. Dan masih ada isinya bumbu dapur instan dan permen.
“Ada permennya Mi,” kata si bungsu.
“Berapa jumlah permennya?,” kata Ummi.
“Ada 3 Mi.” Jawabnya.
“Permen rasa apa saja?,” kata Ummi.
“Hm rasa... jeruk 2, strowberry 1.” Jawabnya.
“Ummi mau dong rasa jeruknya.” Kata Ummi.
“Ini Mi. Satu lagi untuk kakak ya Mi.” Katanya.
“Kakak, kakak, ini permen untuk kakak.” Teriaknya sambil lari ke kamar kakaknya. Padahal kakaknya sudah tidur nyenyak dari tadi.

#Harike5
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Stimulus Matematika Logis 4


Kegiatan setiap sore saya yaitu mengajar di Taman Pendidikan Al Qur’an. Si bungsu belum mau masuk kelas mengaji bersama kawan-kawan sebayanya. Ketika ditanya alasannya selalu karena mau mengaji sama Ummi. Akhirnya memang selalu mengekor di belakang saya ketika mengaji. Disaat saya duduk maka si bungsu duduk disamping saya. Apa yang dikerjakannya selalu ada saja. Mulai membongkar dan menyusun buku prestasi santri, menggambar, dan masih banyak lagi.
“Dik tolong hitung buku prestasi yang ini,” kata Ummi.
“Hitung ya Mi,” kata si Bungsu.
“Iya tolong hitung ya, berapa jumlahnya,” kata Ummi.
Sebenarnya saya tidak ingin benar-benar menghitung berapa jumlah buku tersebut. Saya hanya ingin memberi tantangan kepada si Bungsu apakah bisa menghitung dengan tepat atau tidak.
“ Satu, dua, tiga, ... tiga belas. Tiga belas Mi jumlahnya. “ teriak si Bungsu.
“Benarkah tiga belas. Coba Ummi cek.” Kata Ummi.
Ternyata benar bahwa jumlah buku yang saya sodorkan tadi berjumlah 13. Sebenarnya masih ada buku yang lain. Hanya saja masih terpakai. Tak apalah untuk hari ini belajar sekian saja.


#Harike4
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Thinklogic






Be Kreatif Mom and Kids 10

S enangnya melihat meja belajar terlihat rapi. Ada 2 meja belajar dirumah dan setiap meja disampingnya ada lemari tempat bukunya. Satu mej...