Kamis, 04 Oktober 2018

Melatih kemandirian anak day 2




Saya sempat tergoda untuk melatih kemandirian ke semua anak atau setiap hari bergantian. Tetapi sebuah pembiasaan itu butuh pengulangan. Apalagi bila itu sebuah kebiasaan yang baru maka butuh keistiqomahan agar terbentuk sebuah kebiasaan.
Melanjutkan untuk  tantangan melatih kemandirian. Tidak sengaja kemaren saat saya pulang setelah jemput adiknya si sulung  protes.
“Ummi, kakak tadi udah nunggu adik di sekolah lo”, kata si sulung.
“Mau ngapain kak.” Kata saya.
“Ya mau jemput adik lah. Ummi kan gak ada tadi dirumah. Kunci juga sama kakak.” Kata si sulung.
Nah ya ternyata diam-diam si sulung mulai perhatian kepada adiknya yang sekolah RA. Memang biasanya saya yang jemput. Tapi karena hari ini si sulung ujian mid semester dan bisa pulang cepat,  jadi bisa jemput memakai sepeda. Dan saya memutuskan agar si sulung bisa menggantikan saya menjemput adiknya. Love you anakku.


Melatih Kemandirian Anak Day 1 Level 2


Bismillah
Masuk ke tantangan level 2 kelas Bunda Sayang  perkuliahan Institut Ibu Profesional.
Materi Melatih Kemandirian.
Kali ini partner saya masih tetap si gadis cantik, si sulung. Yah sekaligus memperbaiki pola asuh yang dulu saya terapkan yang masih banyak sekali kekurangannya disana sini. Bisa jadi juga dialami oleh ibu-ibu yang lain. Anak pertama ibarat anak hasil percobaan. Karena itu pertama kalinya kita menjadi orang tua, dengan ilmu yang alakadarnya. Semoga kedepannya lebih baik lagi.
Hari ini hari kamis.
“Ummi, ummi kepasar lah”, kata si sulung.
“Ngapain kak ummi ke pasar?”, tanya ummi. Karena tumben si sulung berkata demikian.  Sebenarnya ummi agak curiga ini. Biasanya ada maunya minta dibelikan apa-apa. Seperti beberapa hari yang lalu karena minta dibelikan kaos dalam.
“ Pasar mana kak?”, lanjut ummi.
“Pasar kagetlah kan hari kamis.” Kata si sulung.
“Oh iya ya..... Hari kamis ada pasar kaget. Jadi ummi mesti beli apa ya?”, kata ummi memancing apa sebenarnya yang diinginkan si sulung.
“Itulah mi, beli udang rebon sama wortel. Stok bawang kan juga habis.” Kata si sulung.
“Beli udang rebon ya. Untuk apa. Kalau bawang memang iya stoknya habis. Lupa pula ya....”, jawab ummi.
“Kakak mau bikin bakwan mi. Nanti tepungnya dicampur sama udang rebon trus wortel juga. Enaakkkk”, kata si sulung.
Hm.....
Subhanallah.....
Ternyata si sulung lagi semangat nak bikin kue-kue bakwan. Memang beberapa hari yang lalu si sulung membeli tepung bakwan yang instan memakai uang jajannya sendiri. Baiklah nak ummi akan kepasar dan membelikan apa yang diperlukan untuk membuat bakwan. Hayyukkkkk.


Jumat, 28 September 2018

Aliran rasa materi Komunikasi Produktif



Apa yang dipikirkan bisa menjadi perkataan. Perkataan bisa menjadi perbuatan. Perbuatan bisa menjadi nasib kita. Memang lidah ini tak bertulang tapi apa yang keluar bisa bagai pedang. Bisa digunakan sesuai maunya yang punya lidah. Tajam bagai pedang. Saking tajamnya bisa membunuh seseorang. Bisa memastikan secara fisik maupun secara batin.
Hati-hati...
Iya hati-hatilah dalam berkata-kata. Mulailah atur pikiran menjadi pikiran yang positif. Agar apa yang keluar juga positif.
Anak bisa jadi cermin yang sempurna. Didikan dari berbagai karakter manusia disekitarnya. Terutama keluarga. Alhamdulillah dalam materi komunikasi produktif ini dengan gamenya berkomunikasi dengan salah satu anak, membuat saya lebih melihat dan menganalisa serta koreksi diri kekurangan seorang ibu. Banyak sekali yang saya rasakan.
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya

Saya mulai istiqomah untuk mengganti kata “masalah” dengan kata “tantangan”.  Karena saya tipe orang yang belajar sedikit praktekkan, bisa nya sedikit demi sedikit satu kata saya istiqomahkan. Bila sudah terbiasa baru ditambah dengan kata-kata yang lain.
KOMUNIKASI PRODUKTIF

Senin, 17 September 2018

Komunikasi Produktif Hari Kesebelas




Alhamdulillah lagi lagi saya berterima kasih ke Ibu Profesional yang sudah berbagi ilmu yang tak ternilai harganya. Hari ini walau hari ke sebelas, lewat dari tantangan 10 hari saya masih ingin tetap mengabadikan komunikasi produktif ku dengan si kakak. Saya ingin mengevaluasi adakah saya sudah melakukan yang terbaik atau belum.

Dan hasilnya sayalah memang yang harus banyak belajar. Apalagi sebagai seorang ibu, sayalah yang menjadi awal mula tonggak pendidikan itu. 

#hari11
#game level 1
#tantangan 10 hari
#komunikasi produktif
#institut ibu profesional


Minggu, 16 September 2018

Komunikasi Produktif Hari Kesepuluh




Hari ini saya mengantarkan anak-anak untuk les sempoa. Harusnya jam 9 sudah ready untuk belajar. Akan tetapi berhubung si adik main entah kemana dan harus dicariin terlebih dahulu jadilah agak molor jadwalnya.
“Ummi nanti jemput jam 11 ya?” kata si kakak. Saya agak ragu menjawabnya karena jam 11 bisa dipastikan saya masih dikampus. Kalaupun kegiatan kampus sudah selesai maka jam segitu saya masih di perjalanan. Karena jarak rumah dan kampus lumayan jauh. Sementara saya harus ke kampus sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai ketua BEM dikarenakan hari ini kampus mendapatkan musibah yaitu kebanjiran dan kemalingan.
“Ummi bener lo ya nanti jemput jam 11.” Tegas si kakak meminta kepastian dari saya. Dan saya tetap tidak menjawabnya. Akhirnya saya pun tidak memberitahukan kepada si kakak bahwa hari ini saya akan pergi ke kampus. Karena bila itu saya lakukan, akan mengubah mood nya untuk belajar. Belum lagi melihat alisnya yang makin berkerut.
Jam 11 lebih ada WA dari guru les nya. Dan saya minta tolong kepada guru les nya untuk mengantarkan ke rumah. Dulu biasanya si kakak pergi les mau dengan naik sepeda sendiri. Tapi sekarang mau nya di antar oleh umminya.
Sepertinya si kakak kecewa dengan saya karena suaranya hari ini agak tinggi dibanding biasanya. Dan saya harus berbicara dari hati ke hati agar hal ini tidak terulang lagi.


#hari9
#game level 1
#tantangan 10 hari
#komunikasi produktif
#institut ibu profesional


Jumat, 14 September 2018

Komunikasi Produktif Hari Kesembilan




“Adik anis bangun, adik bangun, itu ada upin ipin lewat di depan rumah kita lho.” Kata si sulung.
Si kecil langsung terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Langsung keluar rumah membuka pintu. Dan dia bertanya dimana upin ipin.
Sebenarnya saya ingin tertawa dengan cara kakaknya membangunkan si adik, akan tetapi saya tidak melakukan itu karena apa yang dilakukan kakak adalah sebuah kebohongan. Saya khawatir nanti adiknya tidak akan percaya kepada sang kakak dan kakak juga menjadi terbiasa bohong, meski tujuannya hanya sekedar membangunkan adik yang memang agak susah bangun pagi.
“Tak ada dik. Masak ada upin ipin diluar. Upin ipin adanya ya di tipi lah.” Kata si kakak.
“Aaaahhh, kakak bohong bohonglah.” Sahut si adik sambil tertawa karena termakan perkataan si kakak.
“Kakak kok bohongin adik. Mana boleh seperti itu.” Kata Ummi.
“Habisnya adik tak mau bangun, padahal mesti bangun ntar sekolah terlambat” jawab si kakak.

Ok. Sepertinya saya akan membahas masalah ini dalam forum family nanti malam.

#hari9
#game level 1
#tantangan 10 hari
#komunikasi produktif
#institut ibu profesional


Komunikasi Produktif Hari Kedelapan




Tak ada benar dan salah dalam mengerjakan Nice Homework yang ada di Perkuliahan Ibu Profesional. Yang ada adalah proses dalam mengerjakan NHW dan menceritakan hasilnya. Sesudah dijalani kemudian diceritakan kembali agar ada evaluasi dan perenungan. Kemudian perubahan ke arah yang lebih baik.

 Hari ini saya meminta tolong kepada si sulung untuk memasak dengan panduan dari saya. Si sulung tidak mau makan lauk ikan dan daging, maunya ayam. Baiklah kita masak bareng ya..... lebih tepatnya saya hanya memberi komando apa-apa yang harus disiapkan dan dilakukan. Si sulung yang mengerjakan dan dengan rasa bahagia dia makan hasil karyanya. Tarraaa...ayam kecap.

Saya berusaha memberikan kepercayaan terhadap si sulung untuk melakukan sesuatu yang menunjukkan “ini loh kamu bisa”.


#hari8
#game level 1
#tantangan 10 hari
#komunikasi produktif
#institut ibu profesional


  SYAIR “SIFATUL HURUF”   JAHR lawan HAMS SYIDDAH lawan RIKHWAH BAINIYYAH di antaranya ISTI'LA, ISTIFAL ITHBAQ dan INFITAH Sif...